Salah Kirim, Dana Bantuan COVID-19 di Jepang Nyasar ke Orang Lain

Kesalahan administrasi alias salah transfer membuat orang ini mendapat dana yang seharusnya disalurkan ke ratusan rumah di Jepang.

Adi Styadi
dana bantuan covid
Great Pretender / WIT Studio

Sebagai salah satu negara yang memberlakukan aturan lockdown, Jepang mengirimkan dana bantuan COVID-19 untuk menunjang kehidupan warga yang kurang mampu.

Pemerintah pastinya berharap orang-orang yang terpengaruh situasi pandemi itu tetap bisa memenuhi kebutuhan, sehingga tidak ada hal buruk yang terjadi.

Sayangnya, sebuah kesalahan administrasi membuat puluhan juta dana bantuan tersebut justru tersesat ke rekening satu orang.

Uang Bantuan COVID-19 dari Pemerintah Jepang Nyasar ke Orang Lain

Hal ini terjadi di kota Abu, prefektur Yamaguchi, Jepang. Uang sebesar 46,3 juta Yen, atau setara dengan 5 miliar Rupiah malah nyasar ke rekening seorang pemuda alih-alih 463 kepala keluarga. Penyebab kesalahan tersebut bermula dari petugas kota yang mengirimkan data penerima bantuan.

Nama pelaku terdapat di nomor paling atas dalam daftar penerima dana bantuan COVID-19 dan menurut TYS News, ada format sedemikian rupa yang membuat pihak bank berpikir kalau mereka harus menyalurkan dana ke orang itu terlebih dahulu.

Dana bantuan COVID-19 tersebut kemudian cair bulan lalu (8/4). Dan Pelaku sedikit demi sedikit memindahkan uang tersebut tiap hari selama dua minggu.

Ketika ia diselidiki, pelaku mengatakan bahwa “Uang tersebut tidak bisa ia kembalikan”, dan “Akan membayar untuk perbuatannya.”

Pelaku Menghilang Setelah Tuntutan Dilayangkan

dana bantuan covid
Mayor Hanada dan anggota pemerintah kota Abe (TYS News)

Walau begitu, janji tinggal janji. Setelah pemerintah melayangkan tuntutan terkait dana bantuan COVID-19 tersebut pada Kamis (12/5) lalu, pelaku sudah menghilang. FNN Prime Online menyebut bahwa pelaku telah mengosongkan rekening bank miliknya, berhenti bekerja, dan pindah entah kemana.

Pada Jumat (22/4) bulan lalu, walikota Abu, Norihiko Hanada menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini. Pemerintah kota kemudian melanjutkan pembagian dana bantuan COVID-19 sebesar seratus ribu Yen untuk tiap kepala keluarga yang sudah terdaftar.

Pelaku sendiri sebenarnya bukan penduduk asli sana, dan hanya orang yang mengikuti suatu program repopulasi daerah rural. Untuk saat ini, keberadaannya belum bisa dipastikan, namun bisa saja kepolisian Jepang memburunya lewat CCTV.

Tuntutan kepada pelaku akan berlangsung selama sepuluh tahun. Jika hingga 2032 pembawa dana ini tidak kunjung tertangkap, bisa jadi puluhan juta tersebut tidak akan bisa kembali lagi.

Peristiwa raibnya dana bantuan COVID-19 ini mendapat perhatian besar dari netizen Jepang. Banyak komentar yang menyayangkan kesalahan pemerintah, dan menanyakan keberadaan pelaku tersebut.