Jujur saja saya waktu itu ketawa ngakak ketika membaca sebuah artikel yang isinya nge-list karakter-karakter yang paling dibenci dalam Attack on Titan.

Alasan saya ketawa karena tentu sepenuhnya saya gak sepakat sama isi artikelnya yang menempatkan Gabi dalam posisi pertama, serta argumennya yang terlihat menjustifikasi Gabi Braun hanya dari satu perspektif saja.

Bukan karena saya seorang buzzer Marley yang dipekerjakan untuk membuat propaganda anti-Eldia selayaknya influecer kondang dengan video opininya tentang Attack on TItan-nya yang sempat ramai kemarin.

Hanya saja, saya cuman agak heran kenapa manusia dari dulu itu kok ya kodratnya sama aja; yaitu selalu terburu-buru dalam menilai sesuatu, dan gak mau mencoba memandang sebuah fenomena dari sudut pandang yang lain. Padahal seandainya kita mau memandang dan mengulik sosok Gabi Braun ini secara fundamental, bakal ada tesis lain yang lebih absah alih-alih cuman menemukan satu hipotesa yang pada dasarnya belom tentu objektif.

Gabi Braun Cuman Gadis Polos yang Ketipu Orang Marley

Gabi Braun bagi saya bukan seorang karakter yang patut dibenci, tapi malah seharusnya sosok Gabi lebih cocok kita kasihani. Yaiya harus dikasihani wong dia sebenarnya cuman seorang gadis polos yang ketipu doktrin murahan dari para petinggi Marley yang brengsek.

Terlebih ia punya tanggungjawab yang harus dibawanya sampai mati sebagai seorang Eldia yang melayani Marley kalo mau keluarganya selamat dan gak diubah menjadi titan; yakni wajib menganggap orang Eldia yang tinggal di pulau paradis sebagai ras iblis, dan harus menjalani tugasnya sebagai calon Pejuang Marley untuk membumihanguskan ras iblis itu sampai tak bersisa kalo mau dosa-dosanya diampuni.

Banyak yang bilang kalo tingkah Gabi ini bikin jengkel karena sombong, slengean dan agak merujuk ke arah psikopat makanya ia dibenci sangat oleh kebanyakan penggemar Attack on Titan. Ditambah doi ini juga kedapatan ngebunuh satu karakter penting di dalam cerita sehingga amarah penggemar pun menyulut dengan dahsyat kepada sosok gadis polos ini.

Helehhh… Jika antum semua ngebenci beliau cuman karena gak suka liat sikap atau kepribadiannya yang seperti brandalan Tanah Abang, ya sudah pasti ramashok dan seratus persen bisa dibilang alasannya ndak valid sama sekali.

Kepribadian Gabi yang seperti itu memang di plot sebagai sesuatu yang fresh; yang tujuannya menambah variasi karakter dan memperbaharui tensi konflik yang berjalan. Jadi apabila Anda sekalian mengharapkan Gabi sebagai sesosok gadis kawaii pembela keadilan serta anti terhadap kemapanan, maka dari itu saya menyarankan Anda untuk menonton Sailormoon saja, karena percuma juga, soalnya di Attack on Titan ndak ada yang begituan.

Bagi Anda yang keep update manga-nya sampai saat ini, kemungkinan pasti paham kenapa saya bisa dengan percaya diri menulis kalimat di atas. “Lho, kalo saya ndak baca manga-nya gimana, dong?” saya sarankeun untuk mas dan mbak sekalian agar membacanya, syukur-syukur nanti kalo baca bisa menambah referensi sekaligus mampu memahami konsep dari character development supaya nggak asal main nge-judge aja.

Argumen Moralitas Tidak Cocok untuk Menjustifikasi Keadaan Gabi di Attack on Titan

Gabi Braun

“Pokoknya Gabi itu pantas dibenci, soalnya dia ngebunuh karakter penting tanpa mikir,”

Saya tentunya paham sekali dengan rasa kehilangan penggemar dan Anda sekalian terhadap suatu karakter yang mati sehingga menimbulkan rasa kebencian terhadap Gabi. Tapi, toh ya liat situasinya dulu dong. Gabi juga awalnya gak ada niat buat ngebunuh. Cuman ya karena ia waktu itu diserang dan melihat teman-temannya mati di hadapannya, insting bertahan hidup untuk melindungi diri dan lingkungannya pun muncul.

