Ketika Tik Tok di”Go Block”in Menkominfo

Avatar

Mukadimah

Sejujurnya, saya sebenarnya tidak terlalu peduli walaupun lengket dengan kehidupan berinternet yang seringkali menjadi rumah kedua setelah sepi dan seraknya kamar ibarat kapal pecah… Melalui Smartphone.

Semenjak Android menjadi keniscayaan karena mengalahkan BlackBerry dan “Gawai Tiongkok yang bisa internetan” dengan teknologi yang melampaui J2ME dimana orang kebanyakan mengunduh gim melalui Waptrick dengan kuota berharga mahal.

Dan itu di mulai sejak 2010. Hanya 8 tahun untuk membuat segelintir dari 848 Juta Penduduk Indonesia (Kemendagri, 2018) memasuki ruang maya dan memakai topeng alih-alih menjadi beken dengan beragam aplikasi media sosial.

Merata di semua kelas ekonomi, dan mengembang menjadi masyarakat digital dengan beragam pandangan. Dan itu terungkap dengan berapa banyak konsumsi kalori badan untuk mengetik argumen-argumen asal tembak, ataupun fokus atur tata letak font Impact untuk sebuah meme.

Dari semua usaha itu, seberapa ketidakfaedahannya, faedahnya tetap bertuju untuk berdiri di puncak Maslow. Ya, walaupun ‘umbar keindahan alam’ di Bigo Live juga ada faedahnya untuk menghibur dan menggoda. Dan hasil dari turun gunung tersebut bermacam-macam. dari hypebeast influencermemelordshitposter hingga Bowo Alpenliebe.

Iya! Bowo! (owo)
Artis TikTok itu loh!

 

Ada Apa Dengan Bowo?

Sejak beberapa minggu terakhir, Prabowo Mondardo “Alpenliebe” menjadi idola bagi komunitas aplikasi video musik TikTok. Aplikasi dari TouTiaoBYTEMOD yang masuk ke Indonesia sejak Kuartal 3-K4 2017 tersebut memang secara persisten mengorbitkan seorang anak SD lugu tersebut ke kelas yang tinggi (dalam sosial, tentunya)

Tetapi ketika lagi istirahat di suatu pojok internet di keramaian Jalan Merdeka di Palembang, Saya malah mengernyitkan dahi ketika datang berita dari Linimasa Facebook bahwa Tik Tok telah diputus jalurnya (sementara) oleh Menkominfo. Saya pun ketawa kecil bertambah geleng kepala setelahnya.

Setelah berminggu-minggu respon negatif dari masyarakat yang menganggap Tik Tok bikin Goblok, akhirnya Menkominfo meng-“go block“-kan Tik Tok. Ini bukan tanpa alasan. Dan lagipula secara opini meskipun laporan dari tim pemblokiran mengenai hal tersebut sudah banyak, berarti kita bisa saja menyadari bahwa warganet kita ini latah budaya.

Latah budaya? Iya. Saya gak asal bicara (kalau bicara definisi). Latah budaya lain dengan ikut-ikutan. Latah budaya lebih mengikuti substansi yang tidak dipikiran dengan matang mengenai efek jangka panjang dari sebuah peristiwa kecil. Contoh dekat deh, ada kala kamu pernah gila-gilaan ikut lipsync saat SMP.

Di mana kamu akan ‘menyesalinya’ di tempat tidur di umur produktif sepanjang kamu mengingatnya. Entah dengan ketawa atau pecah tangis sekalipun. (Namun ketika artikel di internet banyak yang berbilang “Budaya Latah”, sebenarnya ini adalah hasil individu yang latah budaya yang terakumulasi secara komunal)

Klik saja gambarnya, untuk versi lengkap dari Terms of Condition

Kembali ke perihal pemblokiran ini, Menkominfo telah memutuskan untuk putus jalur interaksi antara Tik Tok dengan Pengguna Akhir mereka karena keberadaan Bowo. Iya lah! Bowo itu masih belum bisa dibilang dewasa. Bahkan, Tik Tok menginstruksikan bahwa tidak wajar bila anak di bawah 16 tahun menggunakan Tik Tok. Hal itu diperkuat dengan konten-konten kontraproduktif yang ada di Tik Tok itu sendiri. Mengedepankan sensualitas, berahi, seperti kehidupan malam pada umumnya yang bisa dicicipi secara gratis melalui Tik Tok.

