Pada hari Minggu (6/9), acara ketiga dari rangkaian pesta literasi Festival Buku Asia: Jepang telah digelar. Meskipun acara ini diadakan secara daring, tentunya ini tidak mengurangi semangat para pencinta buku dan kebudayaan Jepang untuk menghadirinya. Sebaliknya, mereka sangat bersemangat dalam menyambut acara ini, karena kali ini pembicara utamanya adalah Akiyoshi Rikako, seorang penulis novel thriller ternama asal Jepang.

Acara yang bertajuk “Isu Sosial dalam Balutan Novel Thriller Jepang” tersebut sebenarnya dimulai pada pukul 16.00, tapi bahkan sebelum acara dimulai, para peserta acara sudah sangat antusias dan tidak sabar agar acara ini segera dimulai. Hal ini terbukti dari ramainya suasana kolom chat tempat online talk show tersebut berlangsung lewat medium Google Meet—para peserta membahas mengenai buku-buku karya Akiyoshi-sensei yang disukai dan juga menyatakan ketidaksabaran mereka untuk dapat segera melihat Akiyoshi-sensei.

Acara tersebut pun akhirnya dimulai pada pukul 16.00 WIB dan dibuka dengan perkenalan dari pihak Patjarmerah dan Penerbit Haru selaku penyelenggara Festival Buku Asia. Setelah itu, Akiyoshi-sensei pun diperkenalkan kepada para peserta acara. Dalam sesi perkenalannya pun, Akiyoshi-sensei sempat memperkenalkan diri dalam bahasa Indonesia dengan berkata, “Halo semuanya, nama saya Rikako.”

Dalam acara ini, Akiyoshi Rikako dan para peserta acara berbincang-bincang mengenai berbagai isu sosial yang juga menjadi tema utama dalam sebagian besar karyanya. Menurutnya, genre misteri memudahkannya untuk menuangkan keresahannya terhadap berbagai isu sosial yang terjadi di Jepang dan di belahan dunia lain. Akiyoshi-sensei juga berbagi banyak hal lainnya, mulai dari proses menulis hingga pesan yang ingin disampaikan dari karya-karyanya.

Proses menulis seorang Akiyoshi Rikako

akiyoshi rikako

Salah satu hal yang dibagikan oleh Akiyoshi Rikako melalui acara ini adalah proses penulisannya. Hal ini membuat para pembaca penasaran, karena setiap karya Akiyoshi-sensei sangat detail dalam mendekskripsikan keseharian atau pekerjaan dari para tokohnya. Meskipun Akiyoshi-sensei memiliki pekerjaan utama sebagai seorang penulis, beliau mampu mendeskripsikan itu semua dengan detail sehingga para pembaca dapat menangkap emosi para tokoh dengan jelas pula.

Ia mengaku bahwa semua cerita darinya awalnya berasal dari ide-ide sederhana saja, lalu berubah menjadi sebuah karya fiksi karena ide tersebut dikembangkan dengan rapi. “Jika kamu memiliki ide, catat itu terlebih dahulu. Kalau ada beberapa ide, tulislah semua ide itu dalam poin-poin terpisah, lalu satukan itu,” ujar Akiyoshi-sensei.

Demi menghasilkan sebuah karya yang detail, Akiyoshi-sensei biasanya melakukan riset terlebih dahulu. Misalnya, dalam proses penulisan salah satu novelnya yang berjudul Giselle, ia melakukan riset terhadap dunia balet dan para penari balet dunia. “Saya menonton berbagai pertunjukan balet, baik itu dari DVD atau melihat langsung di teater,” kata Akiyoshi-sensei. “Saya juga membaca biografi ballerina (penari balet) dan sejarah balet di Prancis dan Rusia.”

Meski melakukan banyak riset, tidak semua hal yang Akiyoshi Rikako baca dimasukkan dalam Giselle. Menurut beliau, seorang penulis harus dapat memilah dan memilih, mana hal penting yang esensial untuk cerita yang ingin disampaikan dan mana bagian yang tidak perlu ditunjukkan. “Tujuannya adalah membuat karya fiksi yang dapat dinikmati pembaca, bukan untuk unjuk pengetahuan,” ujar beliau.

Karakter “ekstrim” diperlukan

Selain proses menulisnya, hal yang sebagian besar para fans karya Akiyoshi Rikako tanyakan adalah bagaimana Akiyoshi-sensei dapat menciptakan karakter yang amat menyebalkan seperti Takaki Noriko dalam Absolute Justice. Bagi yang belum tahu, Takaki Noriko adalah tokoh utama dalam novel Absolute Justice yang diceritakan terlalu menjunjung tinggi kebenaran sampai teman-temannya tidak suka dengannya karena perangainya itu.

