Quantcast

Beranda » News from Asia » Protes Penggunaan Plastik Berlebihan, Siswi SMA Jepang Ini Dikritik

Protes Penggunaan Plastik Berlebihan, Siswi SMA Jepang Ini Dikritik

Petisi penggunaan plastik berlebihan yang diciptakan oleh seorang siswi SMA Jepang ini menuai sejumlah pro dan kontra dari masyarakat Jepang.

Jika kalian pernah pergi ke Jepang dan mengonsumsi biskuit atau permen khas Jepang, selain rasanya yang enak dan mungkin penampilannya yang detail, kalian pasti ingat akan kemasan produk tersebut yang menggunakan banyak plastik.

Hal tersebut dikarenakan kebanyakan permen, biskuit, atau makanan ringan lainnya yang diproduksi di Jepang selalu dikemas satu per satu, membuat budaya memberikan omiyage (oleh-oleh) kepada rekan kerja setelah bepergian menjadi lebih mudah untuk dilakukan.

Meskipun hal tersebut membuat makanan ringan yang dibawa menjadi semakin praktis, namun penggunaan plastik berlebihan tentunya tidak akan baik untuk lingkungan hidup di sekitar kita. Plastik tidak bisa terurai dengan mudah dan akan menyebabkan sampah menumpuk.

Penggunaan Plastik Berlebih oleh Perusahaan Manisan Jepang

Melihat permasalahan lingkungan ini, seorang siswi SMA di Jepang berumur 16 tahun memutuskan untuk berbicara mengenai isu ini dan ingin membuat perubahan yang berarti. Ia membuat sebuah petisi untuk mengakhiri penggunaan plastik berlebih di Jepang.

Siswi yang bersekolah di salah satu SMA swasta Jepang ini memulai upayanya dengan menyebut perusahaan pembuat aneka cokelat Bourbon dan Kameda Seika, sebuah perusahaan kerupuk beras atau rice cracker ternama di Jepang, sebagai faktor utama dari penggunaan plastik berlebihan yang ada di Jepang.

 

Ia juga menyatakan bahwa isu ini menjadi perhatiannya ketika ia dan keluarganya memakan banyak produk kedua perusahaan tersebut ketika menetap di rumah selama masa pandemi COVID-19.

Siswi ini mengatakan bahwa ketika ia sedang menyortir daur ulang plastik bersama ibunya pada suatu hari, ia terkejut saat melihat jumlah plastik untuk makanan ringan yang sudah terbuang di rumahnya. Ada lebih banyak lagi plastik yang muncul di hari berikutnya.

Setelah membaca mengenai permasalahan lingkungan yang disebabkan oleh sampah plastik, yang juga dapat memengaruhi ekosistem laut, ia memutuskan untuk memulai petisi yang diciptakan melalui situs Change.org. Petisi itu ditujukan kepada dua perusahaan yang telah disebutkan tadi.

Pro dan Kontra

Petisi yang mengajak Bourbon dan Kameda Seika untuk mengakhiri penggunaan plastik berlebih untuk mengemas produk-produk mereka itu telah diunggah pada tanggal 13 Mei lalu dan telah mendapatkan 18.400 tanda tangan ketika artikel ini ditulis.

Meskipun ada banyak dukungan terhadap petisi tersebut, masih ada beberapa orang yang masih nyaman menggunakan banyak plastik untuk kemasan produk-produk makanan ringan di Jepang. Berikut adalah beberapa komentar dari sebagian orang yang tidak terima jika penggunaan plastik berlebihan ini diakhiri.

“Nenekku suka memberi ini (makanan kecil) kepada para tamunya, jadi pengemasan secara individu ini praktis untuknya ketika ia sedang kedatangan tamu.”

“Orang-orang yang sudah tua tidak memakan makanan ringan sebanyak orang-orang yang masih muda, jadi mereka tidak membuang banyak kemasan plastik.”

“Itu menjaga makanan tetap aman dan higienis, apa yang membuat itu tidak pantas untuk disukai?”

“Kalau nampan plastiknya dihilangkan, biskuitnya akan retak—apa itu yang kamu mau?”

“Mungkin dia terlalu muda untuk tahu insiden Glico Morinaga.”

Insiden Glico Morinaga?

Insiden Glico Morinaga yang dimaksud oleh komentar terakhir tadi merupakan sebuah kasus pemerasan yang berdampak pada kegiatan perusahaan manisan Glico dan Morinaga pada tahun 1984 hingga 1985 silam.

Pelaku utama dari kasus ini mengklaim bahwa ia telah mengikat produk Glico dengan sianida. Karena pengakuan itu dan racun sianida mengancam nyawa banyak orang, pihak Glico pun menarik semua produknya yang dijual di pasaran.

Sampai hari ini, sebagian besar masyarakat Jepang masih percaya kasus itu menjadi awal mula pengemasan makanan ringan secara individual. Tetapi, teori itu telah dibantah oleh sejumlah peneliti.

Penelitian menunjukkan bahwa memang produk makanan ringan awalnya dikemas dengan plastik tebal sebagai tindakan pencegahan setelah insiden itu terjadi. Namun, plastik tipis yang digunakan sekarang tidak melindungi makanan ringan dari bahaya apapun, seperti disisipi racun.

Langkah Alternatif untuk Pengemasan Produk

Sementara debat tentang penggunaan plastik masih terus berlanjut di Jepang, siswi yang memulai petisi tadi akan menunjukkan tanda tangan yang sudah diperoleh kepada perusahaan Bourbon dan Kameda Seika pada tanggal 28 dan 29 Juli nanti.

Permasalahan lingkungan dan gagasan selanjutnya mengenai alternatif pengemasan makanan ringan oleh kedua perusahaan itu akan didiskusikan pada pertemuan tersebut.

Menurut juru bicara dari perusahaan Kameda Seika, perusahaan tersebut memutuskan akan mengurangi jumlah plastik yang digunakan untuk mengemas produk-produk mereka. Kameida Seika sekarang tengah mempromosikan kemasan jenis baru yang tidak menggunakan nampan plastik di dalamnya.

Sementara itu, juru bicara perusahaan Bourbon menyatakan bahwa mereka akan segera berupaya mengganti pengemasan produk mereka dengan “plastik” yang terbuat dari tanaman di masa depan.

Loading...