Jasa Pacar Virtual, Sekadar Pemuas Kebutuhan atau Ancaman?

Jasa pacar virtual tentu saja menawarkan kepuasan emosional. Namun ada juga dampak yang mengintai bagi pelanggannya.

Wahyu Nurramadan Widayanto
Jasa Sewa Pacar Virtual
Ilustrasi: Jasa Sewa Pacar secara virtual mampu memberikan masalah ketergantungan bagi penggunanya di masa depan | EDIT: Nawala Karsa

Jasa sewa pacar secara virtual saat ini semakin merebak dan kian mudah kita temui. Keberadaan media sosial menjadi alasan usaha ini bisa terus berkembang. Bahkan, beberapa waktu terakhir, penulis sempat menemukan beberapa usaha sejenis yang baru saja mulai beroperasi melalui media sosial.

Terkait terus bertambahnya usaha penyewaan pasangan, Penulis sempat melakukan wawancara dengan Altha, pemilik usaha Urvirtual. Needs, jasa penyewaan pasangan yang bergerak secara daring. Artikel ini akan membahas bagaimana usaha ini dari sudut pandang penyedia jasa, serta tanggapan beberapa pihak mengenai usaha ini.

Mengenal Urvirtual. Needs, Penyedia Jasa Pasangan Virtual

Pandemi COVID-19 memang menimbulkan banyak permasalahan, terlebih dalam sektor ekonomi, karena tidak sedikit usaha masyarakat yang terpaksa harus gulung tikar. Namun, kondisi tersebut juga membuahkan berkah bagi beberapa pihak lain, karena menjadi momen untuk memulai usaha baru, termasuk Urvirtual.Needs.

Berawal dari kondisi pembatasan saat pandemi, menyebabkan Altha banyak menghabiskan waktu untuk nongkrong secara virtual, baik melalui discord atau pun game. Kondisi ini lambat laun juga mengenalkan Altha pada virtual relationship.

Namun, hubungan semacam itu justru membuat Altha lebih sering merasa sedih dan galau, apalagi tidak ada feedback yang dia terima. Berawal dari hal tersebut, Altha akhirnya memutuskan untuk mencoba membuat jasa sleep call. Terlebih, saat itu ada juga jasa serupa yang sempat Altha temukan. Rencana tersebut akhirnya tidak sekedar wacana saja, karena akhirnya Urvirtual.Needs bisa hadir dan memberikan jasanya kepada banyak orang.

Sebagai sebuah jasa, Urvirtual.Needs menawarkan pelbagai jasa yang cukup menarik, seperti sleep call, alarm, call, cerita, chatting, hingga partner virtual. Bahkan, ada juga layanan nge-game bareng. Mungkin dari beberapa layanan yang tersedia tersebut, akan membuat beberapa orang sedikit menyeritkan dahi dan berpikir siapa orang yang mau menggunakan layanan seperti ini.

Kriteria Pasangan yang Diinginkan Customer

Peminat jasa pacar virtual nyatanya cukup banyak. Altha menceritakan kepada Nawala Karsa, bahwa Urvirtual.Needs cukup diminati masyarakat. Hal ini terlihat dari pendapatan yang mereka terima. “Bisa dibilang hasil dari usaha ini bisa digunakan untuk jajan sehari-hari dan beli kuota”, ujar Altha, terkait pendapatan yang dia terima dari usaha ini.

Selain itu, untuk pelanggan untuk sewa pacar virtual ini, ada beberapa karakteristik pasangan yang diinginkan oleh penyewa jasa. Menurut Altha, customer perempuan biasanya mencari pasangan yang senang bermain game dan menyanyi. Untuk laki-laki, mereka mencari perempuan yang asik untuk menjadi rekan cerita dan berbincang.

Pelanggan Urvirtual.Needs bukan hanya berasal dari kalangan mahasiswa saja, karena ada juga beberapa customer yang usianya sudah cukup dewasa atau lebih dari 27 tahun. Untuk golongan customer ini, mereka cenderung mencari pasangan yang bisa menjadi rekan bertukar pikiran dan tempat untuk menceritakan masalah yang mereka miliki.

Untuk layanan yang Urvirtual.Needs sediakan, hampir semuanya memiliki peminatnya masing-masing. Meskipun demikian, layanan ini sedikit berbeda dengan beberapa jasa sejenis lainnya. Perbedaan tersebut terletak pada seluruh layanan tersedia secara virtual saja, bukan secara offline. Mengenai hal ini, menurut Altha, pertimbangannya adalah faktor keamanan dan privasi para talent.

