Kampong Gelam merupakan sebuah kawasan di Singapura yang terkenal karena warna-warni sejumlah karya seni yang berada di sana. Tidak hanya usaha-usaha tradisional dan juga landmark, kawasan yang diresmikan sebagai area konservasi pada 1989 tersebut menjadi titik pertemuan seni dan budaya, serta tempat untuk menyaksikan berbagai karya seni tradisional seperti ketoprak dan wayang kulit.

Seni mural dan graffiti pertama kali muncul di Kampong Gelam pada 2010 silam. Banyak di antaranya merupakan karya komisi inisiatif dari para pemilik usaha setempat. Melihat perkembangan seni di tempat ini, One Kampong Gelam selaku asosiasi yang mewakili dan mendukung para pemangku kepentingan di kawasan tersebut pun meluncurkan inisiatif bernama Hall of Fame, sebuah galeri seni mural pertama di Asia Tenggara.

Hadirkan Hall of Fame untuk seni mural

hall of fame singapura

Pada April 2021 ini, One Kampong Gelam akan merilis Hall of Fame untuk seni mural, yaitu sebuah ruang dengan tembok-tembok yang dapat digambar secara legal. Galeri seni mural atau grafiti pertama di Asia Tenggara ini akan menampilkan berbagai karya dalam sebuah tembok berukuran lima meter bekas papan pembatas proyek konstruksi yang disebut sebagai kanvas metal.

Meskipun diselenggarakan oleh One Kampong Gelam, insiatif Hall of Fame juga mendapat dukungan dari berbagai badan organisasi di Singapura. Hall of Fame didukung oleh Singapore Tourism Board, Urban Redevelopment Authority, Land Transport Authority, serta GS Engineering & Construction Corporation.

Nantinya, karya-karya seni mural dari para seniman urban akan ditampilkan dalam dua kawasan di Kampong Gelam, yaitu di Bali Lane dan Ophir Road. Sebanyak 8 karya akan ditampilkan di sepanjang jalan Bali Lane dengan jarak 131 meter. Sementara itu, 6 karya lainnya akan terbentang sepanjang 107 meter di Ophir Road.

Kanvas metal di Singapura jadi wadah untuk mural

Salah satu wadah yang akan ditampilkan dalam gelaran ini adalah kanvas metal. Kanvas metal ini tadinya merupakan papan penghalang keributan akibat pekerjaan konstruksi. Melalui gelaran Hall of Fame, papan penghalang keributan ini didesain sebagai wadah untuk karya seni mural yang muncul dalam inisiatif ini.

hall of fame singapura

Aileen Tan, juru bicara One Kampong Gelam dan pemilik kafe Blu Jaz, menjelaskan mengenai penggunaan kanvas metal dalam Hall of Fame. “Pekerjaan konstruksi yang tengah berlangsung berdampak pada usaha dan area depan toko,” jelasnya. “Oleh karena itu, kami bekerja sama dengan para pemangku kepentingan untuk mengurangi dampak tersebut serta mengubah tembok penghalang keributan menjadi ruang seni publik.”

Aileen juga berkata bahwa seniman adalah penerjemah terbaik yang bisa bercerita tentang bagaimana kesulitan dapat diubah menjadi kesempatan. “Kami merasa terhormat karena mendapat dukungan dari Singapore Tourism Board, Urban Redevelopment Authority, Land Transport Authority, dan GS Engineering & Construction untuk menjadikannya nyata.”

17 seniman akan berpartisipasi

Sebuah pameran karya seni tidak akan pernah lengkap tanpa karya para seniman urban yang terlibat di dalamnya. Dalam ruang seni publik yang dibuat untuk merayakan para seniman urban, akan ada sebanyak 17 orang seniman, dari pendatang baru hingga yang ternama, yang berpartisipasi dan mempersembahkan karya mereka untuk ditampilkan.

hall of fame singapura

Di Bali Road, akan hadir karya masing-masing dari Didier ‘Jaba’ Mathieu dan ANTZ. Sebuah karya seni mural yang menampilkan seniman graffiti sebagai pendekar dengan senjata berupa sekaleng cat warna kuning karya AshD dan NOEZ23 juga akan hadir di sini. Ada pula karya Has.J yang menampilkan para pejalan kaki dan bagaimana tiap-tiap orang berjalan dengan cara yang berbeda, serta karya seniman tato Sei10 yang melukis Tamatori Hime (Penyelam Mutiara), seorang tokoh dari cerita rakyat Jepang yang dipadukan dengan muatan lingkungan serta budaya batik lokal.

hall of fame singapura

Sementara itu, di Ophir Road, hadir sebuah karya kolaborasi bernama Constant Elevation yang dibuat oleh Mathieu, ANTZ, dan Hegira. The Journey’ sebuah karya yang menampilkan perpaduan masa lalu dan masa kini dan terinpirasi dari persepsi pribadi lima orang seniman terhadap kawasan Kampong Gelam juga hadir mewarnai pameran ini. Melalui karyanya yang berjudul The Journey: Child from Many Cultures, Studio Moonchild menggambarkan sesosok anak kecil yang besar dengan berbagai budaya di sekelilingnya.

Ada karya dari Indonesia di One Kampong Gelam!

Meskipun kebanyakan karya seni mural dalam Hall of Fame akan hadir di Bali Lane dan Ophir Road di Singapura, ada satu lagi karya seni mural dalam ruang seni publik ini yang dipersembahkan oleh seniman asal Indonesia dan Singapura, serta ditampilkan di Indonesia. Karya ini juga menjadi bentuk kolaborasi karya lintas budaya pertama di Hall of Fame.

Seorang seniman urban asal Indonesia, Stereoflow, dan seniman asal Singapura, ZERO, membuat sebuah karya bernama Under the Same Sun. Karya yang satu ini mengikuti narasi dari kampanye Singapore Tourism Board untuk Indonesia, SingapoReimagine, yaitu mengenai perjalanan wisata di masa depan lewat narasi holistik lintas batas.

Hasil karya ZERO akan ditampilkan sebagai bagian dari Hall of Fame di Bali Lane, Singapura. Stereoflow sendiri akan membuat karyanya dan akan ditampilkan pula di M Bloc Space, sebuah ruang seni publik yang populer di kalangan anak muda Indonesia yang ada di kawasan Melawai, Jakarta Selatan, Indonesia.

Selain Hall of Fame, para pengunjung juga dapat mengikuti berbagai aktivitas dan petualangan urban yang ditawarkan di lokasi setempat. Para pengunjung Kampong Gelam dapat mengikuti sejumlah aktivitas seperti tur jalan kaki yang terkurasi, workshop spray-painting dari para seniman, dan aktivitas lainnya.

Pameran seni mural grafiti di ruang publik Singapura, Hall of Fame, akan dapat dikunjungi para penyuka seni mulai pada hari Kamis, 28 April 2021. Ruang seni publik ini buka selama 24 jam dan dapat diakses dengan mudah pula oleh para pengguna MRT, yaitu melalui stasiun Bugis MRT.

Nawala Karsa NK Kurio