Hasil keputusan Kominfo tersebut membuat penggandrung dan pembenci aplikasi tersebut bereaksi goblok keluar batas wajar. Tetapi senada dengan argumen dewasa kebanyakan, Saya sebenarnya tidak terlalu peduli. Hanya orang-orang yang latah budaya yang kita masalahkan. Beberapa alasan bisa diungkapkan jika orang-orang yang terlibat di dalamnya terlalu linglung dalam clip culture.

Clip Culture adalah suatu peristiwa dalam dunia internet yang di mana terjadi kepopuleran masif antara antara klip video dengan penyalurannya. Di Indonesia, kasarnya ini dimulai ketika Vine memasuki Indonesia mengalahkan konten-konten Youtube yang panjang dan kadang warganet bingung untuk mengambil titik penting dari sebuah pesan yang ada di konten video tersebut. Dan karena Vine, pasar Youtube mulai terstimulasi dengan banyaknya kreator Youtube yang membuat konten yang berkualitas sama.

Sebelum melanjutkan, jangan lupa baca yang satu ini ya!

https://nawalakarsa.com/inidia-cara-mudah-mengakses-tiktok-saat-diblokir/

 

Tersesat Dalam Clip Culture

Bidan Jadikan Bayi Yang Baru Lahir Sebagai Obyek Di Video Tik Tok-nya. / Liputan6.com

Karena Tik Tok, banyak orang yang tertarik untuk menginvestasikan dirinya untuk membuat orang-orang merasa berperasaan sama, dan itu memicu rasa terhibur. Tetapi kita coba telusuri lagi paparan dari aplikasi yang digandrungi hingga 50 juta yang masih kalah dengan Smule itu. Apa yang bikin kita jarang lupa akan Tik Tok? Ya, Penyalahgunaan.

Berita penyalahgunaan Tik Tok kepada almarhum dan bayi yang akhirnya salah secara semantik pengundang snowball effect tersebut menggambarkan kita bahwa untuk membuat orang terhibur tidak selalu berhasil dalam faktor tertentu. Jangankan Tik Tok, Sebagus-bagusnya tempat perkuburan Yahudi korban Holocaust di Jerman itu bukan untuk penghiburan, kok. Karena ada saja misconduct terhadap maksud dengan reaksi. Dan juga itu contoh yang terlalu gede untuk di kasih tahu, kok. duh. *galau*

Kembali dengan Clip Culture, karena keberadaan dan keberagaman klip video, entah dalam segi substansi seperti Advertising, Amateur, Citizen Journalism, Vlog hingga secara afirmasi untuk berbagi alih-alih persuasi memberitahu temannya yang depresi untuk tidak mengakhiri hidupnya; Atau jadi argumen jahat yang menikam siapapun seperti perlakuan abuse terhadap pemerintahan terbuka oleh Petahana di masa Pilkada 2017.

Karena keberagaman yang membuatnya berfluktuasi, kompetisi akan konten video manakah yang terbaik secara preferensi diri, yang akhirnya memunculkan strategi kebudayaan dimana-mana. Namun, strategi budaya dalam fluktuasi kualitas (eksekusi) dan eskalasi kuantitas konten dari beragam platform itu bukan sesuatu yang utama, karena preferensi ketika ingin menonton masih menjadi titik henti akhir dalam menentukan suatu klip video yang sukses secara kesan dan pesan.

