Penting!
Kominfo Telah Buka Blokir Steam | Gunakan Cara Ini untuk Membuka Blokir Internet Positif | Ayukawa Media Menentang Tindakan Kemenkominfo dalam Insiden Pemblokiran 30 Juli 2022

Review Film Bread of Happiness: Kebahagiaan dari Sepotong Roti

Wahyu Nurramadan Widayanto
Bread of Happiness Japanese Film Festival
©"Bread Of Happiness" Film Partners

REVIEW FILM BREAD OF HAPPINESS — Terkadang, untuk menjadi karya yang bagus, sebuah film tidak perlu terlihat mewah atau pun menawarkan cerita yang rumit dan terlalu dalam. Cukup menawarkan kesederhanaan, namun dibalut dengan baik, sebuah film bisa masuk ke dalam kategori yang bagus. Hal ini bisa terlihat dari film bread of happiness, yang turut serta ditayangkan dalam gelaran Japanese Film Festival (JFF).

Bread of Happiness sendiri merupakan film keluaran tahun 2012 silam dan Yukiko Mishima berperan sebagai direktur sekaligus writer dari film ini. Bread of Happiness sendiri memiliki durasi 1 jam 54 menit dan hingga saat ini, mendapatkan pendapatan kotor sebesar $1.659.800 secara worldwide.

Sinopsis Bread of Happiness

Bread of Happiness menceritakan hal yang sangat sederhana, namun penuh makna. Film ini menceritakan perjalanan pasangan muda Bernama Rei dan Sang Mizuhima. Mereka berdua pindah dari Tokyo ke Hokkaido, tepatnya di sekitar Danau Toya. Di tempat ini, keduanya menjalankan usaha toko roti Bernama Mani.

Bukan sekedar toko roti, Mani juga menyediakan aneka macam menu lainnya, seperti kopi, sup, dan beberapa pilihan menu lainnya. Hal ini menyebabkan banyak pengunjung yang datang, bukan sekedar membeli roti, namun juga nongkrong menikmati secangkir kopi. Ada beberapa pengunjung yang rutin datang, seperti seorang musisi, pengantar surat, atau pun beberapa tetangga di sekitar Mani. Mereka rutin datang sambal bercengkerama, menikmati hidangan yang datang.

Salah satu fokus utama film ini adalah kebahagiaan yang ditawarkan oleh hidangan roti di Mani. Dalam beberapa adegan film, terlihat ada beberapa pengunjung yang datang sambal membawa beban atau masalahnya masing-masing. Seperti seorang gadis yang sedang patah hati, seorang anak yang merasa sedih karena Ibunya meninggalkan keluarganya, hingga pasangan orang tua yang sudah tidak memiliki semangat untuk hidup lagi.

Pelbagai pengunjung tersebut, merasakan magis dari Mani. Dengan pelbagai cara serta upaya, mereka merasakan sesuatu hal yang berbeda saat berada di Mani. Hal ini juga berasal dari upaya pasangan Mizushima yang ingin memberi kebahagiaan pada setiap pengunjung yang datang.

Dampaknya, setiap pengunjung yang datang bersama beban dan masalah yang mereka miliki, akhirnya bisa menikmati kesederhanaan dari Mani. Mereka mendapatkan suatu pelajaran baru. Mereka pun akhirnya seolah menjadi diri yang baru dan bisa meninggalkan Mani dengan suasana hati yang berbeda dan siap untuk Kembali menjalani kehidupan.

Selalu memberi kebahagiaan kepada setiap pengunjung yang datang, lantas bagaimana dengan pasangan Mizushima sendiri? Apakah mereka justru mendapatkan masalah karena selalu berusaha berbuat baik pada orang lain? Atau justru mereka juga mendapat kebahagiaan, buah dari Tindakan mereka pada pengunjung yang datang?

Romantisnya Pasangan Mizushima

Bread of Happiness JFF
©”Bread Of Happiness” Film Partners

Selain menawarkan cerita yang sederhana, Bread of Happiness juga menawarkan hal lain yang cukup menarik. Hal itu terlihat dari romantisnya pasangan Rei dan Sang Mizushima. Pasangan ini membagi tugas sehari-hari dengan sangat baik saat menjalankan Mani. Rei memasak makanan dan membuatkan kopi kepada pengunjung yang datang, Sang membuat roti. Keduanya menjalankan hal ini setiap hari tanpa ada sedikit pun protes atau pun keluhan yang mereka sampaikan.

Mereka juga dengan kompak membantu siapa pun yang membutuhkan bantuan. Bahkan, mereka tidak perlu banyak koordinasi untuk melakukannnya. Keduanya seolah sudah mengetahui perannya masing-masing dan apa yang perlu mereka lakukan.

Pasangan Mizushima juga terlihat menikmati rutinitas sederhana yang mereka jalani. Mereka keluar berdua, berjalan mengitari wilayah tempat tinggal mereka, untuk mencari bahan makanan. Keduanya melakukan hal ini sepanjang tahun, saat musim panas, semi, gugur, bahkan musim dingin. Hal ini bahkan seperti sudah menjadi ritual bagi keduanya.

Selain itu, pasangan ini juga memiliki ritual lainnya. Salah satunya adalah meluangkan waktu saat malam hari untuk berbincang tentang banyak hal. Dari hal ini, Rei dan Sang menjadi semakin intim sebagai pasangan, dan komunikasi mereka berdua terjalin dengan sangat baik, karena keduanya saling terbuka satu sama lain.

Sebagai tambahan informasi, pasangan yang memiliki rutinitas atau pun ritual khusus, memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk merasakan kepuasan dalam hubungan. Selain itu, rutinitas serta ritual pasangan juga meningkatkan intimasi pada keduanya. Hal ini tentunya juga bisa menjadi sebuah pelajaran bagi penonton, yang ingin meningkatkan kualitas hubungan bersama pasangan.

Sajikan Visual yang Ciamik

Bread of Happiness bukan hanya menampilkan plot cerita sederhana dengan bumbu keintiman pasangan Mizushima. Film ini juga menawarkan visual yang indah. Tampilan pemandangan rerumputan hijau, danau, dan pemandangan khas pedesaan tersaji dengan sangat indah dalam film ini. Bahkan, menurut penulis, pemandangan indah ini berhasil menutupi visual makanan atau roti yang ditampilkan dalam film ini.

Meskipun demikian, bukan berarti tampilan makanan dalam film ini tidak tersaji dengan baik. Visual roti atau pun hidangan lainnya sebenarnya masih ditampilkan dengan sangat baik. Sayangnya, pemandangan cantik yang ditampilkan dalam film ini, justru seolah-olah berhasil menutupi visualisasi roti, yang seharusnya menjadi fokus utama film ini. Namun, secara keseluruhan, film ini tetap menarik dan nyaman untuk dinikmati.

Itulah review dari film Bread of Happiness. Kalian bisa menyaksikan film tersebut melalui pranala berikut ini.

Untuk ulasan film JFF ONLINE 2022 lainnya seperti Patema Inverted, AWAKE, ReLIFE, It’s A Summer Filmhingga dokumenter seperti The God of Ramen bisa juga kamu baca di Nawala Karsa!