Akiyoshi-sensei mengaku bahwa ia memikirkan karakter Noriko ketika ia sedang membaca Alkitab. Saat itu, ia membaca sebuah bagian dimana ada perempuan yang ketahuan berzina dan orang-orang di sekitarnya berniat untuk merajamnya dengan batu sesuai hukum Taurat. Ketika wanita itu hendak dirajam, Yesus pun datang dan berkata bahwa barangsiapa tidak pernah berdosa, hendaklah ia yang pertama kali melemparkan batu pada wanita itu. Pada akhirnya, orang-orang itu pun terbungkam dan pergi, karena sadar bahwa mereka sudah berdosa.

“Kadang-kadang, kita melihat orang yang merasa bahwa merekalah yang paling benar,” kata Akiyoshi-sensei, “padahal kadang-kadang apa yang dipikirkan orang sebagai hal yang benar belum tentu merupakan hal yang benar.” Dalam menanggapi itu, Akiyoshi-sensei juga berujar bahwa karakter Noriko semakin nyata dalam masa pandemi COVID-19 ini, dimana di Jepang ada kasus orang yang membakar sebuah restoran yang buka dalam masa pandemi karena mereka berpikir itulah hal yang benar untuk dilakukan.

Buku baru diterbitkan tahun 2021, singgung isu LGBT

Sejauh ini, Akiyoshi-sensei telah menulis sebanyak 13 buku yang telah diterbitkan di Jepang dan 8 di antaranya telah diterbitkan oleh Penerbit Haru di Indonesia. Dalam acara ini, Akiyoshi-sensei berkata bahwa akan ada buku baru karyanya yang akan diterbitkan pada akhir tahun ini dan juga tahun 2021 mendatang.

Buku yang rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun ini, yang juga menjadi karyanya yang ke-14, adalah sekuel dari novel Giselle. Jika novel Giselle berkisah mengenai misteri kasus pembunuhan di atas panggung balet dan lakon balet yang dibawakan adalah Giselle, maka sekuelnya akan menampilkan lakon balet Sleeping Beauty. “Di sekuel ini, kasus yang diangkat juga merupakan kasus pembunuhan,” katanya.

Sementara itu, buku ke-15 yang akan diterbitkan Akiyoshi Rikako pada 2021 nanti adalah sebuah buku bertema LGBT dan bukan merupakan novel misteri thriller seperti karya-karya Akiyoshi-sensei sebelumnya. Dikarenakan satu dan lain hal,  beliau tidak memakai metode penulisan novel thriller untuk menulis buku ini.

akiyoshi rikako

Dalam acara ini, diumumkan pula bahwa salah satu novel karya beliau, Scorching Heat, akan diterbitkan di Indonesia oleh Penerbit Haru pula. Meski begitu, belum ada judul yang pasti untuk edisi bahasa Indonesianya dan tanggal rilisnya pun belum ditentukan pula.

Pesan dari Akiyoshi Rikako

Meskipun Akiyoshi-sensei sering menulis hal-hal yang terkesan menyeramkan dalam novel-novelnya, seperti bunuh diri, pembunuhan, orang yang terlalu menjunjung tinggi kebenaran, sampai batas antara kebaikan dan kejahatan yang kabur, pesan yang mau beliau sampaikan melalui karya-karyanya itu adalah untuk selalu saling menghormati dan menghargai perbedaan yang ada.

Pesan ini terinspirasi dari saat ia berkuliah di Amerika. Berkuliah di Amerika membuat pikiran Akiyoshi Rikako menjadi lebih terbuka dan pengalamannya itu mengajarkan banyak hal mengenai saling menghargai berbagai perbedaan yang ada di dunia ini.

Hal itu juga direfleksikan dalam novel-novelnya, dimana ia tidak pernah menuliskan narasi yang menempatkan para tokoh dalam novelnya seolah-olah ia yang paling benar atau salah. “Benar atau salahnya pilihan yang diambil para tokoh pada akhirnya tidak bermaksud mendikte pembaca, tapi mengajak pembaca menikmati dan mendiskusikan jalan cerita dengan tetap saling menghormati dan menghargai satu sama lain,” kata Akiyoshi-sensei.

Nawala Karsa NK Kurio