Broadcasted by Galau Jikan FM

Toxic Relationship: Kenapa Banyak Orang Terjebak Hubungan Ini?

Toxic relationship menjadi suatu fenomena yang seringkali terjadi dalam hubungan pacaran, namun apa sih sebenarnya toxic relationship?

Toxic relationship dalam hubungan
Sumber foto: www.domesticshelters.org

Beberapa waktu belakangan, istilah toxic relationship mungkin sering NawaReaders dengar atau mungkin kalian justru mengalaminya.

Bahkan, tanpa perlu menelaah lebih jauh, kalian mungkin sudah mengetahui bahwa istilah ini memiliki konotasi negatif yang terjadi dalam sebuah hubungan percintaan, baik itu pacaran atau pun pernikahan.

Tapi sebenarnya apa sih sebenarnya toxic relationship? Hubungan seperti apa yang bisa disebut toxic?

Lalu kenapa banyak orang yang memilih bertahan dalam hubungan yang toxic? Artikel ini akan membahas hal-hal tersebut.

Memahami Toxic Relationship dan Penyebabnya

Toxic relationship
Sumber foto: Suara merdeka

Beberapa waktu terakhir, penulis seringkali menemukan utas di Twitter yang membahas mengenai hubungan yang sedang dijalani oleh seseorang dengan pasangannya.

Dalam beberapa utas yang penulis jumpai, terlihat bagaimana orang-orang tersebut merasa tidak nyaman dalam hubungannya, dengan pelbagai alasan.

Memiliki pasangan yang terlalu mengekang, pasangan yang terlalu membebaskan, hingga menjalani hubungan pacaran namun tidak terlihat seperti sedang berpacaran. Itu adalah beberapa contoh bahasan yang sering penulis temui di Twitter.

Beberapa dari mereka mengeluh karena sedang berada dalam toxic relationship. Namun, apakah benar demikian? Apakah toxic relationship hanya terbatas pada hal-hal macam itu?

Menurut Elizabeth Scott, dalam tulisannya yang dimuat di Verywell Mind, Toxic relationship merupakan kondisi dalam sebuah hubungan yang menyebabkan seseorang merasa tidak didukung, disalahpahami, direndahkan, bahkan diserang.

Namun, hubungan ini tidak terbatas dalam hubungan pacaran saja, karena kondisi tersebut bisa terjadi dalam pelbagai jenis hubungan, baik hubungan dengan teman atau pun keluarga.

Singkatnya, Scott berpendapat bahwa toxic relationship itu terjadi saat seseorang merasa terancam dalam hubungan yang sedang dijalani. Ancaman ini bisa berupa ancaman secara emosional, psikologis, atau pun fisik.

Jika seperti itu, lalu wujud toxic relationship itu seperti apa?

Menurut Scott, ada beberapa kondisi yang menjadi penanda terjadinya toxic relationship, beberapa diantaranya seperti:

  • Merasa selalu tidak dihargai dalam hubungan yang dijalani
  • Merasa harga diri terus menurus turun seiring berjalannya waktu
  • Merasa tidak didukung oleh pasangan yang berlanjut menjadi perasaan direndahkan
  • Merasa tertekan, marah, atau pun kelelahan setelah berinteraksi dengan orang lain
  • Merasa selalu menjadi pihak yang disalahkan dalam hubungan
  • Tidak merasa aman dan nyaman menjalani hubungan

Selain beberapa contoh yang sudah disebutkan tersebut, ada beberapa contoh lain yang mungkin sering terjadi dan dijumpai.

Beberapa diantaranya seperti pasangan yang terus menerus melakukan kebohongan, pasangan yang membatasi pergaulan dan terlalu mengatur, dan hubungan dengan orang lain seperti teman atau keluarga semakin jauh.

Terjadinya kondisi toxic relationship, tentunya bukan tiba-tiba terjadi begitu saja. Ada beberapa kondisi yang menyebabkan terjadinya hal tersebut.

Pengalaman buruk di masa lalu, komunikasi dengan pasangan yang buruk, cemburu berlebihan, salah satu pasangan terlalu dominan, benyak terjadi kebohongan dalam hubungan, dan tidak ada support sesama pasangan.

