Kasus Video Hatsune Miku Dihapus YouTube, Benarkah Ulah K-Popers?

Naufal Alfarizy

Januari 2012 menjadi bulan yang cukup mengagetkan penggemar Vocaloid. Pasalnya, banyak sekali video dari penyanyi virtual Hatsune Miku yang dihapus oleh pihak YouTube atas laporan-laporan yang telah diterima.

Namun setelah ditelusuri, laporan tersebut fiktif. Siapakah orang atau bahkan kelompok yang terlibat dalam laporan fiktif yang mengegerkan penggemar Vocaloid di seluruh dunia tersebut?

Puluhan Video Hatsune Miku Hilang Mendadak

 Video Hatsune Miku Dihapus Youtube
Akun YouTube Anaraquelk2 yang terkena imbas Copyright False Report

Kejadian tersebut pertama kali mencuat pada akhir bulan Januari tahun 2012, dimana sejumlah video karya penggemar Hatsune Miku menghilang dari YouTube karena diduga melanggar aturan terkait hak cipta. Kejadian tersebut dikenal dengan sebutan “Kasus Penghapusan Masal Video Hatsune Miku”.

Saat itu, belum ada kejelasan dari pihak Crypton Future Media Inc. selaku pemegang program Vocaloid, yakni program audio sintesis yang dikembangkan bersama perusahaan Yamaha, serta informasi terkait dari SONY yang kebetulan tengah menggarap Project DIVA untuk konsol Playstation.

Salah satu Youtuber yang terdampak kejadian tersebut adalah Anaraquelk2, dan xxKMSakura. Imbasnya, kini hanya akun Anaraquelk2 saja yang dapat kembali aktif, sementara akun milik xxKMSakura tak dapat diaktifkan kembali.

Kampanye SAVE HATSUNE MIKU Diumumkan

hatsune miku
Hatsune Miku dalam game dewasa Korea Selatan, Destiny Child

Dikutip dari Getgold Japan via Get News, sejumlah penggemar memutuskan untuk membuat grup khusus dalam penanganan hilangnya video Hatsune Miku tersebut. SAVE MIKU Project dibentuk pada 2 Februari 2012, dimana para penggemar berkumpul secara sukarela untuk menyelidiki kasus tersebut, dan bahkan mereka memiliki situs ensiklopedi sendiri yang berkaitan dengan kasus tersebut.

Ensiklopedi tersebut memuat informasi (yang kini bersifat obsolete) terkait ‘drama’ penggemar Hatsune Miku tersebut. Mulai dari FAQ, studi kasus, kumpulan informasi dari perusahaan terkait Vocaloid, dan diskusi terkait.

Penggemar K-POP Dituduh dalam Insiden Tersebut

launching ponsel Samsung Galaxy Note 2, Psy
Penampilan bintang K-Pop, Psy di Toronto dalam acara launching ponsel Samsung Galaxy Note 2 | FOTO: Grant Henderson

Tak sampai disitu, ‘penyelidikan awal’ sempat menyudutkan penggemar pop kultur Asia lainnya, yakni para penggemar K-POP. Tuduhan yang tak berdasar itu berawal dari diskusi dari forum imageboard 2chan dari Jepang.

Kebetulan di tahun 2012, penggemar Vocaloid, Hatsune Miku, serta penggemar K-POP tengah berada di posisi puncaknya masing-masing. K-POP di tahun 2012 sendiri diisi dengan boyband, girlband, serta musisi yang cukup sering menghiasi layar kaca pada saat itu, salah satunya Super Junior, Girls Generation, dan PSY.

Sayang, tudingan tersebut diarahkan berdasarkan sentimen rasisme dibanding fakta yang ada. Selain dari 2chan, banyak tuduhan yang juga diluncurkan atas dasar kesalahan teknis pada sistem voting milik situs TopTens.

Mengutip dari situs penggemar Hatsune Miku Mikufan, Situs TopTens sempat menghapus Hatsune Miku dari peringkat penyanyi terfavorit di tahun 2012. Setelah melalui diskusi panjang, penyanyi virtual tersebut kembali menoreh peringkat pertama dalam platform pemilihan daring tersebut.

Sejumlah Perusahaan Besar Terlibat

Sony Music Japan, Toys Factory, dan ELECTROCUTICA

Dalam laporan takedown yang diterima oleh para pengguna yang terdampak penghapusan masal video Hatsune Miku, sejumlah nama perusahaan Jepang tercatut dalam laporan tersebut. Salah satunya SONY dan ToysFactory.

