Broadcasted by Galau Jikan FM

Dari Gears ke Blade, Begini Sejarah dari Seri Xeno yang Legendaris!

Sejak era PS1, nama Xeno sudah tertanam sebagai judul gim dengan fans yang setia. Walaupun beberapa kali mendapat perubahan, fans sepertinya tetap tertarik dengan nama tersebut. Apakah rahasianya?

Adi Styadi
seri Xeno

Tahun 2022 ini menjadi tahun yang sangat spesial bagi khalayak penggemar gim JRPG (Japanese Role-Playing Game).

Pasalnya, berbagai judulnya jadi konten yang mengisi ranah internet seperti NieR: Automata, Elden Ring, Triangle Strategy, hingga Pokemon: Arceus.

Nintendo salah satunya, sudah siap dengan judul andalan mereka: Xenoblade Chronicles 3, seri gim Xeno yang paling baru.

Saking banyaknya hype terhadap gim besutan Monolith Soft tersebut, Nintendo merilis video yang menjabarkan cerita dan mekanisme Xenoblade 3 selama 30 menit.

Pre-order edisi spesialnya juga habis dalam hitungan menit, dan Nintendo bahkan sudah menjual expansion pass sebelum gimnya rilis.

seri xeno
Logo Monolith Soft | © MONOLITH SOFTWARE INC.

Suksesnya seri Xenoblade, membuat Nintendo gigih mempertahankan Monolith Soft dalam jajaran first-party developer mereka. Memastikan kebebasan kreatif, dengan imbalan hanya rilis untuk konsol Nintendo.

Namun butuh waktu cukup lama agar seri gim Xeno diakui sebagai salah satu JRPG terbaik di sejumlah platform konsol gim.

Selama waktu tersebut, Monolith Soft merasakan berbagai tantangan, hingga kesempatan dan keberuntungan mempertemukan mereka dengan Nintendo.

Berikut ini adalah sejarah Monolith Soft dengan seri gim Xeno mereka!

Visi dari Seorang Talenta Square Soft

Monolith Soft tidak akan muncul tanpa keberadaan Takahashi Tetsuya dan Tanaka Kaori. Mereka berdua sama-sama bertemu di Square Soft, dan telah bekerja sama dalam berbagai proyek Final Fantasy sebelumnya.

Tetsuya memiliki kegemaran tersendiri terhadap subkultur mecha, dan jadi inspirasinya dalam beberapa judul yang ia kerjakan.

Setelah menikah, Tetsuya dan Kaori bekerja sama dalam membuat draft cerita untuk Final Fantasy VII, yang kemudian ditolak karena dianggap terlalu rumit.

Walaupun begitu, Square Soft melihat potensi dari draft yang mereka buat, dan menyarankannya sebagai cerita untuk Chrono Trigger 2. Akan tetapi Tetsuya dan Kaori ingin mewujudkan draft tersebut sesuai visi mereka.

Pada akhirnya, Square Soft memberi lampu hijau untuk sebuah judul dan nama yang melekat pada kedua desainer ini: Xenogears.

seri Xeno
Iklan Square Soft mempromosikan Xenogears untuk pasar Amerika. | © Square Soft

Xenogears memulai masa development dengan nama Project Noah, dan jadi kali pertama Tetsuya menjadi sutradara sebuah judul gim.

Karena merupakan IP baru, Square Soft tidak terlalu banyak memberikan dukungan dana, dan hanya menugaskan staff-staff yang kurang berpengalaman.

Pada akhirnya Tetsuya harus berkompromi pada hasil akhir Xenogears, alih-alih model 3D seperti yang dia inginkan, Tetsuya beralih menggunakan sprite 2D, dan cutscene anime.

Rencana awalnya yang ingin menciptakan trilogi juga harus ia tunda, dan membuat kisah Xenogears selesai dalam satu judul permainan.

Berpisah dengan Square Soft, dan Reinkarnasi Seri Xeno

Walaupun menerima banyak pujian dan menghimpun banyak fans, angka penjualan Xenogears kalah jauh dengan kesuksesan anak emas Square Soft, Final Fantasy VII.

Square Soft semakin bergantung dengan waralaba Final Fantasy, dan Tetsuya semakin pesimis dengan keberadaan sekuel Xenogears.

Pada akhirnya, Tetsuya, Kaori, bersama ex-staff Square Soft, Hirohide Sugiura memutuskan untuk keluar dari Square, dan mendirikan studio sendiri. Studio inilah yang saat ini kita kenal dengan nama Monolith Soft.

Saat itu, hanya perusahaan Namco (kini menjadi Bandai Namco) yang tertarik untuk berinvestasi pada Monolith Soft, dan merilis gim mereka.

Akhirnya pada tahun 2002, barulah rilis gim pertama Monolith Soft, sekaligus penerus spiritual dari seri Xenogears. Xenosaga.

seri xeno
Ketiga judul dalam satu trilogi gim PlayStation 2, Xenosaga. | © Bandai Namco, MONOLITH SOFTWARE INC.

Berbagai elemen dari Xenogears kembali hadir dalam Xenosaga. Mulai dari narasi cerita, mekanisme pertarungan, hingga perpaduan antara fantasi dan fiksi ilmiah.

Xenosaga rilis sebanyak 3 judul, dan berakhir dengan Xenosaga III: Also sprach Zarathustra pada tahun 2006. Sayangnya, serial inipun tidak mendapat kesuksesan komersil, karena dianggap terlalu ambisius.

Selain rilis dalam bentuk gim video, Xenosaga mendapatkan lebih banyak spin-off dan keluar dalam bentuk multimedia seperti manga, dan OVA.

