Jika ditanya tentang review Suzume dalam satu kalimat, penulis akan menjawab, “Lebih bagus dari Tenki no Ko, tetapi tidak sebagus Kimi no Nawa.”
Setelah sukses dengan Tenki no Ko dan utamanya Kimi no Nawa, Shinkai Makoto kini kembali dengan film dengan unsur bencana, Suzume. Suzume atau yang di Jepang berjudul Suzume no Tojimari adalah film Shinkai Makoto yang tayang di Jepang sejak November 2022 lalu.
Film ini terbukti laris manis. Tak hanya di negara asalnya, tetapi di Indonesia, Suzume kini telah ditonton sebanyak lebih dari 400.000 penonton. Kendati penulis mengatakan tak sebagus Kimi no Nawa, tetap ada bumbu-bumbu yang membuat Suzume berkesan. Lantas, seperti apakah film Suzume ini. Simak review Suzume berikut ini!
SPOILER ALERT
Sinopsis Suzume

Iwato Suzume tidak bisa menahan rasa penasarannya mengenai seorang lelaki yang berpapasan dengannya dalam perjalanan menuju sekolah. Bukan hanya karena Suzume seakan pernah bertemu dengannya, tetapi pertanyaan lelaki itu yang mencari reruntuhan membuat Suzume penasaran.
Reruntuhan yang dimaksud pasti “itu”. Hanya ada satu reruntuhan di Miyazaki. Maka, Suzume pun melupakan sekolahnya dan menuju reruntuhan itu. Namun, yang menantinya di sana adalah keanehan serta … lelaki itu.
Dalam sekejap, Suzume mengetahui sisi lain Jepang yang misterius dan magis. Kenyataan di balik bencana Jepang selama ini. Namun, semua itu punya harga. Dan setelah Suzume mengacaukan segalanya, dia harus mengembalikan Jepang ke dalam tatanan harmonisnya semula.
Review Suzume: Aksi Tanpa Henti

Berbeda dengan dua film sebelumnya, alur kisah dari film Suzume no Tojimari secara keseluruhan berupa perjalanan Suzume ke Tokyo yang penuh dengan aksi nyaris nonstop. Intensitasnya pun terus meningkat hingga ke puncak konflik seakan tidak ingin penonton lengah sedikit saja.
Akan tetapi, jangan khawatir karena kita tetap diberi waktu untuk “bernapas” dengan kehadiran tokoh-tokoh sampingan yang beragam. Dari perjuangan Suzume menutup pintu bianglala yang mendadak berputar hingga mengunjungi dunia tempat orang yang telah meninggal.
Tentunya, ini membuat mantra Souta terasa ikonik, terutama saat ucapan, “Kukembalikan kepada kalian” telah digaungkan untuk menutup pintu.
Grafis yang Menawan

Seperti yang telah kita semua ketahui, studio CoMix Wave Films tidak pernah bosan membuat terpesona. Kesan fantasi yang lebih kuat juga menjadi ajang bagi film ini untuk mengekplorasi hal-hal baru yang belum pernah ditemukan penonton di film sebelumnya.
Dari pintu Miyazaki, di tengah reruntuhan genangan nan apik, hingga “Ever-After” tempat berbagai waktu melebur menjadi satu. Selain itu, meski agak mengerikan dengan cara unik adalah cacing yang siap memangsa Jepang, utamanya cacing terbesar yang nyaris melahap Tokyo.
Sekali Lagi, Film Garapan Makoto Shinkai Berikan Lagu-Lagu yang Indah

Seperti biasa, film Shinkai Makoto tidak pernah absen dari lagu yang memanjakan telinga. Favorit saya sendiri adalah lagu KANATA HALUKA yang lirik dan maknanya cukup menyentuh. Selain itu, denting berbagai instrumental turut mewarnai adegan demi adegan.
Namun, berbeda dengan Tenki no Ko dan Kimi no Nawa yang lagu ikoniknya muncul di tengah adegan untuk memperkuat suasana. Dalam Suzume, lagunya tampil saat adegan telah relatif “stabil” sehingga tidak memberi efek sekuat film-film sebelumnya.
Meski demikian, yang seru adalah diputarnya lagu-lagu lama saat Suzume, Tamaki, dan Serizawa dalam perjalanan ke Tokyo.
Review film Suzume no Tojimari: Penceritaan yang Kurang Digali

Dalam film Suzume no Tojimari, Shinkai Makoto membuat mitologi sendiri untuk menjelaskan sebab bencana alam di Jepang, terutama gempa bumi. Namun, menurut penulis, hal ini kurang digali lebih dalam.
Mengapa hanya ada satu Penutup yang bertugas mencegah lolosnya cacing besar di Tokyo yang notabene sangat mengkhawatirkan? Kemana perginya ‘Penutup-Penutup’ lainnya? Lalu tentang Daijin dan Sadaijin, penulis merasa masih banyak hal yang misterius dari keduanya.
Ada pula satu titik ketika penulis merasa bosan menonton Suzume. Jadi, mereka intinya menutup pintu-pintu saja sampai menemukan Daijin? Tidak ada masalah utama, kemanakah inti dari seluruhnya? Namun, makin ke tengah film, barulah saya menemukan masalah utama dari film Suzume no Tojimari yang saya review kali ini.
Meski Miliki Ending Manis, Interaksi Karakter Masih Minim

Iwato Suzume menyukai Munakata Souta dan dia rela mengikuti mahasiswa itu ke Ever After demi menyelamatkannya. Akan tetapi, rasa suka ini terbentuk dari interaksi kecil-kecilan yang lebih cocok berkembang menjadi hubungan rekan, lebih-lebih teman akrab.
Suzume seolah gadis remaja yang belum pernah berinteraksi dengan laki-laki. Jadi, begitu dia menghabiskan banyak waktu dengan laki-laki, dia seketika jatuh cinta. Dibandingkan Kimi no Nawa dan Tenki no Ko yang menghadirkan perkembangan romansa, film Suzume no Tojimari bisa dibilang agak terkalahkan dan melempem.
Namun, sisi baiknya, Suzume siap bertanggung jawab menggantikan Souta sebagai Batu Kunci jika hal terburuk terjadi. Bekebalikan dengan Morishima Hodaka yang rela melakukan apa saja demi bisa bersama dengan Amano Hina.
Demikianlah review dari film Suzume no Tojimari. Film ini cocok ditonton oleh NawaReaders yang ingin menjajal adegan aksi karya sang maestro Shinkai Makoto.