Metro TV dan Misteri Kekuatan Industri Media Televisi

Avatar

Tahun ini, Metro TV akan menginjak usia 18 tahun, yang dimana hari jadinya akan dilangsungkan pada 25 November 2018 mendatang, yang merupakan hari ulang tahunnya.

Dan ada yang membuat saya tertarik dalam memandang Metro TV dari segi roda operasionalnya, terlepas isu kontroversi dan isu miring tentang stasiun televisi swasta nasional ke-6 di Indonesia ini, saya punya beberapa catatan keunggulan pengelolaan Metro TV beserta kepercayaan dirinya melawan kompetitor.

Dalam ulasan Majalah “Tempo” edisi Oktober 2000, sebuah ulasan mengenai kehadiran Metro TV dimuat. Dan hampir semua masyarakat menyambut gembira, karena Metro TV adalah stasiun televisi swasta baru dan pertama diluncurkan pada era-reformasi. Konsep yang diusungnya adalah seperti stasiun televisi berita “CNN International”.

Ada yang tidak dibahas dalam artikel tersebut, yaitu mengenai kepemilikan dan asal – usul Metro TV. Dalam laporan keuangan Bimantara Citra, Metro TV merupakan stasiun televisi yang 30 persen sahamnya dimiliki oleh induk usaha dari RCTI. Dan tujuan siaran Metro TV ini adalah untuk memperkuat jaringan berita yang sudah dikembangkan oleh RCTI melalui PT Sindo Citra Media (yang kemudian dibubarkan). Sebuah teka-teki juga muncul, bahwa Metro TV lahir dari sebuah idealisme pemberitaan khas, yaitu Seputar Indonesia dan RCTI. Ini bisa dibuktikan dengan komposisi logo, warna logo, ciri khas logo, konsep berita, serta kru pendukungnya, yang mengadaptasi dari RCTI (bukan hanya adaptasi. Awak berita pun berasal dari RCTI juga).

Dan Surya Paloh sendiri bukanlah orang asing bagi Bimantara Citra, terutama petingginya. Harian “Media Indonesia” yang ia rintis dari tahun 1991, dimana harian tersebut merupakan reinkarnasi dari harian bisnis “Prioritas” yang dibredel karena terlalu berani, juga merupakan “koran”nya RCTI. Artikel dan berita yang dimuat lebih dititikberatkan pada RCTI serta lini bisnisnya, yaitu Bimantara. Begitu juga dengan terbitnya majalah televisi “Vista” (kemudian berubah menjadi Vista TV) yang menjadi kekuatan RCTI. Penggantian nama dari Vista ke Vista TV juga bukan tanpa alasan, mengingat pengasuh televisi ikut mengeluh karena RCTI selalu dianakemaskan, sementara majalah tersebut menitikberatkan pada televisi, bukan hanya dari sudut pandang RCTI semata.

Kedekatannya dengan petinggi Bimantara, tak lain dan tak bukan adalah dengan Rosano Barack. Istri dari Surya Paloh, Rosita Barack, merupakan kakak kandung dari Rosano. Surya Paloh juga memiliki peran penting dalam berdirinya RCTI, sehingga keterkaitan antara RCTI dan Metro TV praktis tidak dapat terbantahkan. Sebuah tanah di Kedoya, yang awalnya merupakan tanah milik RCTI, dibeli oleh Surya Paloh untuk memperluas gedung Metro TV, yang dimana sebelumnya Metro TV masih menumpang pada Gedung Media Indonesia, yang ada di sebelahnya.

Dulu Sahabat, Sekarang Jadi Lawan

Logo Bimantara Citra

Akhir dari kedekatan antara RCTI dan Metro TV terjadi pada tahun 2003. Bimantara Citra, yang saat itu sudah dinahkodai oleh Hary Tanoesoedibjo, melepas saham kepemilikannya di Metro TV sebesar 25 persen, dan 25 persen saham itu dijual kepada PT Centralindo Pancasakti Selular, yang dikendalikan oleh Surya Paloh. Dengan demikian, tidak ada lagi porsi kepemilikan Bimantara di Metro TV, sehingga Surya Paloh dapat menjalankan sepenuhnya bisnis televisi ini.

Tahun 2004, siaran Metro TV telah disaksikan melalui 45 stasiun transmisi yang tersebar di Indonesia, termasuk di kota atau kabupaten yang belum terjamah siaran televisi swasta. RCTI, yang mengklaim diri sebagai stasiun televisi dengan jangkauan siaran terluas, nampaknya harus mengakui kekalahan ini, karena pada saat itu RCTI baru bisa disaksikan dengan 42 stasiun transmisi. Dari 45 stasiun transmisi, terakhir pada tahun 2016 jumlahnya bertambah banyak, dan dalam pendataan terakhir, sudah mencapai 85 stasiun. Ini berarti RCTI sudah terlampau ketinggalan, begitu juga divisi berita yang kini dibentuk dalam jaringan stasiun televisi baru bernama iNews TV (sebelumnya bernama SUN TV dan Sindo TV), yang jumlah stasiun pemancarnya berjumlah 75 stasiun.

Kerjasama antara Metro TV dan RCTI pernah berlangsung dalam penyediaan stasiun transmisi. Jakarta, Bandung, Medan, Denpasar, dan Yogyakarta merupakan kota yang dimana keduanya berada dalam satu menara pemancar. Dan kerjasama tersebut diakhiri seiring dengan pembangunan stasiun transmisi mandiri milik Metro TV. Terakhir, Metro TV meresmikan stasiun transmisi mandiri di Bandung, pada Oktober 2014 lalu. Sebelumnya, Metro TV mengudara melalui pemancar yang dimiliki oleh RCTI di kawasan Panyandaan, Lembang, KBB.

