Hari Jumat (4/12) lalu, saya berkesempatan untuk menyaksikan kembali salah satu film hasil restorasi yang diproduksi oleh sineas Jepang, setelah tahun lalu saya berkesempatan untuk menyaksikan film Godzilla. Film itu ialah The Flavor of Green Tea Over Rice.

The Flavor of Green Tea Over Rice, Gambaran kehidupan pernikahan yang nyata

Dalam film yang dirilis pada tahun 1952 tersebut, ada gambaran penting yang ingin ditunjukkan oleh sutradara Ozu Yasujiro. Gambaran itu ialah pahit-manisnya suatu kehidupan pasangan suami isteri dalam ikatan pernikahan.

Pasangan suami isteri paruh baya tersebut tidak memiliki anak, dan tengah mengurusi keponakannya yakni Setsuko, diperankan oleh Tsushima Keiko, yang akan mereka pasangkan dengan salah satu lelaki atau yang umumnya dapat disebut sebagai perjodohan yang ditentukan.

Taeko, diperankan oleh Kogure Michiyo, dan Mokichi, diperankan oleh Saburi Shin, merupakan pasangan suami isteri dalam film tersebut. Sebagai seorang istri, Taeko mengaku kepada teman serta iparnya, yakni Aya, diperankan oleh Awashima Chikage, dan Chizu, diperankan oleh Miyake Kuniko, bahwa suaminya cenderung polos dan selalu dapat menerima alasan-alasan palsu karangannya.

Hal tersebut diungkapkannya dalam salah satu babak, dimana Taeko, Aya, Chizu, serta Setsuko berada di tempat spa bersama-sama. Ia bahkan langsung mempraktikkan hal yang ia maksud. Dengan polosnya, Mokichi mengiyakan perkataan Taeko tanpa menaruh rasa curiga.

Dalam babak lainnya, mereka tidak sengaja ‘menciduk’ suami Aya yang tengah bersama gadis lain saat mereka tengah menyaksikan suatu pertandingan bisbol. Bukannya memisahkan keduanya, Aya justru hanya merasa sebel dengan perlakuan suaminya.

Dalam babak itu, salah satu pesan yang ingin disampaikan oleh Ozu Yasujiro adalah dalam kehidupan pernikahan di Jepang, hal ini sangatlah sering terjadi, dan mungkin saja masih berlanjut hingga masa kini.

Munculnya penolakan terhadap perjodohan

Di era tersebut, perjodohan antara dua insan masih sering dilakukan. Setsuko, yang tengah dimasukkan dalam ‘jebakan pernikahan’ tersebut menolak perjodohan yang dilakukan oleh bibinya.

Ia bahkan membuat paman dan bibinya terheran-heran atas ucapannya, dimana pada zaman tersebut tidak pantas diucapakan, yang menyatakan bahwa ia ingin dalam masuk dalam ‘jebakan’ tersebut.

Setsuko mempelajari berbagai hal termasuk pernikahan melalui buku-buku karangan penulis luar negeri. Hal tersebut tidak lumrah dilakukan oleh seorang gadis pada zaman tersebut, dan menyebabkan adanya perubahan mindset atas kehidupan masyarakat.

Apa yang dilakukan Setsuko ini, apabila dibandingkan dengan kehidupan modern, merupakan tindakan radikal. Meskipun demikian, hal ini menjadi tamparan bagi masyarakat Jepang saat itu, bahwa wanita dapat menentukan kepada siapa ia ingin mengikat tali hubungan.

Kehidupan romantisnya justru malah cenderung erat dengan Non, diperankan oleh Tsuruta Kooji, yang merupakan rekan kerja pamannya di perusahaan teknik.

Ozu Yasushiro, dan masih belum move-on-nya masyarakat Jepang dari masa lalu

Oke, ini agak sedikit melenceng, sih. Tapi masih sedikit relevan. Loh, kenapa? Karena pada salah satu babak dalam film The Flavor of Green Tea over Rice ini, kita ditampilkan kembali sedikit gambaran dari sebagian masyarakat Jepang yang masih belum dapat melupakan Perang Dunia ke-2.

Mokichi, merupakan pemimpin peleton dalam tentara selama perang berlangsung. Diketahui bahwa ia ditempatkan disekitar kawasan Malaysia dan Singapura. Hal itu sedikit disinggung oleh Sadao, diperankan oleh Ryuu Chishuu, yang merupakan anggota dalam peleton yang Mokichi pimpin.

Sadao melantunkan sedikit sajak mengenai kegiatan mereka selama ditempatkan di kawasan tersebut. Membuat penonton kembali pada era yang cukup panas tersebut sejenak.

Mokichi, yang sudah merasa cukup dengan perang, berkeinginan untuk melupakan kepingan memori tersebut dari ingatannya.

Rasanya seperti nasi campur teh hijau

Lantas, bagaimana masalah-masalah dalam pernikahan tersebut selesai? Entah mengapa, sutradara Ozu Yasujiro memilih Ochazuke atau nasi campur air teh hijau sebagai obyek ‘penyatu’ antara Mokichi dan Taeko.

Perseteruan diantaranya berakhir saat memakan Ochazuke. Taeko, mengaku kepada suaminya bahwa ia selama ini telah melakukan berbagai banyak kebohongan, bahkan turut mengaku bahwa ia sering merokok. Balasannya? Tidak ada. Mokichi memaklumi apa yang telah ia katakan. Disana, Taeko dan Mokichi dapat mengetahui berbagai hal tentang keduanya.

Pesan yang ingin ditunjukkan oleh sutradara Ozu Yasujiro dalam film The Flavour of Green Tea Over Rice sebenarnya cukup mudah dipahami. Kehidupan pernikahan, terutama bagi mereka yang dipaksa dalam suatu perjodohan, memanglah rumit. Kebohongan kadang selalu muncul dari salah satu pasangan, dan pada akhirnya kita diminta untuk terbuka dengan pasangan kita agar dapat memahami serta mencintai satu sama lain.

Jadwal Lengkap Film JFF Plus Online Festival 2020 Indonesia
FOTO: Japan Film Foundation Indonesia

Film ini dapat kamu tonton melalui situs JFF Plus Online Festival 2020 Indonesia.

Nawala Karsa NK Kurio