Salah satu laporan misalnya, mencatut berbagai nama dari divisi milik SONY. Meskipun begitu, hal tersebut merupakan hal lumrah lantaran perusahaan asal Jepang tersebut memiliki peraturan ketat terkait hak cipta. Terlebih di saat yang bersamaan, Sony tengah terlibat dalam produksi gim Project DIVA untuk konsol Playstation.

ToysFactory merupakan penerbit lagu asal Jepang yang telah lama menerbitkan lagu-lagu Vocaloid. Sebelumnya, perusahaan tersebut pernah secara tak sengaja memberikan copyright report kepada YouTube terhadap produser musik dibawah naungan mereka sendiri.

Ada pula ELECTROCUTICA, penerbit musik asal Jepang yang juga menerbitkan lagu-lagu Vocaloid. Bedanya, mereka memiliki ketentuan terkait masalah reupload di platform media sosial.

Perusahaan-perusahaan tersebut memang terlibat dalam produksi Vocaloid. Namun, ada salah satu perusahaan yang tak terlibat dalam Vocaloid namun menjadi pemain utama dalam takedown, yaitu Media Interactive.

Media Interactive, Perusahaan Jepang yang Tak Tahu Apa-Apa

https://www.youtube.com/watch?v=dtZKMx9gbQ8

Perusahaan sal Jepang tersebut menampik tudingan bahwa mereka meminta YouTube untuk menghapus video milik Hatsune Miku. Arsip SaveMiku menyebut bahwa perusahaan tersebut tidak mengetahui apapun terkait kejadian tersebut.

Sejumlah orang telah menghubungi kami, terkait keterlibatan perusahaan kami terkait penghapusan video Hatsune Miku di Youtube.

Kami tegaskan bahwa kami tidak meminta penghapusan (video) ataupun sejenisnya.

Kami tidak tahu apapun terkait masalah ini

Media Interactive, arsip Vocaloid Otaku via SaveMiku

Perusahaan ini sendiri juga pernah terlibat secara tak sengaja dalam kasus serupa. Misalnya, pada kasus terhapusnya akun musisi Lady Gaga akibat ajuan takedown yang tak disengaja oleh sistem YouTube, dikutip dari Asiajin.

Ternyata, Cuma Kesalahan Sistem YouTube!

Gambar Promosi kanal YouTube Toei Tokusatsu

Video-video Hatsune Miku yang terdampak tersebut ternyata dihapus secara tak sengaja oleh YouTube. Sistem tersebut adalah Content ID, yang merupakan sistem identifikasi konten mengandung hak cipta yang dikembangkan oleh Google sejak 2007.

Sistem ini dikembangkan untuk menangkal pengguna YouTube yang nakal, dimana mereka mengunggah konten yang melanggar hak cipta dan tanpa seizin pemegang hak cipta. Pada tahun 2016 sendiri saja, sistem tersebut membayar royalti sebanyak 2 milyar Dollar AS untuk mengganti biaya pelanggaran hak cipta yang dicuri oleh para pengguna YouTube, kepada para pemegang royalti.

Rilis pers Youtube di tahun 2012 sendiri menyebut bahwa sistem Content ID menyumbang lebih dari sepertiga uang hasil monetisasi pada platform tersebut.

Hilangnya konten-konten Hatsune Miku sendiri telah diselesaikan oleh pihak Google selaku pemilik YouTube serta Crypton selaku pemilik Vocaloid. Hal tersebut usai pada akhir bulan Februari 2012 dan keputusan kedua pihak membuat akun-akun yang terdampak kejadian tersebut di-restore kembali.

Kejadian ini juga sebenarnya juga pernah terulang. Misalnya pada kasus akun Youtube resmi milik Toei, yakni Toei Tokusatsu. Kanal resmi berisi konten anime serta tokusatsu jadul tersebut sempat terkena takedown atasnama perusahaan itu sendiri, berkat sistem Content ID.


Hingga kini, netizen Indonesia yang menggemari budaya pop kultur Jepang maupun Korea belum mengetahui informasi akhir tersebut. Wajar, sebab di tahun 2012 akses Internet di Indonesia masih cukup terbatas dan belum seluas sekarang.

Kedua belah pihak tidak perlu berspekulasi terkait hal ini. Terlebih akhir-akhir ini, penggemar K-POP kembali mengungkit hal ini di sosial media. Ada kalanya kita perlu bijak akan informasi yang kita terima, telaah, serta perdalam informasi tersebut sebelum disebarkan lagi ke pengguna Internet lain.