1. Pop Kultur

Ada apa dengan Remotivi dan Tribun?

Setiap hari, selalu saja ada artikel-artikel ‘nyeleneh’ dari Tribunnews (Alias Tribun) yang selalu menghiasi linimasa dunia maya seperti Facebook, Twitter, dan lain-lain. Wajar dong kalau ‘ke-nyelenehan’ tersebut membuat Remotivi berkoar.

Remotivi, adalah sebuah lembaga studi dan pemantauan media. Kalau kalian suka nonton ‘Karma’ di ANTV, atau *dulu* nonton ‘Yuk Keep Smile’ di TransTV, tontonan tersebut selalu di-pantau oleh Remotivi dan dijadikan sebagai studi mereka yang nantinya akan dijadikan artikel yang mendalam dan tentunya cukup informatif.

Sementara Tribunnews (alias Tribun), adalah Situs Berita yang dikelola oleh PT Tribun Digital Online, yangg merupakan divisi dari Kompas Gramedia di bidang Koran Daerah. Tribun sendiri memiliki 28 jaringan koran di daerah yang mereka sebut Tribun Networkserta menjadi induk dari 20 situs berita daerah yang JUGA dikelola oleh Tribun Network.

Permasalahan antara Remotivi dengan Tribun ini dimulai saat Remotivi mem-publish artikel dengan judul “Bagaimana Tribunnews Membantu Terorisme?” yang dibuat oleh Muhamad Heychael. Dalam artikel tersebut Heychael menyebut bahwa Tribun adalah salah satu portal berita yang rajin membuat berita yang “WOW” mengenai rentetan peristiwa teror yang terjadi di Indonesia beberapa minggu lalu. Bahkan, bisa dikatakan bahwa Tribun merupakan “tuyul” bagi Kompas Gramedia selaku pemilik Situs Portal tersebut.

Tidak salah bagi Heychael untuk menyebut Tribun sebagai “tuyulnya Kompas-Gramedia”. Sebab, setiap kita membuka situs Tribun atau bahkan situs yang masih dikelola oleh Tribun, kita selalu menemui judul-judul berita yang “umpan-klik” dan situs-situs tersebut dipenuhi dengan iklan serta lambat!

Sungguh, bila kita sebelumnya pernah mengakses situs Tribunnews maupun Situs Daerahnya, pasti banyak sekali pop-up berita yang muncul dari berbagai sudut. Saya sih gak berminat untuk membuka situs yang banyak iklannya, setidaknya saya akan membaca sedikit lalu langsung chaw dari situs tersebut. Tapi, bagi kalian yang belum pernah membuka situs ini sebelumnya, atau hanya membuka dengan AMP (Google) atau Instant Article (Facebook) dapat dipastikan kalau kalian hanya akan melihat sedikit iklan yang ada atau bahkan tidak melihat iklan itu sama sekali. (Tapi pantauan saya sekarang, tiba-tiba semua iklan itu hilang. Mencurigakan sih)

Mengenai judul-judul yang “umpan-klik”, saya punya contohnya untuk anda yaitu “Viral Wajah Pemuda Ini Disebut Reinkarnasi Kapitan Pattimura, Pakaiannya Malah Bikin Gagal Fokus“. Dan faktanya, Tribun Sumsel (bawahannya Tribun) secara ironis enggak menghubungi sosok yang viral ini dan hanya membuat artikel bermodalkan sebuah status Twitter dari @ashofbakiak, bahkan foto dari Twitter itu juga hasil nyolong dari Teitoku Seto. Bisa dibayangin dong, sosok tersebut bisa saja depresi akibat ke-viral-annya di Dunia Maya berkat Tribun? Tapi untungnya mas M Sastra Alam (Penyuka budaya pop Jepang, terutama yang berbau moe-fikasi Kapal Tempur) yang ada di foto tersebut, bisa menanggapi ini dengan santai (setidaknya begitu).

Namun, bayangin deh, bisa aja ada orang seperti Sastra yang gak bisa menjaga emosionalnya karena di-viralkan oleh Tribun. Bisa saja – Worst Case – Bunuh Diri atau Gantung Diri. Semua karena artikel viral tersebut, yang membuat korban ditertawai karena kelebihannya, dan bukannya tertawa bersama korban.

Nah, kita kesampingkan masalah “umpan-klik” tersebut, mari kita dalami lagi urusan Remotivi dengan Tribun!

Analis Remotivi Muhamad Heychael, menganalisis mengenai sensasionalisme dari Tribunnews tentang kasus Teror Bom yang terjadi di Surabaya serta Kerusuhan di Mako Brimob, hasilnya terdapat 100 berita dalam tagar “Mako Brimob”, 240 berita di bawah tagar “Bom Surabaya”, serta 90 berita lainnya ada dalam tagar “Mapolda Riau”. Heychael menilai bahwa kuantitas dari pemberitaan yang dibuat oleh Tribun sangatlah mengeksploitasi kasus teror yang terjadi secara beruntun tersebut.  Dan kebanyakan artikel yang dibuat juga belum tentu ‘berbobot’ melainkan ‘tambalan’ dari artikel lainnya.

Dan bahkan, momen-momen yang sensasional tersebut menjadi resep bagi Tribun untuk mengangkat berita mengenai Ipda Auzar yang tewas akibat serangan di Mapolda Riau. Buktinya, Tribun menurunkan berita mengenai 5 fakta keseharian Ipda Auzar selama masih hidup. “Pemberitaan semacam ini seolah hendak mengatakan bahwa kekejaman terorisme kian parah ketika yang menjadi korban adalah seorang alim,” ujarnya dalam artikel tersebut, “Niat mendulang simpati pembaca berakhir dengan membuat hirarki korban atas dasar agama.”

