Kilas Balik Anime: When Marnie Was There dari Studio Ghibli

Avatar
When Marnie Was There
Copyright: Studio Ghibli

Wapemred Nawala Karsa membahas kembali film anime When Marnie Was There buatan Studio Ghibli dalam 1000 kata.


Dalam laporan Kesenjangan Gender dari World Economic Forum’s pada tahun 2018. Jepang berada di peringkat 110 dari 149 negara dengan peringkat yang rendah dalam partisipasi ekonomi dan pemberdayaan politik untuk perempuan.

Rendahnya angka tersebut dikarenakan kaum perempuan di Jepang masih terkekang dalam kultur masyarakat tradisional yang menomorduakan mereka. Kultur masyarakat tradisional Jepang tidak hanya memengaruhi orientasi perempuan dalam anggapan hanya harus melakukan pekerjaan domestik seperti urusan rumah tangga: yakni dapur, sumur dan kasur saja. Tetapi juga berpengaruh besar terhadap keputusan dan kebebasan perempuan dalam memilih jalan hidup mereka sendiri.

https://www.youtube.com/watch?v=jjmrxqcQdYg

Hal itu terjadi karena adanya kultur tradisional Jepang yang mendomestifikasi perempuan hanya dibebani dalam hal urusan rumah tangga saja. Sehingga untuk urusan pekerjaan dan lainnya diberikan kepada laki-laki. Akhirnya karena anggapan tersebut masih dipercaya oleh masyarakat Jepang, perempuan pun masih termarjinalkan dalam kebebasan mereka dalam menentukan pilihan hidup, dan terkekang oleh konstruksi kultur sosial yang terdapat di sana.

Kultur tradisional yang menomorduakan perempuan seperti itu pun berusaha dikritik agar bisa memberikan kebebasan bagi perempuan Jepang dalam memilih jalan hidupnya sendiri. Sebagai contohnya, dari apa yang dilakukan oleh Studio Ghibli dalam film anime When Marnie Was There yang telah dirils pada tahun 2014 lalu.

When Marnie Was There: Tentang Bagaimana Perempuan Juga Mampu Berdikari

When Marnie Was There
Copyright: Studio Ghibli

Sasaki Anna dari awal sudah merasa terisolasi dari lingkungannya. Anna yang memiliki sifat kasar, pendiam serta acuh tak acuh tentu sudah pasti akan terasingi oleh teman-teman di sekolahnya.

Sikapnya yang seperti itu muncul karena latar belakang Anna yang tragis. Kedua orang tuanya meninggal dunia karena kecelakaan saat dia masih bayi. Neneknya pun mengurusnya, menggantikan peran kedua orang tuanya yang telah meninggalkan Anna. Tetapi, tak lama berselang neneknya juga menghadap Sang Pencipta karena sakit yang dideritanya.

Anna pun diasuh oleh keluarga Yoriko, keluarga kecil yang tidak mempunyai anak, sehingga memutuskan untuk mengasuh Anna karena mendapatkan permohonan resmi dari pemerintah.

Pada awalnya Anna tumbuh sebagai anak yang ceria dan murah senyum. Namun, dirinya berubah semenjak Anna menemukan surat permohonan pemerintah untuk mengasuh Anna yang di dalamnya terdapat kesepakatan bahwa keluarga Yoriko akan mendapat tunjangan selama mereka mengasuh Anna.

Anna menganggap bahwa keluarga Yoriko tidak sepenuh hati mengurus dirinya, dan menganggap mereka mengurus Anna hanya karena mendapatkan tunjangan dari pemerintah. Dengan segenap keruwetan dan tragisnya hidup Anna di umurnya yang masih belia. Anna pun mengutuk dirinya sendiri serta orang-orang di sekitarnya yang menyebabkan dirinya harus mengalami kenelangsaan seperti itu.

Bertemu dengan Marnie

Copyright: Studio Ghibli

Selain sekelebat masalah yang mengikat Anna, dirinya juga semakin tersiksa semenjak penyakit asma muncul menggerogoti dirinya. Penyakit pernapasan itu yang Anna punyai pun kian hari menjadi parah. Sehingga dokter yang mengurusnya memberikan saran untuk Anna agar tinggal sementara di daerah yang mempunyai lingkungan asri dan udara yang segar.

Yoriko, orang tua angkat Anna menyetujuinya dan menitipkan Anna kepada keluarga Oiwa yang tinggal di pedesaan Kushiro. Pertama kali menjajakan kaki di desa Kushiro, Anna merasa asing, tidak nyaman dan gelisah. Singkat cerita, saat berjalan mengitari desa, Anna melihat sebuah rumah tua tak berpenghuni yang berada di atas rawa.

Anna merasakan bahwa rumah tersebut tidak begitu asing baginya, dan seakan ada relasi yang kuat antara dirinya dengan rumah tua itu. Saat Anna mengunjungi rumah tua tersebut, dirinya bertemu Marnie. Seorang gadis misterius yang datang untuk menyelamatkan Anna dari keterpurukannya dengan saling berbagi kesedihan.