Karena hasil Clip Culture ini lah, ada potensi untuk membuat masyarakat menjadi terbuka pada budaya lain hingga terjadi silang budaya. Walaupun silang budaya adalah bentuk pengenalan budaya luar menjadi jalur masuk alkulturasi dari budaya itu pula. Namun masalahnya. Dampak dari Clip Culture juga kontraproduktif. Karena variasi video yang banyak, menciptakan komoditas, tak jarang kita akan bertemu konten-konten yang kurang sedap secara kesan dan pesan. Seperti Tik Tok ini.

Tik Tok penuh dengan kontraproduktif di dalamnya karena tidak adanya nilai yang benar-benar berarti dalam konten video di dalamnya, dan itu diperparah dengan region lock. Pengguna Tik Tok Indonesia susah mengakses Tik Tok Jepang kecuali memodifikasi aplikasinya. Lain dengan Vine saat itu yang mendunia secara akses. Walaupun sekarang Instagram juga memakai hal yang sama. Oleh karena itu Tuntutan di Indonesia kali ini untuk urusan video-sharing seperti Tik Tok hanyalah pengawasan konten yang kini diurusi Menkominfo, dan Kebebasan akses secara global untuk mencari konten yang lebih baik karena degradasi nilai yang disajikan dalam konten Tik Tok Indonesia, atau menuntut kreator dalam Tik Tok di Indonesia untuk memperbaiki kualitas konten yang mereka perbuat. Bukan sekadar umbar aurat dan keren-kerenan.

 

Cara Untuk Eksis Sudah Bagus?

Nuranni, salah satu orang yang Viral berkat ‘kegoblokan’ para pengguna Medsos

Karena kita hidup di negara Republik yang bukan liberal, kita masih terikat konsensus mengenai moral yang berlaku di kehidupan bermasyarakat. Dengan kata lain, untuk beken lewat Tik Tok itu boleh asal tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Bahkan jika sampai jadi idola dan membuatmu ingin buka meet and greet receh sejumlah 300 ribu Rupiah.

Karena hal keterbukaan diri terhadap publik melalui media video seperti Tik Tok harus dilandasi rasa tanggung jawab yang disamaratakan dengan jenaka yang akan di sajikan untuk teman, rekan, keluarga, dan siapapun. Bila konten yang kalian perbuat di Tik Tok sukses dan viral, cobalah untuk mengedukasi penonton dengan mengenal rating dan ajari untuk membedakan hal yang boleh dan tidak boleh untuk dijadikan materi lelucon.

Hal ini yang sangat mungkin alpa untuk khalayak warganet Indonesia sekarang, dan itu sangat-sangat disayangkan karena keseimbangan antara etika dan humor tidak selalu bagus dalam aktivitas kreatif mereka. Dan karena itu pula akan memicu snowball effect karena cercaan karena isi video yang disampaikan.

Jadi, Sadari semua hal yang kalian temui di Internet karena jika kalian berinteraksi dengannya, mereka berpotensi untuk memasang nilai baru kepada kalian, hingga menimpa hal-hal usang yang terpasang sejak didikan orang tua kita. Juga karena era global, semuanya serba terbuka, dan dinamis. Jadinya Beradaptasi atau Mati. Dan Beradaptasi bukan berarti ikut-ikutan, Jangan hanya karena menonton suatu video yang lucu langsung bisa di ikuti. Harus tau situasi kondisi kita dan orang di sekitar kita agar tidak rugi kedepannya.

Dan kembali lagi ke kasus Bowo, ikuti aturan dari layanan aplikasi yang tersedia. Selaku orang tua yang seharusnya punya tanggung jawab, Ajarilah anak anda dalam menanggapi hal yang mereka temui pada lingkungan mereka, seperti daya guna atau semacamnya. Konten Tik Tok berdampak serius dalam soal kontraproduktivitas dan membuat efek buruk dalam pengembangan psikososial mereka.

Akhir kata, jangan jadi goblok karena mengirim video yang gak elok ke Tik Tok yang membuat pemerintah kita terpaksa nge-blok, GOBLOK!

Artikel ini bukan merupakan pandangan umum dari seluruh staff NawalaKarsa, melainkan opini pribadi dari penulis sendiri.