Ada juga video yang dibuat oleh Tribun mengenai identitas dari istri terduga pelaku teror yang menekankan bahwa cadar bisa menjadi simbol yang bisa dianggap diskriminatif bagi banyak orang. Membuat wanita bercadar berkemungkinan dipersekusi oleh orang lain.

 Indikasi ini terlihat dari komentar-komentar dalam channel Youtube Tribunnews yang berbunyi, “Pantesan istri Terrorist selalu bercadar..tapi bukan berarti yg bercadar semua pasti istri Terrorist lo yaa.. hehhehee”.

Heychael juga menyebut bahwa Tribunnews sudah semakin kelewatan dengan mencari untung sedalam dalamnya, dengan memanfaatkan misinformasi. Ia memberi contoh dari artikel Ahmad Dhani Sebut Bom Surabaya Itu Konspirasi Penguasa Gelap. Tribun memanfaatkan ucapan orang yang tidak berfaedah dalam kasus tersebut, dan hanya publik semakin terpecah akibat masalah ini. Dan ada lagi artikel yang disebutkan disitu.

tidak ada satu pun kritik atau pembingkaian yang berupaya menghindari artikel ini menjadi glorifikasi atas terorisme. Absennya kerangka kepentingan publik dalam seleksi informasi, verifikasi data dan informasi, ataupun pembingkaian yang mengkritik ideologi teror sesungguhnya adalah ciri umum jurnalisme Tribunnews dalam meliput terorisme.

 

Dalam kurun beberapa jam, artikel Remotivi di balas keras oleh Tribun dengan membuat artikel berjudul “Analisa yang Tendensius, Kasar, dan Tidak Fair” dan artikel tersebut dibuat oleh Pemimpin Redaksi Tribunnews Dahlan Dahi.

Dalam artikel yang panjang tersebut, dengan 4 halaman yang semestinya bisa digabung jadi satu, dapat disimpulkan bahwa Tribun sangat gelagapan dan asal menuduh Remotivi sebagai pengamat Media yang tidak adil dalam menganalisis sebuah Media, dan hanya fokus pada Tribun. Padahal kalau kita bisa lihat dari situs Alexa, Tribun menjadi portal berita dengan traffic yang tinggi, jadi tidak heran dong kalau Remotivi mengamati Tribun.

Pengaruh berita yang dihasilkan Tribun dapat memberi efek yang masif apabila kalangan menengah kebawah hanya menerima sumber berita dari Tribun saja, dan pastinya apabila tak ada sumber lain yang ada, dapat dipastikan linimasa anda kedepannya hanya akan penuh dengan umpan-klik macam ini.

Dan masalahnya, Tribun tak hanya membuat artikel umpan-klik dalam tema terorisme saja. Portal berita tersebut juga membuat banyak umpan-klik di berbagai bidang berita seperti Politik, Kriminal, Agama, Lifestyle, dan masih banyak lagi. Semakin banyak yang berkunjung, semakin banyak iklan yang ada, dan pastinya Tribun sekali lagi akan mendapatkan untung dan anda hanya akan mendapat buntung!

Dalam akhir artikel karya Muhamad Heychael tersebut, ia mengakhirinya dengan paragraf berikut :
Jurnalisme Tribunnews adalah anarki pasar; jurnalisme Tribunnews cuma punya satu saringan: sensasi yang menyedot perhatian. Dengan cara ini, mungkin Tribunnews bermaksud mewadahi segala macam kebutuhan pasar. Namun, dengan berlaku demikian, sesungguhnya Tribunnews tengah memberi teroris apa yang mereka paling inginkan: perhatian dan wadah untuk menyampaikan pesan.”

“Kita butuh lembaga seperti Remotivi yang terus bersikap kritis pada berbagai media di Indonesia. Memang harus ada yang terus mengingatkan kita semua bahwa banyak media online yang melampaui batas ketika membuat konten. Media, juga kita semua, butuh diingatkan dan dikritik. Karena kalau tidak, semua bisa kebablasan.” Seperti yang saya kutip dari Mojok.co perihal masalah Tribun vs Remotivi ini.

Dan kutipan tersebut memanglah benar, layaknya KPI untuk Pertelevisian dan Radio, Remotivi hadir secara independen untuk ‘menghimbau’ Media Penyiaran yang ada di Indonesia untuk berbenah, setidaknya pindah haluan dikit lah agar tidak bermasalah dan kena blecut dari KPI.

Sementara itu, Avicenna Raksa Santana dalam User Story-nya di Kumparan menyebutkan bahwa artikel Heychael ini dimaksudkan untuk menyadarkan masyarakat mengenai apa yang telah media perbuat kepada mereka, dan dapat membuat mereka mencari alternatif media lain yang lebih kredibel dan lebih indepth.

Dan menurut saya sendiri, memang sepantasnya Tribun mendapatkan ‘kritik’ dari Remotivi. Karena apabila masih saja terus seperti ini, bisa saja warganet menengah kebawah yang mengonsumsi berita dari Tribunnews bisa terkena efek dari misinformasi yang diberikan oleh Tribun dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, yang nantinya apabila tidak dapat ditanggulangi, akan menjadi sebuah balon helium yang pecah akibat sebuah api dan akan membakar kawasan disekitarnya.

Nawala Karsa NK Kurio