Menemukan Rumah dalam Naungan Nintendo

Visi kreatif Tetsuya, terlebih seluruh staff Monolith Soft menarik perhatian dari Nintendo.

Beberapa tahun setelah perilisan Xenosaga III, Nintendo membeli sebagian besar saham Monolith Soft, dengan perjanjian agar developer tersebut membuat gim eksklusif untuk sistem milik Nintendo.

Gim pertama Monolith Soft setelah pergantian pemilik saham tersebut, bisa dikatakan berhasil walau tidak sukses dalam skala besar.

Beberapa judul tersebut yang beredar di pasar gim Jepang antara lain adalah: Soma Bringer, Super Robot Taisen OG Saga: Endless Frontier, dan Disaster: Day of Crisis.

Ada jeda waktu sekitar lima tahun hingga reinkarnasi baru dari seri gim Xeno kembali hadir. Pada pertengahan 2006, Tetsuya mendapat ide tentang peradaban yang muncul dari tubuh dua dewa yang saling berperang.

Ia meminta rekannya, Honne, untuk membuat diorama agar idenya lebih bisa dimengerti.

Bionis dan Mechonis, dua raksasa yang jadi setting lokasi gim Xenoblade Chronicles. | © MONOLITH SOFTWARE INC.  Gambar: creativeuncut.com

Tetsuya kemudian mengirimkan pitch ide tersebut ke Yamagami Hitoshi, producer Nintendo. Ia menerimanya, dan development dari ide Tetsuya baru mulai pada tahun 2007.

Nama Xenoblade Chronicles, tidak muncul hingga Monolith Soft sampai pada babak terakhir pengembangannya.

Judul ini merupakan usulan Satoru Iwata (almarhum Presiden Nintendo) untuk menghormati seri Xeno yang sudah Monolith Soft buat.

Prestasi Gemilang Seri Xenoblade Pertama

Gameplay dari Xenoblade Chronicles. | © MONOLITH SOFTWARE INC. Gambar: mobygames,com

Xenoblade Chronicles menempati peringkat pertama dalam daftar pre-order situs Amazon. Judul tersebut mengalahkan Legend of Zelda: Ocarina of Time 3D, dan bundle Playstation 3 dengan Call of Duty: Black Ops.

Perilisan Xenoblade Chronicles untuk Nintendo Wii, menghasilkan kesuksesan, baik untuk Monolith Soft dan Niintendo.

Semesta yang unik, ditambah dengan dunia luas yang bisa pemain jelajahi berhasil menempatkan posisi developer tersebut dalam jajaran pengembang andalan Nintendo.

Kemudian pada tahun 2015, Monolith Soft, merilis gim Xenoblade baru yang sedikit berbeda dari Xenoblade Chronicles.

Dengan nama Xenoblade Chronicles X, gim ini lebih berfokus pada petualangan open-world berbanding narasi cerita.

Era Switch, dan Xenoblade Chronicles 3 Kedepan

xenoblade chronicles 3
Gambar: Noah dan Mio, dua karakter utama yang akan muncul di Xenoblade Chronicle 3 (Nintendo)

Suksesnya Xenoblade Chronicles mendorong produksi judul-judul selanjutnya. Setelah penjualan Nintendo Wii U yang mengecewakan, Nintendo ingin segera beralih dengan konsol baru yang saat ini kita kenal sebagai Nintendo Switch.

Pada tahun 2017, Xenoblade Chronicles 2 rilis bersamaan dengan meluncurnya Nintendo Switch.

Xenoblade Chronicles 2 menjadi JRPG eksklusif Nintendo Switch pertama, berbeda dengan The Legend of Zelda: Breath of the Wild, yang turut rilis di Nintendo Wii U.

Xenoblade Chronicle 2 mendapatkan kritik yang cukup baik dari para pemain, terutama dalam aspek cerita, musik, dan gameplay.

Setahun setelahnya, expansion dengan nama Xenoblade Chronicle 2: Torna the Golden Country rilis, dan memperdalam cerita Xenoblade Chronicle 2.

Lima tahun setelah rilis Xenoblade Chronicle 2, pemain akhirnya bisa kembali merasakan pengalaman JRPG buatan Monolith Soft.

Dengan pengumuman gim terbarunya, Xenoblade Chronicle 3, memastikan diri akan segera rilis untuk Nintendo Switch pada bulan Juli 2022 ini.

Banyak fans menantikan dengan semangat seri terbaru dalam dunia seri Xeno ini. Dengan berbagai trailer dan bocoran yang Nintendo berikan secara langsung, banyak yang menduga Xenoblade Chronicle 3 sebagai salah satu gim terbaik tahun 2022.

Itulah dia sejarah dari Monolith Soft, serta berbagai gim Xeno yang legendaris. Xenogears menjadi prototip dari visi kreatif yang selama ini Tetsuya dan Kaori idam-idamkan, dan Xenosaga menjadi taraf perkembangan mereka.

Walau butuh waktu lama dan melewati berbagai tantangan, barulah Xenoblade yang mewarisi gen dari seri Xeno sebelumnya sukses dan banyak orang pun menerima gimnya ini.

Bagaimana denganmu? Apakah kamu sudah memainkan salah satu seri Xeno yang terkenal? Ayo berbagi pengalamanmu melalui kanal Discord Nawala Karsa!


Terima kasih telah membaca artikel Nawala Karsa. Artikel ini kami buat sepenuh hati untuk para pembaca, termasuk kamu!

Dukung Nawala Karsa sebagai media berita independen dan terpercaya kamu dengan memberikan tip melalui Sociabuzz Tribe milik Ayukawa Media. Untuk mengirimkan tip, kamu dapat membuka pranala berikut pranala berikut.