Sekian lama menjadi lawan, tahun 2012 muncul kehebohan publik. Hary Tanoesoedibjo, yang dulunya adalah tokoh kunci dibalik pelepasan kepemilikan Metro TV dari Bimantara, kembali dekat dengan Surya Paloh. Ia terjun di partai politik yang diprakarsai oleh Surya Paloh, yaitu Partai NasDem (Nasional Demokrat). Meski hanya berlangsung selama dua tahun, namun itu menjadi catatan sejarah, bahwa kawan jadi lawan, kembali lagi dapat menjadi kawan.

Masih Diatas Angin

Saya masih ingat ketika liputan “Breaking News” saat Tsunami menerjang Serambi Mekah, Aceh, dilanda musibah yang teramat dahsyat. Tersapu amukan gelombang tinggi yang meluluhlantahkan semuanya. Ratusan-ribu jiwa terenggut nyawanya, dan ada yang hilang tersapu ombak.

Surya Paloh, langsung turun tangan. Ia yang menyaksikan langsung detik-detik terjadinya Tsunami yang dikirimkan oleh kru Metro TV di Aceh, memerintahkan semua awak redaksi untuk terkonsentrasi pada penanganan bencana. Surya Paloh menerjunkan helikopter dengan bantuan logistik yang dibawanya. Mobil satelit bergerak yang terparkir di Jakarta dan Medan, bergegas menuju lokasi. Dan bukanlah perkara mudah mengakses jalan yang sudah tercampur dengan reruntuhan bangunan, lumpur, bahkan jasad manusia yang tertimbun.

Ada yang membuat saya ikut tergetar hati menyaksikan siaran langsung telekonfrensi eksklusif Najwa Shibab dari Aceh. Yang saya ingat kala itu, presenter studionya adalah Fifi Aleyda Yahya. Najwa Shihab menangis. Ia menyaksikan langsung warga yang kelaparan, mengetuk dan menggedor kaca mobil Metro TV, dan Najwa Shihab berada di dalam mobil itu, dengan membawa sekotak kecil biskuit yang dibawanya. Dalam tangisannya, Najwa Shihab meminta agar pihak berkepentingan, untuk lebih perduli terhadap masyarakat korban bencana alam. Apa yang disampaikan Najwa ini menyayat hati pemirsa, dan bantuan terus bergulir.

Metro TV Yang Kini, Bagaimana Mereka Bertahan?

Metro TV, hingga kini masih merasa bahwa ia satu-satunya stasiun televisi swasta berita, yang sejak lahir sudah disiapkan sebagai televisi berita. Sekalipun kini sudah banyak pendatang seperti iNews TV, Kompas TV, CNN Indonesia, hingga musuh bebuyutannya, tvOne, Metro TV masih merasa percaya diri. Bukan hanya persoalan jumlah stasiun transmisi yang banyak. Metro TV menjadikan berita sebagai sarana penyampaian yang sesuai dengan pemirsanya, baik di Indonesia maupun WNA.

Bukan tidak mungkin, jika “Indonesia Today” yang merupakan senjata andalan RCTI untuk pemirsa asing, akhirnya kalah telak oleh kehadiran “Metro This Morning” racikan Metro TV. Jamnya sama, bobotnya beda, tapi pemirsa asing lebih menyukai Metro This Morning. Lawan mainnya seperti “News Watch” SCTV juga ikut berhenti tayang, termasuk lawan dari pendatang barunya, Lativi, yang hanya bertahan sekitar satu tahun dengan program “LatiVision”

Artinya, Metro TV punya pasar yang pas. Etnis Tionghoa pun merasa terbantukan dengan kehadiran Metro TV, dengan hadirnya “Metro Xin Wen”. Dan program ini adalah program pertama di Indonesia yang menggunakan bahasa Mandarin sebagai pengantarnya.

Pertanyaannya, bagaimana Metro TV bisa “bertahan” meski ratingnya selalu dibawah 2 persen ? Tentu Metro TV punya alasan lain. Lagipula, mana ada stasiun televisi berita yang punya rating diatas 5 persen lebih ? Kalaupun ada, bukan konten beritanya yang bagus, melainkan ada hal yang bersifat keberpihakan, dan ini nyaris sulit dihindari stasiun televisi manapun, termasuk Metro TV.

Kemudian saya melirik ke kesaktian Surya Paloh. Ya, Surya Paloh bukan pengusaha kelas kecil. Ketika Metro TV bisa bertahan dari benturan dan “angin” dari samping, Surya Paloh punya caranya sendiri, tanpa harus bergantung pada pihak asing. Yang saya tahu, Surya Paloh punya banyak perusahaan dimana-mana, dan Metro TV adalah sebagian kecil yang bisa disuntik dana dari perusahaan yang ia miliki. Toh, bebannya hanya Metro TV. Bahkan, berani memasang perangkat siaran televisi digital di stasiun transmisinya, pertanda bahwa Metro TV tidak bisa dipandang sebelah mata. Investasinya besar, menelan biaya sangat tinggi, tapi Metro TV tidak bergeming dengan kerugian yang datangnya dari tendensius pemirsa. Karena Metro TV punya senjata sendiri, dan tidak dipusingkan dengan “saudara” seperti media besar lainnya.