Tanggapan Dosen Psikologi hingga Psikolog Mengenai Layanan Pacar Virtual

Jasa Sewa Pacar Virtual Dosen Psikologi Universitas Bosowa M. Fitrah Umar Psikolog Klinis Yunita Trisna Dewi
Dosen Psikologi Universitas Bosowa, M. Fitrah Umar (Kiri) dan Psikolog Klinis, Yunita Trisna Dewi (Kanan) | FOTO: Nawala Karsa/Wahyu Nurramadan

Terkait adanya usaha Urvirtual.Needs dan beberapa usaha lainnya sejenis, Nawala Karsa mengumpulkan tanggapan dari beberapa pihak mengenai usaha semacam ini. Salah satu yang turut memberikan komentarnya adalah Psikolog Klinis asal Bali, Yunita Trisna Dewi.

Kepada Nawala Karsa, Yunita menyampaikan pendapatnya mengenai usaha ini. “Saya kurang tahu terkait sejarahnya, tapi menurut saya keberadaan jasa penyewaan pasangan ini muncul dengan pelbagai alasan. Salah satunya ada kebutuhan seseorang untuk punya pendamping yang bisa menemani saat acara tertentu, seperti wisuda, kondangan, atau bertemu keluarga besar. Kemudian mungkin karena banyak peminatnya, jadi layanan ini semakin meluas, bukan hanya mendampingi saat acara tertentu saja”, ujar Yunita.

Selain itu, ada beberapa faktor yang menyebabkan layanan ini memiliki banyak peminat. Menurut Yunita, ada juga kondisi saat seseorang menyandang status single menghadapi banyak pertanyaan kapan akan memiliki pasangan. Hal ini juga bisa menjadi salah satu faktor yang menyebabkan seseorang berpikir untuk menggunakan layanan ini, sehingga bisa menghadapi tekanan dari lingkungan sosialnya.

Selanjutnya, bisa juga karena seseorang merasa minder dan malu, karena teman-temannya sudah memiliki pasangan. Orang tersebut tentunya juga ingin merasakan hal yang sama dan menunjukkan kepada teman-temannya tersebut.

Untuk faktor lain adalah promosi dari penyedia layanan yang menarik. Mengenai hal ini, seringkali dalam promosi, penyedia layanan menjanjikan jasa menemani bercerita, istirahat, dll. Pada satu sisi, manusia tentunya butuh untuk terhubung dengan orang lain, mendapatkan perhatian dan sebaliknya. Hal inilah yang menjadikan jasa ini bisa memenuhi kebutuhannya tersebut.

Layanan Menguntungkan dengan Bahaya Ketergantungan yang Mengintai

Terkait layanan jasa sewa pacar virtual ini menguntungkan atau tidak, menurut Yunita, hal ini tergantung pada penyewanya, karena dirinya lah yang merasakan. Apalagi, jika pihak penyewa merasa kebutuhannya bisa terpenuhi melalui layanan ini, tentu layanan ini merupakan suatu hal yang menguntungkan.

Meskipun terlihat menguntungkan, tentu saja ada dampak dari layanan ini. Menurut Yunita, dampaknya bisa berupa rasa sedih dan kecewa, karena setelah sebelumnya kebutuhannya terpenuhi, namun saat masa sewa habis, tentunya kebutuhan tersebut tidak dapat terpenuhi lagi. Kecuali orang tersebut kembali menyewa dan hal itu tentunya membutuhkan biaya.

Apakah hal ini bisa menimbulkan ketergantungan? Menurut Yunita Iya karena kesepian terkadang cukup sulit untuk diatasi dan berisiko menimbulkan ketergantungan dalam menggunakan layanan ini. Jika sudah seperti itu, Yunita menyarankan untuk datang ke psikolog atau pun psikiater, untuk menyelesaikan permasalahan ini.

Terkait ketergantungan karena menyewa pasangan, hal ini juga mendapat pembenaran dari M. Fitrah Umar, Dosen Psikologi asal Universitas Bosowa. Menurut Umar, sekali mencoba dan merasa suka, hal ini bisa menimbulkan rasa ketergantungan, yang akhirnya menyebabkan seseorang menyewa terus menerus.

Mengenai hal ini, Umar berpendapat bahwa daripada menyewa pasangan, lebih baik berusaha mencari pasangan sesungguhnya. Mungkin memang tidak mudah, tapi itu masih lebih baik dari pada hidup dalam kepura-puraan. Termasuk berpura-pura memiliki pasangan.