Di masa pandemi seperti sekarang ini, ada sejumlah orang yang harus bergumul dengan emosi negatif. Mungkin karena merasa sedih karena tidak dapat bertemu dengan orang yang disayangi, kesepian, atau bahkan karena merasakan kehilangan yang mendalam pada saat-saat seperti ini. Menghadapinya bukanlah hal yang mudah—kadang rasanya teramat sulit untuk menjalani hari-hari dengan duka yang mendalam di hati karena kehilangan.

Pada tahun 1969, seorang psikiater dan penulis asal Amerika-Swiss, Elizabeth Kubler-Ross, mengungkapkan bahwa ada lima tahapan dalam menghadapi duka yang disebut The Five Stages of Grief. Lima tahapan itu adalah penyangkalan, rasa marah, menawar, depresi, dan pada akhirnya, penerimaan. Namun, karena ini adalah sebuah hal yang kompleks, cara tiap orang menghadapinya pun juga berbeda-beda. Hal inilah yang menjadi tema utama dalam novela karya penulis Banana Yoshimoto, yaitu Kitchen.

Sinopsis Kitchen

Novela Kitchen karya Banana Yoshimoto pertama kali pada tahun 1988 oleh MK Publisher. Buku ini merupakan buku dengan premis yang unik, karena di dalamnya terdapat dua buah cerita.

Cerita pertama dalam buku ini, “Kitchen”, berkisah mengenai Sakurai Mikage, seorang mahasiswi yang tengah merasakan duka yang mendalam semenjak neneknya meninggal dunia. Mikage awalnya tinggal sendiri, namun kemudian diajak untuk tinggal bersama Yuichi dan ibunya yang adalah seorang transgender.

Salah satu alasan mengapa Mikage memilih untuk tinggal bersama mereka adalah karena rumah mereka memiliki sebuah dapur yang bagus. Karena pada dasarnya Mikage adalah seorang penggila dapur, ia menjadikan aktivitas memasak sebagai bentuk pelariannya dari rasa duka yang dialaminya.

Sementara itu, dalam cerita kedua yang bertajuk “Moonlight Shadow”, para tokoh di dalamnya menghadapi rasa duka dengan cara yang berbeda-beda. Seorang wanita bernama Satsuki memilih untuk jogging di pagi buta, dan seorang pemuda bernama Hiiragi mengenakan seragam perempuan milik kekasihnya untuk pergi ke sekolah.

Menghadapi duka dengan cara yang berbeda-beda

Melalui novela ini, Banana Yoshimoto ingin menunjukkan bahwa cara setiap orang menghadapi duka dan kehilangan dapat saling berbeda antara satu dengan yang lain. Selain itu, setiap orang di dunia ini berhak untuk tahu dan ikut merasakan apa yang saat ini kita rasakan.

Dalam komentar Yoshimoto di buku Kitchen, seorang kawannya mengatakan bahwa Kitchen dapat memberikan keberanian bagi para pembaca untuk menunjukkan sifatnya dan dapat mengekspresikan diri mereka dengan lebih baik lagi.

Tentunya, tema utama yang diangkat dalam Kitchen tidak hanya mengungkap kehidupan sosial masyarakat Jepang, namun juga beresonansi dalam kehidupan masyarakat di Indonesia dan dunia.

Banyak dari antara kita yang memilih untuk menutup rapat-rapat perasaan yang kita miliki dan juga pergumulan yang dialami karena perasaan sedih, duka, kehilangan, kepedihan, dan kesepian karena takut dianggap lemah. Padahal, tak ada salahnya juga untuk berbagi kepada orang lain yang dipercaya dan mengeluarkan semua perasaan yang ada dalam masing-masing dari kita.

Penerbit Haru bakal terbitkan buku Kitchen

penerbit haru kitchen

Pada Senin (22/3), diumumkan bahwa novela Kitchen karya Banana Yoshimoto ini akan diterbitkan di Indonesia oleh Penerbit Haru. Karena pesan dalam buku ini yang sangat mendalam dan luar biasa, Penerbit Haru tergerak untuk menerbitkan karya klasik kontemporer yang sangat populer di Jepang ini.

Rencananya, Penerbit Haru akan merilis buku ini pada April 2021 mendatang. Buat kalian yang suka dengan buku-buku Penerbit Haru atau sastra Jepang, buku ini sangat sayang untuk dilewatkan, lho. Jika kalian ingin mencari tahu informasi lebih dalam mengenai penerbitan Kitchen, kalian dapat mengakses media sosial Penerbit Haru di Facebook, Twitter, atau Instagram, atau dapat memantaunya juga di toko buku online Penerbit Haru.

Nawala Karsa NK Kurio