Narasi Maut dalam Kosmologi, Renungkan Filosofi Hidup dan Maut

Naufal Alfarizy
FOTO: Witjak Widhi Cahya / Komunitas Salihara

Selama pandemi COVID-19, kita mengalami bentuk hubungan baru dengan kematian. Setiap hari dari kejauhan kita melihat teman, anggota keluarga, atau orang lain meninggal.

Sering kali kita tidak dapat menghadiri upacara keluarga, dan bahkan mungkin harus berkabung dalam kesendirian dan isolasi. Dan sebenarnya pemikiran mengenai “kematian” dan “kehidupan” adalah salah satu pembahasan dalam bidang filsafat.

Bagaimana evolusi pemikiran manusia dari masa ke masa memaknai eksistensi manusia dalam alam semesta?

Narasi Maut dalam Kosmologi, Ajak Masyarakat untuk Memiliki Perspektif Kritis

Narasi Maut dalam Kosmologi Salihara cv
Karlina Supelli menjelaskan bahwa melalui Kelas Filsafat yang diadakan
Komunitas Salihara Arts Center, para peserta akan belajar tentang kehidupan dan
kematian dalam terang kosmologi sepanjang sejarah. | FOTO: Witjak Widhi Cahya / Komunitas Salihara

Untuk memperluas perspektif, wawasan dan mendorong masyarakat untuk berpikir kritis terhadap berbagai fenomena sosial yang terjadi, Komunitas Salihara Arts Center menggelar Kelas Filsafat berjudul Narasi Maut dalam Kosmologi.

Kelas filsafat ini diampu oleh Karlina Supelli, Direktur Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Kelas ini ini berlangsung secara daring setiap Sabtu hingga 28 Agustus 2021 mendatang.

Pengampu Kelas Filsafat Karlina Supelli mengakui kehidupan dan kematian sebenarnya adalah salah satu keprihatinan tertua dan paling meresap dalam filsafat.

“Faktanya, hampir setiap tradisi filosofis mengeksplorasi bagaimana manusia harus berhubungan dengan kehidupan dan kematian. Platon bahkan melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa tujuan filsafat adalah untuk mempersiapkan kita menghadapi kematian,” ungkap Karlina.

Kebangkitan Filsafat Tentang Hidup dan Maut

Narasi Maut dalam Kosmologi Salihara cv
FOTO: Witjak Widhi Cahya / Komunitas Salihara

Hanya saja, selama setengah abad terakhir, filsafat tentang hidup dan maut telah mengalami kebangkitan.

Di antara pertanyaan utama tentang hidup dan maut yang dieksplorasi oleh para filsuf adalah: Apakah kematian mewakili akhir dari kita, atau bisakah kita selamat dari kematian—bahkan mungkin menjadi abadi?

Haruskah kita menginginkan keabadian seperti itu? Bagaimana seharusnya perasaan kita tentang fakta bahwa kita fana? Apakah kematian itu sendiri pantas ditakuti—atau respons emosional lainnya seperti kemarahan atau rasa terima kasih?

Apakah fakta bahwa kita mati mengancam prospek bahwa hidup kita bisa bermakna? Serta, apakah kematian itu buruk bagi kita, dan jika demikian, bagaimana cara mengantisipasinya?

Kehidupan dan kematian juga merupakan bidang penelitian yang sangat dinamis karena melintasi berbagai subdisiplin dalam filsafat, termasuk etika, metafisika, filsafat politik, filsafat kedokteran, filsafat agama, bahkan filsafat teknologi.

“Keempat sesi yang digelar melalui Kelas Filsafat memberi gambaran tentang evolusi pemikiran manusia dan perdebatannya untuk memaknai eksistensinya dalam alam semesta sejak zaman Mesopotamia (3000-an SM) sampai kosmologi abad ke-21. Melalui Kelas Filsafat ini, para peserta akan belajar tentang kehidupan dan kematian dalam terang kosmologi sepanjang sejarah,” papar Karlina Supelli.

