BPS Ungkap Angka Kemiskinan Masyarakat di Jawa Timur Menurun Selama Tahun 2022

BPS mengungkapkan bahwa angka kemiskinan masyarakat Jawa Timur terus menurun, kira-kira sejauh apa ya penurunannya?

Kemiskinan Jawa Timur
FOTO: Pikiran Rakyat

Pada Jumat (15/7) kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur merilis beberapa informasi terbaru mengenai kemiskinan pada wilayah jawa Timur. Rilisan ini berdasarkan data yang mereka dapatkan pada Bulan Maret 2022.

Terkait rilisan terbaru mereka, BPS Jawa Timur bukan hanya menunjukkan bagaimana tingkat kemiskinan masyarakat wilayah Jawa Timur, namun apa saja faktor yang mempengaruhinya. Selain itu, ketimpangan antara penduduk juga mereka bahas dalam rilisan tersebut.

Tingkat Kemiskinan Masyarakat Jawa Timur

Statistik kemiskinan masyarakat Jawa Timur
FOTO: BPS Jawa Timur

Dalam mengukur tingkat kemiskinan masyarakat Jawa Timur, BPS menggunakan konsep kebutuhan dasar.

Dengan menggunakan pendekatan ini, kemiskinan dapat dipandang sebagai ketidakmampuan seorang individu dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Baik itu kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan.

Yang termasuk dalam kategori masyarakat miskin menurut BPS adalah masyarakat yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.

Metode seperti ini sebenarnya bukanlah hal yang baru bagi BPS untuk mengukur tingkat kemiskinan. Sejak tahun 1998, mereka konsisten menggunakan metode ini, dari waktu ke waktu.

Pada Maret 2022, persentase penduduk miskin wilayah Jawa Timur mencapai angka 10.38 persen. Meskipun mungkin terlihat cukup besar, angka tersebut sebenarnya sudah mengalami penurunan sekitar 0.21 persen, sejak September 2021.

Untuk jumlahnya, angka 10.38 persen tersebut kira-kira setara dengan 4,18 juta jiwa. Untuk tingkat penurunan sejak September 2021, jumlahnya berada pada kisaran 78,3 ribu juta jiwa.

Sebagai tambahan informasi, sejak September 2021, persentase penurunan angka penduduk miskin Sebagian besar terjadi pada wilayah perkotaan. Untuk penurunan angka penduduk sangat miskin, Sebagian besar terjadi pada wiayah pedesaan.

Meskipun dua kategori tersebut mengalami penurunan, untuk kategori penduduk hampir miskin justru mengalami peningkatan jumlah. Untuk kategori ini, peningkatan tersebut terjadi pada masyarakat yang tinggal pada wilayah kota dan desa.

Ada Banyak Faktor yang Mempengaruhi

Faktor pengaruh tingkat kemiskinan jawa timur
FOTO: BPS Jawa Timur

Dengan terjadinya perubahan tingkat kemiskinan pada masyarakat kota dan desa tersebut, sebenarnya apa sih penyebabnya? Menurut BPS, ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat kemiskinan masyarakat Jawa Timur pada tahun ini.

Peningkatan aktivitas pasca pelbagai pembatasan yang terjadi akibat COVID-19 menjadi salah satunya. Pada Maret 2022, aktivitas masyarakat sudah mulai pulih dan berpengaruh pada beberapa lokasi.

Kunjungan masyarakat pada pusat perbelanjaan meningkat hingga 29.9 persen, taman 25.42 persen, perkantoran 11.13 persen, dan perdagangan serta rekreasi meningkat hingga 8.39 persen.

Peningkatan aktivitas masyarakat Jatim ini tentunya mempengaruhi tingkat perekonomian mereka, sehingga angka persentase kemiskinan jadi sedikit berkurang. Bukan hanya itu, BPS juga mengungkap faktor lain yang dianggap mempengaruhi tingkat kemiskinan masyarakat.

Beberapa faktor tersebut seperti angka inflasi periode Maret 2022 terhadap September 2021 mencapai 2.46 persen. Inflasi ini terjadi pada beberapa komoditi, seperti makanan, minuman, dan tembakau yang mencapai 5.42 persen, pakaian dan alas kaki 0.72 persen.

Selain itu, inflasi pada sektor kesehatan meningkat sebesar 1.29 persen. Meski demikian, deflasi juga terjadi pada beberapa kelompok komoditi, seperti informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang mencapai 0.16 persen.

Beberapa faktor lain seperti peningkatan kualitas tenaga kerja, nilai tukar petani, kondisi ekonomi makro yang mulai membaik, peningkatan konsumsi rumah tangga, penyaluran dana desa, dan adanya program perlindungan sosial sembako.

Dengan kondisi saat ini yang terus membaik dan mulai berangsur normal, tentu tidak salah jika kita memiliki harapan angka tingkat kemiskinan terus menurun. Bukan hanya untuk wilayah Jawa Timur saja, namun untuk seluruh masyarakat Indonesia.