Beranda » Penyiaran » TV Indonesia Rewind! Tahun 2019 Penuh Persaingan Antar Stasiun TV

TV Indonesia Rewind! Tahun 2019 Penuh Persaingan Antar Stasiun TV

Tahun 2019 segera berakhir. Sepanjang tahun ini ada banyak hal yang mewarnai industri TV Indonesia. Tak banyak yang mengejutkan memang, seiring dengan tak begitu banyak artikel kami sepanjang tahun ini yang mengupas hal tersebut.

Namun begitu, bukan berarti kami ingin NawaReaders melewatkan begitu saja kejadian-kejadian menarik di televisi Indonesia selama setahun ke belakang.

1. TV Indonesia 2019 Merupakan Tahunnya TVRI

Boleh setuju boleh tidak, namun dari pantauan kami, TVRI menjadi stasiun TV yang cukup sering kami ulas sepanjang tahun ini. Sehingga wajar jika kami menetapkan demikian.

Mulai dari rebranding yang mampu mencuri perhatian warganet, direngkuhnya sejumlah siaran olahraga seperti Premier League dan Formula E hingga mampu meraih rating program teratas sepanjang sejarah mereka dalam survey Nielsen, menjadi catatan manis bagi lembaga penyiaran publik tanah air itu.

Sayangnya, catatan impresif tersebut sedikit ternoda di penghujung tahun. Penonaktifan Direktur Utama Helmy Yahya menjadi musababnya. Sampai saat ini, belum ada titik temu antara dewan direksi dan dewan pengawas.

2. Apakah Nonton TV Masih Asik di NET?

Tahun 2019 seakan menjadi tahun yang berat untuk NET. Usai berakhirnya kepemimpinan Wishnutama di stasiun televisi itu, NET mengalami banyak penyesuaian di dalamnya. Mulai dari efisiensi karyawan, penutupan biro daerah, hingga banyaknya program yang datang dan pergi.

Sayangnya, dalam pemantauan redaksi sejumlah usaha tersebut belum mampu mengangkat kinerja NET secara signifikan. Sejumlah program lama diakhiri penayangannya, program baru yang diracik pun tak banyak yang berumur panjang.

3. MyTV, Stasiun Televisi Baru Minim Atensi

TV Indonesia

Awal Februari 2019, Grup Mayapada meluncurkan MyTV. Stasiun televisi yang sebelumnya bernama INtv ini mendaku diri menjadi stasiun TV wanita pertama di Indonesia. Sebuah langkah berani di tengah industri media yang relatif stagnan.

Sayangnya, usaha tersebut cenderung ditanggapi dingin oleh masyarakat. Jangkauannya yang terbatas, konten yang masih bercampur dengan home shopping, serta inkonsistensi siarannya di jalur satelit membuat MyTV tak cukup mendapat tempat di hati masyarakat.

4. TV Indonesia Berbayar, Arena Baru Konglomerasi Media

Pemirsa TV gratisan di satelit dibuat gusar sejak Mei 2019, dimana MNC Group memulai manuver dengan mengacak siaran RCTI, MNCTV dan GTV di satelit Palapa D. Puncaknya, MNC mengakuisisi 60% saham TV berbayar K-Vision pada bulan Juli.

Sesuai prediksi kami, hal ini kemudian diikuti oleh konglomerasi media lainnya. Grup Emtek menyusul dua bulan kemudian dengan meluncurkan Nex Parabola, hasil kerja sama dengan Matrix. Tak lama berselang, giliran Transmedia yang meluncurkan Transvision Nusantara HD bersama Tanaka.

Sementara Grup Lippo justru menghadapi keadaan yang berlawanan. TV berbayar milik mereka, Big TV, harus menjalani persoalan utang di pengadilan. Layanan Big TV sendiri sudah tidak aktif sejak Juli 2019.

5. Streaming Lebih Dari TV, Boom!

Tak hanya TV berbayar, MNC Group memanaskan kembali industri streaming yang cenderung stagnan. Melalui aplikasi RCTI+, MNC Group menjanjikan pengalaman lebih dalam menyaksikan konten stasiun TV milik mereka. Sampai saat ini tidak hanya konten in-house yang hadir di aplikasi itu, tapi juga acara sepak bola Ligue 1 dan Eridivisie.

Sementara pemain baru dari grup Djarum, Mola TV, masih berjuang keras mempromosikan layanan streaming garapannya. Maraknya streaming ilegal ditambah perlawanan dari masyarakat membuat jalan Mola TV kian terjal.

6. TV Indonesia Sepi Bola di 2019

Penikmat sepak bola menadi pihak yang turut merasakan nelangsa di paruh kedua tahun ini. Berubahnya pemegang hak siar sejumlah kompetisi sepak bola ternama menjadi penyebabnya.

Bergesernya hak siar Premier League dari beIN Sports ke Mola TV menjadi hal yang banyak mengubah lanskap penyiaran sepakbola tanah air. Lepasnya kompetisi sepak bola termahal di dunia itu membuat beIN Sports membatasi sublisensi hak siar ke TV swasta.

Praktis, tak ada La Liga di TV swasta Indonesia hingga sekarang. Sementara Serie A baru dapat disaksikan di layar RCTI setelah melewati sepertiga musim.

Sementara Premier League terlihat semakin ketat dalam menjaga nilai siarnya. Maraknya pembajakan di berbagai medium membuat Premier League bersama sejumlah pemegang hak siar utama menempuh berbagai upaya. Akibatnya, stasiun TV asal Thailand yang sering dinikmati pemirsa tanah air via satelit, PPTV, mengakhiri siaran Premier League.

Demikian catatan kami mengenai industri TV Indonesia sepanjang 2019. Kami memohon maaf jika ada sejumlah tren sepanjang 2019 yang tidak masuk dalam catatan kami sepanjang tahun ini.

Loading...