Kematian, Berawal dari Kezaliman

Narasi Maut dalam Kosmologi Salihara
Suasana pembelajaran virtual Kelas Filsafat: Narasi Maut dalam Kosmologi
yang dibimbing Karlina Supelli dan dipandu Zen Hae | FOTO: Komunitas Salihara

Pemahaman hidup dan maut dalam kosmo-mitologi sampai kosmo-teologi mengawali paparan Karlina Supelli dalam Narasi Maut dalam Kosmologi. Dengan gaya khasnya, paparan Karlina mengalir ringan meskipun materi yang disampaikan mengupas cakupan sejarah pemikiran kosmologi tentang kehidupan dan kematian dari masa ke masa yang dibangun manusia.

Dalam kosmogoni mitis bahari, kita dapati kisah-kisah tentang dunia dan kehidupan yang bermula dari suatu kematian. Namun, kematian pada mulanya bukan bagian dari realitas. Maut hadir akibat pelanggaran atau kezaliman.

Dalam kosmo-teologi agama-agama Abrahamik, seluruh ciptaan terkena konsekuensi pelanggaran itu. Paparan akan dilanjutkan dengan perspektif Revolusi Sains abad ke-17, alam semesta mengemuka sebagai mesin raksasa yang bekerja ajek menurut hukum-hukum matematis.

Namun, ada paradoks di dalamnya. Jika gaya utama penata alam bersifat tarik-menarik, mengapa alam semesta tidak ambruk sejak dahulu kala?

Alam Semesta Menuju Kematian yang Senyap

Selanjutnya paparan akan membahas mesin kosmik yang begitu teratur ternyata ditandai dengan derajat kekacauan yang terus bertambah.

Perlahan tapi pasti, alam semesta bergerak menuju kematian yang senyap. Namun, dari mana segala sesuatu itu muncul pada mulanya? Bagaimana memahami kehidupan yang begitu beragam tapi rentan dalam peta evolusi kosmik?

Terakhir, paparan akan membahas kosmologi kontemporer, dimana kematian alam semesta merupakan keniscayaan.

Pertanyaannya, peristiwa apa yang mendatangkan maut menyeluruh itu dan kapan akan terjadi? Bila alam semesta ini tidak lagi ada, adakah dunia-dunia lain yang mungkin?

Kebanyakan orang dalam masyarakat modern secara efektif menjaga kematian pada jarak yang jauh: Kematian adalah peristiwa yang jarang terjadi yang terjadi di balik pintu tertutup, peristiwa yang insidental dan jarang terjadi.

Pandemi menjungkirbalikkan kenyataan ini, dan dengan demikian, mengintensifkan apa yang oleh para psikolog disebut ‘arti-penting kematian’, yaitu kesadaran kita akan kerentanan kita sendiri terhadap kematian.

Filsafat Narasi Maut dalam Kosmologi Bantu Manusia Pahami Dunia secara Rasional

Kordinator Program Gagasan Komunitas Salihara Arts Center Rebecca Kezia menuturkan bahwa bagi banyak orang, pengalaman kematian di sekitar kita ini menjadi pengalaman traumatis.

“Di sinilah filsafat hadir membantu kita memahami dunia secara rasional dan pengalaman kita di dalamnya. Dalam hal ini, telaah kosmologis membantu kita mengklarifikasi apa yang secara etis dipertaruhkan dalam kesedihan dan duka dengan menempatkannya dalam kerangka evaluatif yang lebih besar,” ujar Rebecca.

“Dengan kata lain, kosmologi memungkinkan kita untuk melihat apa yang baik tentang kesedihan dan duka dan karenanya menunjukkan dengan tepat apa yang telah direnggut pandemi dari kita.”

“Secara lebih konstruktif, filsafat dapat membantu kita memilah-milah imperatif sosial yang ditinggalkan setelah pandemi, termasuk mengembangkan praktik-praktik untuk memahami kesedihan, memaknai kehilangan dan memastikan bagaimana masyarakat harus memperingati pandemi dan mengenang para korbannya,” papar Rebecca Kezia.

Anda dapat mengenal lebih jauh tentang kelas filsafat teranyar dari Komunitas Salihara, Narasi Maut dalam Kosmologi, melalui pranala berikut.