Lalu apakah sikap melindungi diri yang dibalut dengan dendam kesumat itu adalah hal yang salah? Tentu bagi kita yang hidup dalam sistem pola pikir yang dipengaruhi oleh narasi perdamaian dan kasih sayang akan menilai itu tidak bisa dibenarkan.

Namun, kondisi Gabi adalah sebuah pengecualian. Semesta Attack on Titan tercipta dengan premis sistem kehidupan dunianya adalah sistem yang anarki, sehingga sudah biasa apabila semesta itu dipenuhi dengan konflik yang membuat manusia di sana harus saling membunuh musuh-musuhnya agar tetap bisa survive. Ditambah, semesta Attack on Titan adalah semesta yang hitam putih; di mana nilai baik-buruk, benar-salah adalah sesuatu yang samar; artinya penilaian terhadap nilai tersebut tergantung cara kita melihatnya dari ragam perspektif.

Maka dari itu argumentasi terkait moralitas terhadap kemanusiaan dan rasa kasih, rasanya agak tidak relevan untuk dipakai dalam menilai Gabi Braun sepenuhnya. Toh, kalo Anda berpikir Gabi seharusnya tidak perlu lah repot-repot menggunakan dendamnya untuk meneruskan siklus kebencian dengan ikut membunuh. Maka pemikiran Anda itu jelas keliru.

Karena sekali lagi, serial Attack on Titan bukan seperti serial Naruto yang di mana sebuah dendam dan siklus kebencian itu bisa dihentikan dengan hanya ceramah atau melalui flashback memori kelam masa lalu seorang karakter.

Sebenarnya bukan tidak mungkin, bisa saja itu bakal terjadi ke depannya karena kita tahu kalo pemikiran Bang Haji Isayama itu gak bisa ketebak dengan mudah. Tetapi rasanya agak aneh aja apabila serial yang sedari awal sudah memperlihatkan ide-ide tentang homo homini lupus hingga narasi genosida bakal menyediakan plot generik seperti itu.

Gabi dan Anak-Anak Eldia di Marley Lainnya Adalah Korban dari Eksploitasi Anak Penguasa Marley

Attack on Titan

Saya tentunya ingin mengingatkan, bahwa di sini saya tidak datang untuk menyalahkan Anda yang membenci Gabi Braun dengan alasan-alasan di atas. Sebenarnya di sini saya malahan ingin mengajak Anda semua untuk bersama-sama mengutuk Marley karena telah membawa narasi sampah dari masa lalu dan mencuci narasi itu ke otak para anak-anak polos yang gak tahu apa-apa untuk memahami narasi sampahnya.

Entah itu Gabi, Falco, atau pun timnya Reiner pada masa anak-anak tentunya bisa dibilang adalah para korban dari ekspoloitasi anak yang dilakukan Marley melalui doktrin konyol yang dipenuhi kepentingan pribadi Marley saja. Mereka terpaksa mengikuti arus dan menerima mentah-mentah doktrinasi tersebut karena ada harga yang harus mereka bayar apabila menolak manut terhadap aturan penguasa.

Terdiskrimnasi dari lingkungan, ditempatkan dalam kamp pengasingan, serta diwajibkan untuk menyerahkan jiwa raganya apabila dibutuhkan. Mereka jelas terpaksa hidup menghabiskan masa remaja dengan mengabdi kepada ras yang membenci mereka dan memperlakukan mereka selayaknya binatang.

Dari situ, seharusnya memang kita sebaiknya memilih prihatin saja terhadap Gabi Braun serta anak-anak Eldia lain yang tinggal di Marley ketimbang membencinya.

Karena sebab dari tindakan dan sikap yang telah mereka perbuat, merupakan buah hasil dari keputusasaan yang menimpa mereka melalui belenggu sentimen dosa-dosa yang padahal mereka belum tentu tahu, sebenarnya dosa-dosa itu sahih atau cuman dongeng bualan penguasa demi mengeksploitasi kepolosan diri mereka saja.

Sebagai catatan: penulis sebenarnya adalah penggemar garis keras seiyu Ayane Sakura

 

 

Do you like Pikri Alamsyah's articles? Follow on social!
Nawala Karsa NK Kurio