Beberapa contoh tersebut merupakan penyebab umum terjadinya hubungan yang toxic. Namun, beberapa contoh tersebut tidak bisa disama ratakan dalam setiap hubungan.

Ini karena masalah yang muncul serta kepribadian pasangan yang berbeda-beda dalam satu hubungan dengan hubungan lainnya.

Kenapa Banyak Orang yang Akhirnya Terjebak?

Terjebak dalam toxic relationship
Sumber foto: www.simplypsychology.org

Berbicara mengenai toxic relationship tentu saja yang sering dibahas adalah kondisi pada orang yang mengalaminya.

Namun, yang jadi pertanyaan utama adalah mengapa dalam hal tersebut, justru banyak orang yang semakin terjebak di dalam hubungan yang toxic itu.

Bahkan, terkadang seseorang sudah mengetahui dia tidak bahagia menjalani hubungan, namun tetap saja melanjutkan hubungan tersebut.

Menurut penulis, ada beberapa hal yang mendasari orang-orang cenderung terjebak dalam toxic relationship.

Alasan pertama, orang-orang yang berada dalam hubungan yang toxic, masih menyimpan harapan bahwa hubungan tersebut nantinya akan membaik seiring berjalannya waktu.

Menyimpan harapan positif tentu baik, namun terkadang realistis juga diperlukan. Apabila hubungannya memang bisa membaik, tentu bagus.

Tapi, bagaimana jika sebaliknya? Justru akan menambah masalah, bukan? Terlebih jika hubungan itu berlanjut ke jenjang pernikahan.

Alasan kedua, banyak orang yang cenderung memilih berada dalam hubungan toxic dari pada merasakan kesepian.

Untuk alasan ini, terkadang ada beberapa orang yang takut jika mereka memutuskan keluar dari hubungan yang sedang dijalani, mereka akan merasa kesepian, karena tidak memiliki pasangan lagi.

Hal itu berkaitan dengan rasa takut yang dimiliki oleh orang tersebut. Beberapa orang merasa takut bagaimana masa depan mereka nanti setelah keluar dari hubungan tersebut.

Kebanyakan dari mereka merasa takut tidak bisa mendapatkan pasangan di masa depan, karena harga diri yang terus menerus turun akibat terjebak dalam hubungan yang buruk.

Alasan ketiga, terkadang ada beberapa orang yang merasa dirinya bertanggung jawab untuk memperbaiki sikap pasangannya.

Jadi, saat sebuah hubungan menjadi buruk karena perilaku salah satu orang, maka pasangannya merasa bertanggung jawab untuk memperbaiki sikap buruk pasangannya tersebut, agar perilakunya bisa menjadi lebih baik.

Namun, tentu saja mengubah perilaku tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Solusi Untuk Toxic Relationship

Komunikasi sebagai solusi
SUmber foto: wikihow.com

Berbicara soal solusi, satu yang utama adalah komunikasi. Bagaimana pun, dalam sebuah hubungan, komunikasi adalah yang paling utama.

Baik buruknya hubungan ditentukan dari komunikasi yang terjadi. Mungkin apabila kesulitan untuk berkomunikasi, bisa mencari pertolongan pada psikolog. Hal ini juga untuk meminimalisir dampak negatif dari hubungan yang toxic.

Tapi, apabila sudah mencoba mengkomunikasikan kondisi hubungan dengan pasangan namun tidak ada hal positif yang terjadi, tentu saja pilihannya hanya satu, berpisah.

Perpisahan mungkin terlihat buruk, tapi seringkali itu adalah pilihan terbaik yang tersedia, demi kebaikan dua belah pihak.


Terima kasih telah membaca artikel Nawala Karsa. Artikel ini kami buat sepenuh hati untuk para pembaca, termasuk kamu!

Dukung Nawala Karsa sebagai media berita independen dan terpercaya kamu dengan memberikan tip melalui Sociabuzz Tribe milik Ayukawa Media. Untuk mengirimkan tip, kamu dapat membuka pranala berikut pranala berikut.