Quantcast

Beranda » News from Asia » Sarjana Ninja? Jepang Hasilkan Lulusan Pertama Program Studi Ninja!

Sarjana Ninja? Jepang Hasilkan Lulusan Pertama Program Studi Ninja!

Mitsuhashi Genichi menjadi “Sarjana Ninja” pertama dari Program Studi Ninja Universitas Mie, Jepang

Ninja adalah salah satu aspek budaya Jepang yang kini mulai diakui serius secara akademik. Hal ini dibuktikan dengan adanya program studi Ninja pertama di Jepang (dan dunia) yang telah meluluskan Sarjana Ninja pertamanya. Seperti apa program studi ini? Yuk, kita cari tahu bersama!

Mitsuhashi Genichi, “Sarjana Ninja” Pertama di Dunia

Mitsuhashi Genichi ialah orang pertama di dunia yang lulus dari Universitas Mie jurusan Studi Ninja. Ia dinyatakan lulus setalah menghabiskan 2 tahun dalam sebuah program studi yang terpusat pada sejarah beserta kemampuan bela diri Ninja (Ninjutsu).

“Dari (penelitian) yang kubaca, para Ninja bekerja di ladang pada pagi hari dan berlatih bela diri di sore hari”, ujarnya.

Untuk memperdalam studinya, ia meniru gaya hidup Ninja dengan membeli rumah kayu, memotong kayu, dan bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan pangannya di sana.

Selain meneliti berbagai naskah-naskah bersejarah tentang Ninja, peniruan gaya hidup Ninja tersebut dilakukan sebagai pembelajaran dalam perkuliahan.

“Dengan implementasi seperti itu, kupikir saya dapat mempelajari tentang Ninja yang sebenarnya”, ujar Mitsuhashi sang Ninja.

Mitsuhashi menjadi satu dari 3 mahasiswa angkatan pertama dalam program studi tersebut. Ia berpendapat bahwa para Ninja memiliki kemampuan menyintas (survival skill) yang komprehensif.

Dedikasi Mitsuhachi Sebagai Seorang “Ninja” Bergelar Akademik

Pria berusia 45 tahun itu telah mempelajari Kung Fu dan salah satu aliran seni bela diri Jepang, Shorinji Kempo. Untuk meningkatkan lagi kemampuan bela dirinya, ia mengikuti Bujinkan, gelanggang bela diri untuk sekolah Ninjutsu Togakushi-ryu. Pengalamannya mempelajari Ninjutsu di sana telah membuatnya tertuju pada daerah Iga.

Selang ia mengejar gelar tersebut, ia telah membeli dua unit rumah kayu yang ia gunakan lahannya untuk bercocok tanam. Selain itu, ia membangun sebuah dojo untuk mengajarkan kemampuan Ninja-nya, juga mengurus bisnis penginapan kecil miliknya.

Pria asal Osaka itu pindah ke daerah Iga sejak 2018 untuk mengikuti program studi Ninja Universitas Mie. Ia bertekad mempelajari hubungan antara ninja dan kehidupan pemukiman petani di daerah pegunungan.

Ia mengikuti perkuliahan sebanyak 2 – 3 kali dalam seminggu. Sebagai bukti kelulusan, ia menulis tesis tentang bagaimana Ninja berperan sebagai penguasa daerah hutan Iga selama periode Edo (1603 – 1867).

Terkait dengan dedikasi Mitsuhashi sebagai seorang Ninja membuat Yamada Yuji, seorang profesor Sejarah Jepang dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mie tercengang.

“Mitsuhachi menjadi panutan bagi mahasiswa (Jurusan Ninja) lainnya. Ia juga takkan bisa menyelesaikan tesisnya jika ia tak berbaur dengan masyarakat setempat”, ucap Yamada Yuji.

Yamada menambahkan dia tidak menyangka bahwa Mitsuhashi dapat berhasil menyelesaikan program studi Ninja di Universitas Mei.

“Kami menawarkan perkuliahan tentang sejarah dan kemampuan Ninja, akan tetapi saya tak menyangka ia (Mitsuhashi) dapat sampai sejauh ini, hidup layaknya Ninja”.

Setelah ia lulus dari Universitas Mie dan meraih gelarnya, Mitsuhashi ingin menggunakan “Jalan Ninja” untuk menghidupkan kembali komunitas lokal.

“Saya ingin bermain peran dalam menghubungkan penduduk lokal dengan turis dan pengunjung lain. Saya harap ke depannya dapat menghidupkan kembali daerah dengan cara mengajak tamu (penginapan miliknya) untuk bergabung dalam festival lokal dan menawarkan hal lainnya”, ujar Mitsuhashi.

Tentang Program Studi Ninja Universitas Mie

Universitas Mie telah membuka pusat penelitian Ninja berskala internasional pertama di dunia pada tahun 2017. Setahun kemudian, mereka mulai membuka program studi Ninja tersebut.

Universitas Mie terletak di kota Iga, Prefektur Mie. Konon, kota yang dikelilingi pegunungan itu pernah menjadi daerah pemukiman Ninja sekaligus tanah kelahiran kebudayaan Ninja.

Untuk mendaftar jurusan tersebut, diadakan seleksi berupa ujian kemampuan Sejarah Jepang dan membaca naskah bersejarah Ninja. Yamada berpendapat adanya minat terkait program studi tersebut dibuktikan dengan sekitar 3 mahasiswa baru diterima dalam setahun.

Yamada memberikan komentar lain terkait program Studi Ninja yang ada di Universitas Mei tersebut.

“Kami mendapatkan banyak permintaan dari luar negeri terkait dengan jurusan tersebut. Saya perlu mengingatkan lagi bahwa jurusan ini mempelajari segalanya tentang Ninja, bukannya menjadikan seseorang sebagai Ninja”.

Loading...