Quantcast

Beranda » Menurut Kita » Siasat Kedai Kopi Ibukota Bertahan di Masa PSBB

Siasat Kedai Kopi Ibukota Bertahan di Masa PSBB

Selama masa PSBB, industri makanan dan minuman di Ibukota Jakarta harus membuat siasat agar bertahan, salah satunya cabang kedai kopi Starcorner di Halim, Jakarta Timur

Masa PSBB menjadi pilihan yang digunakan pemerintah daerah dalam penanganan COVID-19, termasuk ibukota DKI Jakarta, yang menyebabkan berbagai industri terdampak salah satunya industri food and beverages seperti kedai kopi harus melakukan gerakan atau siasat untuk dapat bertahan.

Menjadi salah satu industri yang terdampak cukup besar, industri kopi atau F&B sekaligus harus mengadakan sebuah gerakan ataupun movement guna terus menggenjot volume pembelian selama masa pandemi COVID-19 dan terhindar dari kerugian.

Saya menemui Zulherman Syahputra, barista dari kedai kopi Starcorner cabang Halim yang sudah tiga tahun berada di industri kopi sekaligus mengelola kedai kopi yang berpusat di Tanah Abang, Jakarta Pusat itu. Ia mengaku bahwa, selama hampir 2-3 bulan masa PSBB, terjadi penurunan jumlah sales di kedai kopi yang ia kelola.

Siasat Kedai Kopi Masa PSBB starcorner
Kopi yang dijajakan di kedai kopi Starcorner sendiri tak hanya sekadar kopi susu saja, melainkan juga kopi manual brew dari biji kopi pilihan | FOTO: Naufal Alfarizy / Nawala Karsa

Ia memaparkan, dari yang biasanya penjualan minuman sekitar 30 hingga 40 cup/cangkir per-hari turun sekitar 80 hingga 90 persen. Terlebih di saat bulan Ramadhan, ia menyebut bahwa penjualan pada saat itu kurang membaik. “Menjelang lebaran (penjualan) baru mendingan,” ujarnya, “Namun bila disebut stabil tentunya tidak, dengan penjualan dibawah angka normal yakni 30 persen.”

Menjelang masa peralihan PSBB ini ia mengaku bahwa meski hanya didatangi sekitar 3 hingga 5 pelanggan dalam satu hari (dibandingkan sebelum pandemi, yakni 10 hingga 15 pelanggan), ia tetap mendapat keuntungan melalui repeat order yang dilakukan oleh pelanggannya. “Alhamdulillah-nya (penjualan) ketolong disitu,” jelasnya.

Industri kopi bahkan F&B benar-benar terpengaruh dengan diberlakukannya PSBB. Zulherman, yang biasa dipanggil Putra, tidak menyangkal hal tersebut. “Di bisnis F&B pasti ada penurunan drastis,” katanya, “jadi gue percaya jika ada suatu masalah atau kekacauan, agar (penjualan) tetap stabil ya kita harus dapat berinovasi.”

Peraturan yang digalakkan pada awal masa PSBB ialah kedai kopi (serta model bisnis dine-in lainnya) dihimbau untuk tidak menerima pesanan makan atau minum ditempat. Putra, bersama rekan-rekannya di kedai kopi Starcorner, melakukan inovasi guna menggenjot volume pembelian dalam ‘menangkal’ kerugian selama masa PSBB.

Inovasi yang ia gerakkan bersama rekannya tersebut ialah memberikan diskon setengah harga pada seluruh minuman yang ada pada layanan pesan antar Go-Food atau Grab Food, berlaku di cabang Tanah Abang maupun Halim. Tak hanya itu, pembelian tersebut tak hanya menguntungkan para pembeli namun juga driver pengantar makanan.

“(Kami beri) gratis 1 kopi susu untuk driver ojek online sebagai bentuk solidaritas kami kepada para driver,” ungkapnya saat kami tanyai di kedai Starcorner Halim.

Selama pandemi sekaligus pembatasan sosial berskala besar tengah diberlakukan di ibukota DKI Jakarta, kegiatan di kedai kopi Starcorner masih relatif aman. “(Selama PSBB) cabang Tanah Abang diurus oleh dua orang lantaran juga jual makanan ringan,” ujarnya, “kalau di Halim, karena hanya menjajakan minuman (kopi) saja, hanya dijaga oleh satu orang saja.”

Tak hanya merasakan efek dari pandemi COVID-19 akhir-akhir ini pada bagian penjualan, ia menjelaskan bahwa adanya penurunan jumlah orang yang memesan secara dine-in. “Intensitas orang yang dine-in (berkurang), dimana teman-teman buat ngobrol dan sharing pasti berkurang,” kata Putra.

Kedai Kopi Starcorner Halim
Kedai kopi Starcorner cabang Halim PK, yang dikelola oleh Putra seorang belakangan ini | FOTO: Naufal Alfarizy / Nawala Karsa

Diberlakukannya PSBB membuatnya juga berpindah lokasi jualan, yang sebelumnya berada di lantai dua Komodor 40 Foodcourt, menjadi di lantai dasar dan bersampingan dengan tempat cuci mobil. “Sebelum PSBB, (kedai kopi Starcorner) buka jam 1 siang sampai jam 8 malam,” terang Putra, “sekarang berkurang jadi jam 5 sore hingga 10 malam.”

Ia sendiri turut berharap agar ada pemulihan kondisi ekonomi atau jual beli di masyarakat pasca pandemi. Meskipun berat, katanya, lantaran kondisi perekonomian masyarakat tengah masuk dalam tahap resesi ekonomi akibat turunnya pendapatan hingga banyak yang terkena PHK selama dua hingga tiga bulan terakhir.

Saat saya tanyai mengenai perhatian ataupun bantuan dari pemerintah daerah, ia mengaku telah menerima bantuan tersebut. Namun di sisi lain, ia menyayangkan kurang tegasnya pemerintah dalam penanganan pandemi ini awalnya. “Bukan kritik namun (saya) menyesalkan,” ungkapnya, “Kalau mau tegas, ya tegas. Jadi rakyat kecil tidak kebingungan saat itu.”

Meski mengalami penurunan keuntungan pada bisnis kedai kopi yang ia usung bersama rekanannya di kedai kopi Starcorner, selama masa PSBB ini Putra merasa adanya dampak positif dari datangnya musibah ini (selain dari melakukan siasat atau inovasi guna menggenjot minat belanja). “Bagi gue pribadi hikmahnya adalah orang-orang dapat lebih menunjukkan bentuk solidaritasnya, humanity-nya lebih terpanggil di saat seperti ini,” jelasnya.

Putra sendiri mengharapkan pada pemerintah kedepannya agar dapat menyelesaikan polemik pandemi ini sesegera mungkin layaknya Amerika. “Namun bukan dengan demo (melainkan) sesingkat itu masyarakat sadar (akan bahaya virus itu),” katanya.

“Gue percaya dengan ucapan Oprah Winfrey dimana ‘You became what you believe’,” ujar Putra, “Kendati Corona, gue percaya ketika ada anjuran pemerintah untuk menggunakan masker dan sebagainya itu kita tidak perlu panik, melainkan kita ikuti, karena 80 persen penyakit datangnya dari pikiran kita sendiri juga.”


Artikel ini adalah 1 dari 2 bagian artikel featured dengan kedai kopi Starcorner terkait kedai kopi ibukota dan tantangan yang harus dihadapi selama PSBB. 

Loading...