Japan Actors Union atau Persatuan Aktor Jepang, organisasi dengan 2.600 anggota yang bekerja sebagai aktor dan pengisi suara, telah menyelenggarakan sebuah konferensi pada Jumat lalu (30/10). Dilansir dari situs berita NHK, dalam konferensi tersebut, para representatif dalam organisasi itu membahas mengenai sebuah survei tentang kesehatan mental para anggotanya.

Survei tersebut berisi sejumlah pertanyaan seperti “Apakah Anda pernah merasa ingin mati karena pekerjaan?” dan pertanyaan lainnya yang menanyakan sebab para anggota merasakan hal tersebut. 30% dari responden atau sekitar 48 orang dari total jumlah anggota organisasi tersebut menjawab “Ya.” Sementara itu, ketika ditanya mengenai penyebabnya, para anggota menjawab hal yang menjadi sebabnya adalah jam kerja yang panjang dan pelecehan di tempat kerja.

Hadirkan layanan kesehatan mental bagi aktor dan seiyuu

Seorang psikiater yang berpartisipasi dalam konferensi tersebut juga sempat mendiskusikan tentang gangguan mental yang rentan dialami oleh figur publik, terutama aktor dan pengisi suara di Jepang. Ia berkata bahwa hal tersebut dapat terjadi karena para selebriti sering dikomentari oleh warganet di media sosial dan rentan terhadap tekanan ekstrim yang menjadi bagian dari pekerjaan mereka, seperti pembatasan makanan yang boleh dikonsumsi dan waktu tidur. “Pada saat yang sama, mereka tidak dapat berbicara pada siapa pun tentang masalah yang mereka hadapi, yang dapat menyebabkan bunuh diri,” lanjut psikiater tersebut.

Melihat respon dari para anggota, para representatif Persatuan Aktor Jepang menyatakan bahwa mereka akan segera mencanangkan sebuah layanan kesehatan mental bagi para aktor dan pengisi suara. Dalam perencanaan itu, mereka menyatakan akan membuat sebuah metode supaya para aktor dan pengisi suara dapat menyatakan kekhawatiran dan mendiskusikan tentang gangguan mental dengan tenang.

Pemerintah Jepang himbau untuk cari pertolongan untuk kesehatan mental

Melihat maraknya kasus bunuh diri yang terjadi pada beberapa selebriti di Jepang, pada beberapa waktu lalu, pihak pemerintah Jepang telah mengumumkan kepada masyarakat agar segera mencari pertolongan yang tepat jika menderita gangguan mental atau sempat terpikir untuk melakukan percobaan bunuh diri. Para ahli kesehatan sempat menegaskan bahwa kegelisahan yang terjadi akibat pandemi COVID-19 juga dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya hal seperti ini.

Kepala Sekretaris Kabinet Katsunobu Kato juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap kasus ini pada bulan September 2020 lalu. “Telah terjadi peningkatan jumlah kasus bunuh diri sejak bulan Juli lalu,” katanya. “Kita harus mengakui fakta bahwa banyak orang telah mengakhiri hidup mereka yang berharga.”

 


Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang menghadapi gangguan mental atau terpikir untuk melakukan bunuh diri, jangan ragu untuk mencari pertolongan dengan menghubungi profesional kesehatan jiwa di Puskesmas / rumah sakit terdekat.

Contributor
Nawala Karsa NK Kurio