Quantcast

Beranda » Menurut Kita » Kasus Body Shaming Cosplay Terjadi Lagi, Kapan Kita Bisa Dewasa?

Kasus Body Shaming Cosplay Terjadi Lagi, Kapan Kita Bisa Dewasa?

Kasus body shaming kembali terjadi pada cosplayer di sosial media. Kini sasaran para penghujat adalah cosplayer cantik dan terkenal, Enako.

Baru-baru ini, kita kembali diperlihatkan sebuah kejadian buruk yang menimpa jagat perwibuan nusantara. Lagi dan lagi, kita melihat tindakan tidak senonoh para oknum wibu nusantara. Mereka melakukan body shaming terhadap salah satu cosplayer yang kali ini sedang ber-cosplay karakter Mizuhara Chizuru dari serial anime Kanojo, Okarishimasu.

Body Shaming Terjadi Pada Cosplayer Enako

Enako, seorang cosplayer yang menjadi target body shaming oknum tersebut mungkin melakukan cosplay selain karena hobinya, dia juga ingin ikut meramaikan atau pun menyambut tayangnya anime Kanojo, Okarishimasu dengan berkostum ala Mizuhara Chizuru salah satu heroine utama di serial tersebut.

Sontak, Enako mendapatkan beragam respon terhadap cosplay yang dilakukannya. Banyak yang memujinya, namun banyak pula yang mengirimkan komentar body shaming yang bertendensi ke arah pelecehan terhadap cosplayer Enako.

Body Shaming Cosplayer

Salah satu contohnya ialah ketika banyak oknum wibu yang mengomentari salah satu bagian tubuh Enako yang tidak sesuai dengan bagian tubuh dari sosok karakter Mizuhara Chizuru.

Tentu hal tersebut adalah salah satu bentuk sikap memalukan dan tidak dewasa dari para oknum wibu yang berkomentar. Lebih mirisnya lagi, komentar pelecehan tersebut didominasi oleh oknum wibu yang berasal dari Indonesia.

Tidak berpikir panjang serta tanpa menghargai perasaan sang cosplayer, ramai-ramai mereka memenuhi komentar bernada body shaming yang tentunya mempunyai pengaruh buruk bagi Enako sebagai cosplayer, atau pun terhadap lingkungan perwibuan nusantara ini.

Ber-Cosplay Adalah Bentuk Kebebasan Berekspresi

Kasus yang terjadi terhadap Enako, adalah satu dari sekian banyak kasus body shaming yang menjerumus ke arah pelecehan terhadap cosplayer oleh oknum-oknum wibu atau pun entitas masyarakat lainnya di jagat perwibuan ini. Hal ini menunjukkan bahwa kita belum sepenuhnya bisa menghargai cosplayer terhadap hasil kerja keras mereka dengan menyalurkan hobinya.

Komentar negatif yang mengarah ke body shaming, dan bukan kritikan yang membangun membuat ekosistem perwibuan nusantara masih jauh dari kata ideal. Belum dewasa, serta hanya memetingkan kepuasan fetish milik pribadi, akhirnya membuat maraknya komentar body shaming terhadap cosplayer yang ber-cosplay dengan hasil yang tidak sesuai keinginan mereka.

Padahal, cosplay sendiri hadir sebagai bentuk kebebasan berekspresi bagi orang-orang yang ingin memeriahkan jagat perwibuan dan budaya populer secara luas. Terlepas bagaimana pun penampilan cosplayer terhadap karakter yang dibawanya. Sudah seharusnya kita mendukung cosplayer tanpa mencela atau bertendensi ke arah body shaming.

Kritikan tentu boleh disampaikan, tetapi kritikan yang bersifat konstruktif, membangun. Bukan konotasi ke arah mengomentari bagian tubuh sang cosplayer yang tentunya tidak bermoral dan sangat memalukan bagi eksistensi cosplay di konteks perwibuan ini.

Cosplayer Bukan Objek, Mereka Juga Manusia

Salah satu pemikiran yang keliru terhadap menilai cosplayer adalah tuntuan saat ber-cosplay dengan hasil yang sempurna. Para cosplayer dituntut untuk terlihat mirip terhadap sosok yang diimitasinya. Jika tidak, maka akan timbul komentar negatif yang memenuhi cosplayer tersebut.

Sebagai contoh umum, ada beberapa komentar negatif seperti wajah sang cosplayer tidak cocok. Ukuran tubuh mereka tidak pas, atau pun mengomentari bagian tubuh lainnya. Yang tentinya sudah jelas bertendensi ke arah body shaming dan pelecehan.

Perihal ini tentu sangat memalukan. Seharusnya kita memandang cosplayer bukan sebagai objek pemuas hasrat terhadap karakter kesukaan kita. Cosplayer berhak menyalurkan hobinya dengan berpenampilan seperti apa pun tanpa harus mendapatkan komentar  body shaming yang tidak bermoral dan beradab.

Keadaan buruk jika perlakuan buruk terhadap cosplayer ini masih terus bermunculan. Maka pengaruhnya pun bisa menjadi besar ke ranah trauma psikologis dari sang cosplayer.

Hal ini bisa saja membuat para cosplayer enggan untuk melakukan cosplay lagi karena trauma psikologis yang didapatkannya karena komentar body shaming yang diterima, atau bahkan kejadian yang lebih buruk lagi.

Body Shaming Terhadap Cosplayer Bukan Bahan Lelucon

Body Shaming Cosplayer

Berpikir sebelum bertindak atau pun berkomentar sudah seharusnya kita lakukan. Sudah banyak sekali korban-korban yang mengakhiri hidupnya karena menerima komentar negatif atau pun body shaming melalui internet.

Cosplayer Enako dan cosplayer lainnya tentu berhak dihargai dan bebas mengekspresikan diri mereka dalam dunia cosplay. Tanpa harus menerima hujatan atau cacian yang mengomentari tubuh mereka.

Jangan sampai hal tersebut terjadi lagi dan malah melesukan aktivitas cosplay dalam jagat perwibuan yang kita jalani ini. Sudah seharusnya kita menjadi dewasa dalam bertindak dan berkomentar.

Menjadikan cosplayer sebagai objek pemuas hasrat bukan tindakan yang benar. Sedari awal cosplayer adalah bentuk ekspresi dalam memeriahkan budaya populer yang disalurkan melalui hobi.

Sudah sepantasnya dan sewajibnya kita mendukungnya, bukan malah berkomentar negatif dengan tendensi body shaming yang tentu tidak membangun. Sudah saatnya kita menjadi dewasa, karena body shaming terhadap cosplayer bukanlah sebuah lelucon, melainkan hal serius yang harus kita hindari.

Loading...