Sebelum Ditutup Karena COVID-19, Starbucks Jepang Dipenuhi Warga

Avatar
antrian di starbucks jepang COVID-19 Virus Corona
Antrian salah satu Cabang Starbucks di Jepang (Twitter/@iiiikasu)

Menyiapkan stok selama pandemi virus Corona atau COVID-19 memang sangat penting, terlebih setelah lockdown dimulai untuk mencegah penyebaran lebih masif. Mengantri untuk membeli stok makanan, obat-obatan, dan tisu toilet merupakan hal wajar, tapi bagaimana jika warga mengantri untuk membeli secangkir kopi Starbucks?

Starbucks Telah Menutup Banyak Cabangnya karena Pandemi Virus Corona

Dikutip dari Soranews24, agar tidak memicu keramaian dan gerakan “Di Rumah Saja” semakin digalakkan, salah satu waralaba kafe terbesar di Jepang yaitu Starbucks berencana akan menutup sekitar 850 cabangnya.

Penutupan tersebut mulai berlaku per hari Kamis (9/4) untuk cabang-cabang Starbucks yang berada di tujuh perfektur berstatus darurat yaitu Tokyo, Kanagawa, Saitama, Chiba, Osaka, Hyogo, dan Fukuoka.

Warga Jepang Menyerbu Starbucks

Mendengar kabar tersebut, warga yang seharusnya berdiam di rumah masing-masing langsung menyerbu Starbucks yang masih buka sehingga menimbulkan antrian yang cukup panjang. Seperti yang terlihat dalam unggahan akun Twitter @iiiikasu.

https://twitter.com/iiiikasu/status/1248084396931866625

Dalam cuitan tersebut, terdapat tiga foto yang memperlihatkan antrian yang cukup panjang memenuhi cabang-cabang kafe Starbucks, termasuk Starbucks cabang Stasiun Kamata di Osaka.

Bermacam Komentar Netizen

Netizen berkomentar cukup beragam, dari yang mengkritik hingga terkejut karena jarang-jarang warga Jepang menjadi se-barbar itu.

“Tidak sadarkah mereka bahwasanya alasan Starbucks menutup cabangnya untuk mencegah memicu keramaian di salah satu kafenya?”

“Saya paham kalau Starbucks sebentar lagi akan ditutup, sehingga orang-orang langsung berdatangan. Tapi ayolah, tidak bisakah mereka baca situasi saat ini.”

“Sejak kapan Jepang menjadi seperti ini?”

Komentar di atas merupakan salah satu dari sekian banyaknya komentar netizen. 

Pemerintah Setempat Tidak Bisa Berbuat Lebih

Di samping komentar pedas netizen yang kesal dengan perilaku bandel orang-orang tersebut seakan tidak ada pergerakan dari pemerintah. Ternyata, pemerintah setempat juga tidak bisa berbuat lebih untuk memaksa warga untuk diam di rumah masing-masing, walau status darurat sudah berlaku sejak hari Selasa (7/4).

Selain diumumkannya status darurat, pemerintah setempat juga lebih mengimbau warganya untuk tidak keluar rumah pada malam hari ataupun akhir pekan. Daripada meminta warga untuk berdiam di rumah masing-masing.

Terlebih, kebijakan social distancing dan rekomendasi untuk menjaga jarak sejauh dua meter baru diumumkan oleh pemerintah setempat baru-baru ini. Sehingga sempat membuat warga kebingungan menghadapi pandemi COVID-19 atau Virus Corona.

Perkembangan COVID-19 di Negeri Matahari Terbit

sebaran peta kasus covid-19

Berdasarkan data yang dihimpun di situs Worldometer per hari Senin (13/4), setidaknya tercatat sebanyak 7.370 kasus positif terinfeksi COVID-19, dimana di antaranya 123 orang meninggal dunia, dan 784 orang lainnya dinyatakan sembuh.