Ini Profil Singkat Enam Seniman Universal Iteration Kedua Salihara, Satu dari Jepang!

Pameran Universal Iteration kedua yang bertajuk Intermissions ini berlangsung selama satu tahun, memamerkan enam karya dari sejumlah seniman terpilih.

Seno Triadi
universal iteration intermissions
Laman utama untuk galeri pameran daring Universal Iteration: Intermissions, Galeri Salihara. | Foto: Galeri Salihara (galeri.salihara.org)

Pameran daring Universal Iteration kedua sudah bisa pengunjung nikmati lewat galeri Salihara, mulai Sabtu (28/5) lalu.

Komunitas Salihara kali ini telah menyeleksi enam seniman yang berpartisipasi ke dalam pameran yang akan berlangsung hingga Minggu (28/5/2023) nanti.

Siapakah keenam seniman yang menyumbangkan karyanya? Berikut biodata singkatnya!

Aki Onda – Stack Until It Falls Down

aki onda
Potret Aki Onda dengan karyanya, Stack until it falls down. Foto: Maki Kaoru via Portland Institute for Contemporary Art | Komunitas Salihara

Merupakan seorang seniman dan komposer yang tinggal di Mito, Jepang. Karya-karyanya sering mengangkat isu sekitar ingatan, baik pribadi, kolektif dan sejarah.

Salah satu proyeknya yang terkenal adalah Cassette Memories (2004) yang direkam selama tiga dekade.

Karyanya telah dipresentasikan di berbagai negara, di antaranya documenta 14, Museum Louvre, Pompidou Center, Palais de Tokyo, Fondation Cartier, Argos, Bozar, ICA London, International Film Festival Rotterdam, Toronto Biennial of Art, The Kitchen, dan MoMA.

Eldwin Pradipta – CHARTA

Salah satu Laman CHARTA. Gambar: Eldwin Pradipta via Komunitas Salihara

Eldwin Pradipta lulus dari Jurusan Intermedia, Fakultas Seni & Desain, Institut Teknologi Bandung. Karyanya kerap mengeksplorasi proyeksi video dan media digital lainnya.

Ia pernah terpilih sebagai salah satu finalis BaCAA ke-4 pada 2015 dan turut mengambil bagian dalam Indonesia Art Award 2015 yang diinisiasi oleh Yayasan Seni Rupa Indonesia.

Ia juga telah mengikuti beberapa pameran, seperti South East Asia Forum (Art Stage Singapore) dan Fantasy Island in Objectificts (Center for Film and Photography, Singapura, 2017).

Karyanya pernah dipamerkan di Manifesto 6.0: Multipolar (Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 2018) dan Beyond Painting: Extend the Boundaries (Art Expo Malaysia, 2019).

Indah Arsyad – Buaya Buntung

Laman karya Buaya Buntung, oleh Indah Arsyad. Gambar:Situs Buaya Buntung via Galeri Salihara

Merupakan lulusan Fakultas Arsitektur Lansekap dan Teknologi Lingkungan, Universitas Trisakti, Indah Arsyad berkarya dalam bentuk tulisan, instalasi, patung dan seni media.

Karya-karyanya mengangkat isu-isu sosial, budaya dan lingkungan yang selalu didasarkan pada penelitian ilmiah.

Karyanya telah dipamerkan dalam berbagai pameran nasional dan internasional, termasuk pameran tunggal di Museum Nasional Indonesia dengan tajuk On The Way (2008).

Ia juga berpameran di London Art Biennale di Chelsea Old Town Hall (Inggris, 2021) dan KNOCK KNOCK KNOCK di Hancock Art Museum (Korea Selatan, 2021).

Rizki Lazuardi – Call Me By Their Name

Laman pembuka karya Rizki Lazuardi, Call Me By Their Name. Gambar: Rizki Lazuardi via Komunitas Salihara

Seorang seniman dan kurator yang bekerja dengan medium gambar bergerak dan expanded cinema.

Ia menyelesaikan pendidikan Film dan Seni Media di HFBK University of Fine Arts Hamburg, Jerman.

Karya dan programnya menjadi bagian dari sejumlah pameran dan festival, di antaranya IFFR Rotterdam, Singapore Art Museum, European Media Arts Festival Osnabrueck, Image Forum Tokyo, dan Jakarta Biennale.

Saat ini ia menjadi salah satu konsultan program di Arsenal Berlin untuk Berlinale Forum.

XXLAB – (R)EMISI

xxlab
Laman pembuka pameran (R)EMISI karya XXLAB. Gambar: XXLAB via Komunitas Salihara

Merupakan sebuah grup inisiatif dari Yogyakarta yang terdiri atas beberapa perempuan dengan berbagai latar belakang disiplin dan keahlian.

XXLAB berfokus pada eksplorasi seni, sains dan teknologi bebas berbasis open source (sumber terbuka) yang dikerjakan secara DIY (Do It Yourself) dan DIWO (Do It With Others).

XXLAB terbentuk pada 2013, sebagai kelanjutan dari lokakarya berseri Ms. Baltazar ID.

Pada 2015 XXLAB memenangi penghargaan Voestalpine Award Prix Ars Electronica, sebuah penghargaan bergengsi di bidang seni media baru untuk kategori “next idea”.

XXLAB juga mengikuti berbagai pameran seni dan inovasi, serta aktif mengadakan berbagai edukasi nonformal.

Yovista Ahtajida – USTARTZ BOT

Laman pembuka salah satu galeri karya Yovista Ahta Jida, Ustartz-Bot. Gambar: Yovista Ahta Jida via Komunitas Salihara

Yovista Ahtajida adalah seniman independen yang tinggal di Jakarta.

Karya-karyanya sering mengangkat relasi kapitalisme dan Islamisme berdasarkan pengalaman keluarga muslim fundamentalis dan latar belakang pendidikan.

Pada 2012 ia mendirikan The Youngrrr, sebuah kolektif seni video. Karyanya dengan The Youngrrr telah dipresentasikan di European Media Art Festival (EMAF) 2014, Berlin International Film Festival (Berlin, 2014), South Asian Visual Art Centre (Toronto, 2014) dan Jakarta Biennale 2015.

Karya tunggalnya telah dipresentasikan dalam Video Vortex XI, pada Kochi Muziris Biennale (India, 2017), W:OW 18, Torrance Art Museum (Los Angeles, 2018) dan Bandung Contemporary Art Award 2017.

Pameran tunggalnya bertajuk Hijrah di LIR Space Yogyakarta (2018).

Tentang Universal Iteration: Intermissions

universal iteration
Gambar poster untuk galeri Universal Iteration: Intermissions. | Gambar: Komunitas Salihara

Pameran Universal Iteration merupakan sebuah bentuk pameran enam seniman yang diadakan Komunitas Salihara Arts Center, Jakarta.

Sebuah pameran dengan konsep bebas dan mendatangkan sejumlah seniman, Universal Iteration tahun ini mengangkat sebuah tema umum bertajuk, “Intermissions”, yang menyinggung isu internet dengan dampak lingkungan.

Diadakan secara daring di situs resmi Galeri Salihara, Universal Iteration kedua akan tergelar selama satu tahun hingga Minggu (28/5/2023).

Semua karya dari enam seniman di atas dapat NawaReaders nikmati melalui situs resmi Universal Iteration: Intermissions, lewat pranala ini.