Penting!
Kominfo Telah Buka Blokir Steam | Gunakan Cara Ini untuk Membuka Blokir Internet Positif | Ayukawa Media Menentang Tindakan Kemenkominfo dalam Insiden Pemblokiran 30 Juli 2022

Review The God of Ramen (2013): Apa yang Lebih Penting dari Ramen?

Seno Triadi
the god of ramen
©2013 Fuji Television Network

Megerahkan segenap tenaga untuk sempurnakan resep jitu melariskan dagangan sungguh tidaklah mudah. Banyak berkorban demi kepuasan pelanggan, kemudian bela-belain menggarap semuanya dari pagi buta, dan sebagainya. Setidaknya begitulah cerita sang maestro ramen ternama di Jepang, Yamagishi Kazuo, dalam film dokumenter tahun 2013, The God of Ramen, yang kini tayang di Japanese Film Festival 2022.

Proyek dokumenter produksi Fuji Television dengan label hiburannya, Pony Canyon, mengambil kehidupan Yamagishi mulai dari 2001 hingga 2013, yang disutradarai oleh Innami Takashi.

The God of Ramen memiliki nama asli kala rilis di Jepang, yaitu Ramen Yori Taisetsu na Mono – Higashi-Ikebukuro Taishoken 50-nen no Himitsu (Lebih Penting dari Ramen – Di Balik 50 Tahun Kesuksesan Taishoken).

Jadi, apa yang membuat masyarakat Jepang menghormati Yamagishi sebagai Dewa Ramen Jepang ini?

Keuletan Dari Yamagishi, The God of Ramen

Film The God of Ramen menceritakan biografi dari legenda kuliner Jepang, Yamagishi Kazuo, seorang koki ramen asal Yamanouchi, Nagano.

Film ini membuka paparan tentang perjuangan dari seorang chef ramen ternama Jepang dengan murid-muridnya yang menekuni pembuatan ramen ala Taishoken.

Sejak pembukaannya pada 1961, Taishoken melahirkan sebuah ramen yang begitu menyebar ke seluruh pelosok Jepang dan mancanegara, yang bernama tsukemen. Dan mulai dari penemuannya hingga era 2000an, banyak pembeli dari seluruh Jepang rela mengantri berjam-jam dari pagi di depan warung ramen tersebut, meskipun memiliki jam operasi dari pukul 11:00 hingga 14:00.

Taishoken setiap hari dapat melayani 200 mangkuk tsukemen, char siu ramen, dan sebagainya, hasil dari antrian panjang para pembeli yang ingin menyicipi cita rasa khasnya.

Hidangan ramen yang Yamagishi menyebutnya sebagai special morisoba itu memiliki komposisi sup sederhana, yaitu tulang ayam, tulang dan kaki babi, bawang bombay, wortel, bawang putih, jahe, dan kesemuanya bersamaan direbus dengan sarden kuning dan serutan ikan kembung.

Kedai Taishoken juga memiliki sejumlah murid yang rela datang ke Ikebukuro, tempat pusat dari restoran tersebut. Salah satu muridnya datang dari Tiongkok, untuk mempelajari cara membuat ramen khas Jepang langsung kepada maestro Yamagishi dan membuka kedai ramennya sendiri di Tokyo.

Banyak murid yang beberapa bulan berguru kepada Yamagishi membuka restoran ramen sendiri hingga 100 cabang di seluruh prefektur Jepang. Namun, tidak ada yang bisa menandingi dari ramen asli Yamagishi yang sesungguhnya.

Yamagishi sendiri mengatakan bahwa kobaran semangat untuk membuat ramen enaknya berasal dari sang istri, yang meninggalkannya di usia 52 tahun.

Walaupun begitu, Ia masih berniat untuk bekerja tanpa memikirkan kebahagiaannya sendiri, dan melanjutkan hidup memasak ramen enak kepada pelanggan setia Taishoken, hingga pensiunnya pada 2007.

Apa yang Lebih Berharga dari Ramen?

Bagi penulis, dokumenter The God of Ramen merupakan ungkapan hati terdalam dari maestro tsukemen sendiri. Tidak heran apabila Yamagishi Kazuo sangat terinspirasi untuk membuat ramen atas kenangan akan istri dan kampung halamannya di Yamanouchi.

Sifat keras kepala namun rendah hati Yamagishi menginspirasi murid-muridnya serta penonton dokumenter ini. Agar tetap ikhlas berkarya di masa lapang maupun sulit.

Film ini juga menghadirkan lagu tema penutup, Furusato no Melody, gubahan komposer legendaris Jepang, Hisaishi Joe. Ia merupakan komposer sangat ternama dengan sejumlah diskografi untuk film-film Ghibli.

Moral yang bisa penulis ambil dari film ini adalah, meskipun sudah tenar di seluruh negeri tetap jangan lupa kepada asal usulnya yang merupakan jati diri sesungguhnya.

Keutuhan dari diri seseorang terdapat dari seberapa ikhlas dan tanpa pamrih orang itu bekerja. Tetapi tidak lupa akan tempat asal walaupun tidak berniat pulang kampung.

Begitulah kisah dari The God of Ramen yang bisa NawaReaders tonton di Japanese Film Festival 2022! Film dokumenter ini merupakan satu dari dua film berjenis sama yang bisa Kamu tonton mulai dari sekarang!

Sampai Minggu (27/2) nanti, Kamu berkesempatan menonton film bertema drama seperti Rashomon, ReLIFE, OZLAND, dan lain sebagainya. Selama masa penayangan masih ada, Kamu bisa langsung daftar dan nonton ke situs resmi JFF 2022 lewat pranala ini!