Meraih dan memiliki pendidikan dalam dunia kedokteran bukan hal yang mudah. Banyak rintangan dan kesulitan yang harus dihadapi tiap orang terlebih yang memiliki cita-cita sebagai dokter. Berbicara soal dokter, sebuah pernyataan menyebutkan bahwa seorang gamer sekaligus dokter spesialis bedah diduga lebih cepat belajar dan berbakat dari orang yang tidak bermain game.

Benarkah demikian? Yuk, kita cari tahu bersama!

Korelasi Antara Gamer dan Dokter Spesialis Bedah

Saya baru saja menemukan sebuah topik menarik untuk para NawaReaders. Dilansir dari Reuters, terdapat korelasi antara seorang gamer dan kemampuan operasi bedah dalam melakukan Laparoscopic Surgery. Hal ini terlampir dalam sebuah jurnal pembelajaran Archives of Surgery pada bulan Februari. Untuk menemukan jawabannya, sebuah tes pun dilakukan.

Dokter Gamer VS Dokter Non-Gamer

Sebuah percobaan dilakukan terhadap 33 dokter spesialis bedah dalam sebuah tes di Rumah Sakit Beth Israel yang berlokasi di New York. Tes dilakukan untuk melihat apakah dokter yang memiiki hobi bermain game dalam melakukan operasi bedah tersebut memiliki pekerjaan lebih baik dibandingkan dokter yang tidak bermain game atau bukan seorang gamer.

Ternyata, 9 dokter gamer yang bermain game setidaknya 3 jam tiap minggu memiliki hasil yang lebih baik. Para dokter gamer tersebut melakukan 37% beberapa kesalahan dan 27% lebih cepat melakukan operasi. Selain itu 42% mereka memiliki hasil tes operasi bedah lebih baik dibandingkan 15 dokter yang bukan seorang atau tidak bermain game.

“Hal ini sangat mengejutkan dimana bermain game sangat mempengaruhi tingkat hasil kemampuan operasi bedah,” ucap Profesor Douglas Gentile berasal dari Universitas Negeri Iowa yang merupakan salah satu pengajar dalam tes.

Faktor Keunggulan

Apa faktor yang menyebabkan para dokter hobi bermain game ini memiliki hasil lebih baik dari dokter yang tidak bermain game? Dalam hasil pembelajaran tes, menurut mereka ini berhubungan dengan hasil penelitian sebelumnya terhadap pemain game. Dijelaskan bahwa bermain game dapat meningkatkan kemampuan gerak, koordinasi mata-tangan, kemampuan fokus, kemampuan melihat objek 3D dan kompetensi menggunakan komputer.

“Bermain game mungkin dapat membantu sebagai alat belajar prakter dalam membantu melatih operasi bedah,” ucap Dr. James Rosser dari Rumah Sakit Beth Israel.

Namun harap diingat kepada orang tua, untuk tetap mengontrol jam bermain game kepada anak-anak. Karena banyak pengaruh buruk yang dapat terjadi pada anak. Mulai dari sifat agresif, nilai sekolah memburuk dan menjadi pasif tidak ingin berolahraga.

Nawala Karsa NK Kurio