Penting!
Kominfo Telah Buka Blokir Steam | Gunakan Cara Ini untuk Membuka Blokir Internet Positif | Ayukawa Media Menentang Tindakan Kemenkominfo dalam Insiden Pemblokiran 30 Juli 2022

China Yang Sedang Naik Daun Dalam Industri Video Game, Berkat Apa?

Adi Styadi
China

Kepulihan ekonomi yang terjadi pada China satu dekade belakangan dengan cepat membawa negeri tersebut ke panggung dunia. Dalam industri general seperti elektronik, hingga budaya dan entertainment, khususnya dalam aspek sub-kultur gim video, film, maupun animasi. China pun untung pula dengan kemajuan industri video game mereka, yang juga bisa menyaingi sejumlah gim papan atas.

Berbagai judul gim gacha sukses menembus pasar pemain yang kebanyakan berkiblat ke Jepang. Sementara dalam aspek Esport, China menang dengan banyaknya judul-judul gim terkenal yang versi mobile-nya sukses.

Game Esports seperti Mobile Legends, PUBG Mobile, dan Call of Duty Mobile sukses terkenal dengan pemainnya yang masif serta turnamen yang masyarakat minati. Sementara Genshin Impact, yang rilis multiplatform bisa mencetak puluhan juta dollar pada tahun pertamanya rilis, dan menghadirkan kualitas cerita, visual, dan permainan berkualitas.

Sekilas, industri gaming dalam negeri tirai bambu ini terlihat menjanjikan, namun apa yang terjadi hingga mereka sukses menghadirkan judul-judul permainan yang sukses mencuri hati para gamer?

China, Dari Stigma Heroin Digital, Jadi Jagoan Peluang Ekonomi

Dengan regulasi pemerintahannya yang ketat, China pernah memiliki waktu ketika gim video dianggap hal yang tidak bermanfaat.

Pada tahun 90-an, negara tersebut memblokir penjualan konsol dari luar negeri. Hal ini menyebabkan mulai menjamurnya konsol-konsol palsu dan tiruan.

Akan tetapi hal ini tidak jadi halangan dalam perkembangan gim video di negara tersebut. Komputer desktop menjadi sarana utama untuk gaming, begitu pula dengan ponsel pintar yang semakin canggih.

Perkembangan popularitas gim video asal Tiongkok tidak dapat melupakan nama Tencent. Perusahaan teknologi dan entertainment multinasional yang terkenal menanamkan modal pada perusahaan-perusahaan game International.

China
Tencent Penguin (@TencentGlobal)

Pada tahun 2011, Tencent membeli sebagian besar saham Riot Games, yang populer dengan judul game MOBA mereka, League of Legends.

Dengan membeli perusahaan tersebut, Tencent mencoba untuk membuat formula permainan LoL dalam versi mobile dan lebih simple. Dari hal tersebut lahirlah Honour of Kings, atau versi globalnya: Arena of Valor.

Rilis pada tahun 2015, Honour of Kings ada di posisi pertama dalam total revenue gim mobile. Dilansir dari Asiaone, judul ini telah memperoleh pemasukan sebanyak tiga belas miliar USD hingga akhir tahun 2021.

Dengan formula permainan kompetitif, aditif, ditambah sistem live service yang membuat gim lebih lama eksis, membuat pemerintah menyadari betapa profitablenya industri gim video.

Gemerlap Gempita Esports

Dengan jumlah penduduk yang besar, dan perangkat yang sebagian besar lapisan masyarakat butuhkan. China menjadi pasar gim video yang menjanjikan dalam konteks pasar mobile dan PC.

China
(Financial Times)

Gim Honor of Kings yang belum mendapat perilisan global secara resmi menjadi permainan mobile dengan pendapatan paling besar, mengalahkan judul-judul gim ponsel pintar yang pernah viral.

Melihat peluang besar tersebut, pemerintah Tiongkok mulai menunjukan minat terhadap industri ini. Pada akhir 2019, Beijing mengungkapkan rencana untuk menjadi ‘Ibukota International Esports’.

Mereka menggelontorkan dana masif untuk pembangunan fasilitas internet, Esports stadium, serta Esport incubator.

Ada tiga kementrian yang mengatur pengembangan gim video: Kementrian Kebudayaan, Kementrian Teknologi, dan Kementrian Industri Informasi secara bersamaan.

Walau saat ini China masih belum bisa menyalip Amerika dan Jepang, kuantitas dan kualitas judul yang sudah rilis dapat memberi bayangan kasar perkembangan industri tersebut kedepannya.

Untuk saat ini, Tiongkok masih terobsesi dengan Esports yang menghasilkan cuan besar dan jelas-jelas berniat untuk terus mengembangkannya. Akan tetapi ada sisi lain dari industri yang tampaknya menjanjikan ini.

Indie Developer, Terhimpit Biaya dan Regulasi

Kenyataannya, tidak semua dari industri ini dalah profit. Pihak-pihak lebih kecil yang tidak punya sumber daya sebesar Tencent, Netease, atau bahkan Mihoyo, mempunyai tantangan tersendiri untuk memperoleh keuntungan.

Hanya segelintir pengembang indie yang sukses dan beruntung untuk bisa memperoleh modal dan merilis karya mereka, seperti Bright Memory, gim FPS sci-fi karya developer solo Zheng Xiancheng.

Lewat trailer gameplay pada 2017, Zheng memperoleh pendanaan dari Epic Games sebesar dua ratus ribu USD.

Masalah finansial memang kerap jadi tantangan bagi pengembang indie dari negara manapun mereka berasal, akan tetapi pada akhirnya regulasilah yang membedakan.

China merupakan salah satu negara dengan sensor yang ketat untuk seluruh media hiburan, termasuk gim video. Setiap produk yang ingin rilis ke pasar harus membayar lisensi, yang harganya bisa mencapai seribu dollar, untuk satu platform.

Pengembang bisa mendapatkan lisensi tersebut selama produk yang mereka buat tidak melanggar regulasi yang berlaku di China, seperti larangan konten supranatural, atau konten yang menyinggung pemerintahan.

China
Devotion, gim horor besutan Red Candle Games segera ditakedown setelah ditemukan tulisan yang menyinggung pemerintah

Pengembang butuh dukungan finansial besar yang bisa mereka dapatkan dari berbagai cara, seperti crwodfunding atau mencari sponsor lewat publisher maupun kompetisi-kompetisi pendanaan gim.

Saat ini situasi perkembangan gim video di negeri tirai bambu tersebut masih terombang-ambing antara regulasi dan modal.

Namun ini adalah hal yang dapat kita ambil dan pelajari untuk membantu perkembangan industri permainan di rumah kita sendiri.

Memang barangkali sebuah pepatah bahwa “belajarlah sampai ke negeri China” kadang berlaku pula kepada insan yang ingin terlibat di industri video game dunia.