Industri gim di Indonesia berkembang pesat dan stabil dalam lima tahun terakhir. Hal ini terbukti dengan beberapa gim produksi dalam negeri yang telah sukses dikenal para gamers di seluruh dunia. Dengan harapan agar melahirkan calon pengembang gim unggul, sebuah program bernama Game Talent Indonesia telah hadir!

Bagaimana program ini akan mendukung industri gim tanah air nantinya?

Tentang Game Talent Indonesia

Asosiasi Game Indonesia (AGI) dengan Agate Academy bekerjasama membentuk sebuah inisiatif bernama Game Talent Indonesia (GTID). Lewat konferensi pers yang diadakan di YouTube Asosiasi Game Indonesia, Game Talent ID dilaksanakan dengan cara membuat kerjasama dengan institusi akademik formal. Institusi tersebut meliputi universitas, politeknik dan institusi vokasional dengan industri yang terwakili oleh AGI dan Agate Academy.

Melansir situs resminya, Game Talent ID bertujuan meningkatkan kualitas dan kuantitas talenta-talenta baru di industri game Indonesia. Diharapkan, program ini akan mendukung industri kreatif dalam negeri dan menciptakan daya saing atas negara-negara lainnya yang telah berkembang di industri gim mancanegara.

Industri Gim di Indonesia Punya Potensi Tinggi

Latar belakang pembentukan GTID sendiri tidak lepas dari visi dan misi AGI untuk memajukan industri gim tanah air. Menurut ketua umum AGI, Cipto Adiguno, industri gim di Indonesia berkembang tetapi masih terbilang ketinggalan daripada negara lainnya.

Market share untuk industri lokal pada waktu itu (2015) sekitar 0,4%-2,0%. Jika membandingkan negara lain seperti Australia dan Polandia, mereka menyerap sekian lebih banyak tenaga kerja di industri serupa,” tutur Cipto Adiguno.

Ia mengatakan bahwa industri gim Indonesia agar bisa berkembang perlu Kembangan banyak talent baru supaya bisa berkontribusi di Indonesia untuk kedepannya. Meskipun demikian, data terakhir pada tahun 2020 jumlah produksi gim dalam negerinya meningkat secara eksponensial.

“Pertumbuhan skala usaha di beberapa developer dalam negeri karena bermulainya usaha mikro berpindah ke usaha kecil dan menengah. Jadi, dengan itu datang juga demand untuk mencari para talenta baru,” katanya.

Mengapa Game Talent ID?

Perwakilan dari Agate, Restya, memaparkan seluk belik dari program inisiatif tersebut. Ragam faktor yang meliputi “talent masih terbatas, ada gap antara edukasi dan industri, dan pengembangan ekosistem gim” mendasari pembentukan inisiatif GTID.

“Bagi mahasiswa sarjana bisa kerja di studio atau bentuk studio sendiri. Namun tergantung tingkatan pengalaman yang para talent kuasai itu pun beragam,” kata Restya.

Hal ini juga berpengaruh kepada para calon developer yang ingin berkarir dalam industri gim di luar negeri.

Program GTID sendiri terinspirasi dari program negara-negara tetangga yang menerapkan langkah serupa. Kersajama sejumlah universitas yang perhatian terhadap industri kreatif, dengan industri gim langsung, terbentuk agar menciptakan sebuah diskusi bersama dalam berbagai aspek. “Misalkan kurikulum, dan mengajarkan pengembangan gim.”

Untuk program ini meliputi seminar lewat daring, diskusi kurikulum bersama institusi pendidikan tinggi, pembelajaran daring, program magang, kompetisi, dan lain sebagainya.

“Salah satu program yang bernama DILo Game Academy ini, misalnya, menyediakan online course yang sertifikatnya bisa konversi menjadi SKS,” jelas Restya.

Sejumlah Universitas Negeri dan Swasta Berpartisipasi

kelas komputer

GTID bekerjasama dengan sejumlah universitas di Indonesia agar meningkatkan mutu industri gim video di Indonesia lewat lulusan unggulannya. Beberapa universitas yang telah ikut dalam inisiatif ini adalah Universitas Pasundan, Bina Nusantara Bandung, Universitas Multimedia Nusantara, dan lain sebagainya.

Saat ini masih terbuka untuk universitas lainnya yang berminat gabung dengan program GTID ini. Jika ada universitasmu yang ingin bekerjasama dalam program GTID ini, Kamu bisa membuka situs resminya lewat pranala ini.

Nawala Karsa NK Kurio