Anna tidak mengetahui siapa sosok Marnie tapi merasa mengetahuinya, sedang Marnie mengenal dan mengetahui sosok Anna. Mereka berdua pun serasa mempunyai kedekatan emosional yang dalam sehingga Anna dan Marnie pun saling mampu menjadi tempat bersandar dari masing-masing permasalahan yang mereka hadapi.

Kepahitan yang Tragis dalam When Marnie Was There

When Marnie Was There
Copyright: Studio Ghibli

Gambaran kepahitan yang tragis terekam jelas dari karakter Anna maupun Marnie yang mempunyai kesamaan dalam menjalani hidup yang nelangsa sejak kecil. Selain Anna, Marnie juga mempunyai permasalahan keluarga dan nasib buruk yang menimpanya selama dia hidup.

Orang tua Marnie yang gila kerja menelantarkan Marnie semenjak dia masih kecil dan hanya pulang selama setahun sekali. Marnie pun dititipkan kepada suster dan pembantunya yang kerap kali menjahili serta menyiksanya dengan perlakuan yang tidak manusiawi.

Permasalahan Marnie tidak hanya berhenti terhadap sosok Marnie kecil. Tetapi sekelebat masalah itu juga muncul menimpa Marnie ke depannya. Seperti kehilangan Kazuhiko, suaminya yang menyelatkan Marnie dari keterpurukan sekaligus satu-satunya orang yang dicintainya. Kehilangan Kazuhiko membuat Marnie harus mendapatkan perawatan khusus di Sanatorium yang menyebabkan Marnie harus menitipkan Emily, anaknya bersama mendiang Kazuhiko di sebuah asrama.

Penderitaan Marnie tidak berhenti sampai situ saja. Emily, anak semata wayangnya mulai membenci Marnie karena perbuatannya yang menitipkan dirinya di asrama sehingga tidak mendapatkan kasih sayang orang tua. Karena hal tersebut, Emily yang saat itu tengah mengandung memutuskan untuk meninggalkan Marnie dan memilih pergi bersama kekasihnya.

Namun naas, beberapa bulan berlalu, Marnie mendapat kabar duka bahwa Emily dan kekasihnya tewas karena kecelakaan lalu lintas. Emily meninggalkan anak semata wayang yang akhirnya hak asuh dari anak tersebut dipegang oleh Marnie. Marnie pun bersumpah bahwa dirinya akan mengurus dengan baik cucunya itu sampai akhir hayat menjemputnya.

When Marnie Was There sebagai Kritik atas Penilaian Perempuan dalam Kultur Tradisional Jepang

Copyright: Studio Ghibli

Dalam film ini, Ghibli tetap menonjolkan ciri khasnya: membawa unsur cerita fantasi dengan grafis yang apik, sekaligus menyentil melalui kritik atas keadaan sosio-masyarakat yang terjadi saat ini.

Sosok Marnie dan Anna yang mampu melewati masa hidup tragisnya dalam film ini digambarkan sebagai sosok perempuan tangguh: yang tetap kuat berdiri walau cobaan silih berganti menghampiri mereka.

Beribu cobaan dan kesakitan yang ditimpa Marnie, tetapi dia tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak menyerah dan terus menjalani hidup dengan tegar walau telah ditinggal oleh orang tuanya, suaminya hingga anak semata wayangnya.

Begitu pun dengan Anna yang hampir sama seperti Marnie mendapatkan cobaan serupa di masa belianya. Orang tuanya meninggal dunia, punya penyakit asma yang menyertainya, lalu terisolasi dari lingkungannya. Tapi walau demikian, sosok Marnie dan Anna tidak digambarkan sebagai perempuan yang lemah seperti anggapan kolot masyarakat. Melainkan sosok yang tangguh, mampu bertahan serta mempunyai pendirian yang kuat.

Sosok perempuan yang kuat dan bukan sekadar pelengkap dari kaum laki-laki menjadi nilai penting dari film ini. Ghibli seakan membuat sebuah paradoks dari kultur tradisional Jepang yang menanamkan paham bahwa perempuan hanyalah sebagai pelengkap laki-laki serta harus berurusan dengan urusan domestik saja, sehingga relasi kuasa itu yang membuat perempuan tidak mampu mendapatkan kesempatan dalam menentukan pilihan.

Sosok perempuan yang merdeka dalam berpikir serta berdikari dalam bersikap sangat kental dan jelas ditonjolkan oleh Sutradara Hiromasa Yonebayashi dalam film When Marnie Was There. Sehingga pesan tersebut seakan mematahkan kultur tradisional Jepang melalui satu poin penting yakni: perempuan juga setara dengan laki-laki dan berhak mengambil keputusannya sendiri.