Beranda » Opini » Adakah Masa Depan Bagi Transportasi Monorail?

Adakah Masa Depan Bagi Transportasi Monorail?

MASA DEPAN MONOREL – Indonesia saat ini hanya memiliki empat moda transportasi publik raya terpadu yang telah sukses dikembangkan. Sebut saja Transjakarta (BRT), MRT Jakarta (MRT), LRT Palembang dan Jakarta (LRT), dan Commuter Line (KRL).

Namun ada satu moda transportasi yang belum dapat diwujudkan hingga saat ini, yaitu Monorail. Sebenarnya, apa yang membuat moda yang satu ini tidak dapat berkembang ataupun dibangun di Indonesia?

Apa Itu Monorel?

Sebelum membahas hal tersebut, terlebih dahulu kita harus mengetahui tentang apa itu monorel. Merupakan rel metro dengan jalur rel tunggal, Monorel merupakan kereta yang lebih radikal dari kereta konvensional lainnya. Monorel sendiri memiliki dua tipe yang berbeda, yaitu tipe ALWEG serta SAFAGE.

monorel jenis alweg
Contoh monorel ALWEG: Tama Monorail dan Chongqing Rail Transit (Edited by Filbert Limbunang)

Tipe ALWEG sendiri pertamanya dikembangkan oleh perusahaan riset Jerman Alweg-Forschung, GmbH. Di tahun 1960, dibawah naungan perusahaan Jepang Hitachi, teknologi monorel tipe ALWEG ini akhirnya dibeli dan kini dipasarkan oleh Hitachi melalui Hitachi-Alweg.

Tipe monorel ALWEG ini sendiri berbentuk straddle-beam, dimana monorel yang beroperasi berada diatas lintasan rel. Lintasan monorel dibentuk dari beton ataupun baja yang dilapisi karet, dengan roda monorel yang dibuat dari karet dan berada di atas dan dalam pinggir kereta.

Sistem penggerak monorel ALWEG yang asli (kiri) dan hasil kembangan Hitachi (kanan). (Foto: Filbert Limbunang/FB)

Model kereta ini pertamanya memiliki casing yang membuat tampilan kereta menjadi tidak menarik, dan hal itu disebabkan oleh adanya roda utama yang besar dan memakan tempat didalam rangkaian kereta tersebut. Namun sejak dikembangkan oleh Hitachi, roda-roda tersebut kini dimuat pada bagian bawah gerbong, dan dapat menyajikan kesan bahwa monorel lebih berestetika dari sebelumnya.

monorel tipe safege
Contoh monorel SAFEGE: Shonan Monorail dan Chiba Urban Monorail (Foto: Filbert Limbunang/FB)

Kemudian ada tipe monorel SAFEGE yang dikembangkan oleh konsorsium perusahaan Perancis Société Anonyme Française d’ Etude de Gestion et d’ Entreprises pada tahun 1950-an. Tipe monorel tersebut bekerja dengan cara: Kereta monorel berjalan secara menggantung dibawah sebuah lintasan kereta yang terbuat dari baja.

Penggeraknya juga menggunakan roda karet dan roda penuntun di empat sisi. Kemudian dari penggerak terdapat suspensi yang terhubung di atas badan kereta (“menggantung”) yang meminimalkan goyangan dan getaran pada kereta.

Perkembangan dari Masa ke Masa

Monorel pertamanya hanya digunakan sebagai moda transportasi umum untuk jarak pendek (layaknya LRT pada umumnya) dan penggunaannya hanya sebatas di kebun binatang maupun taman bermain.

Hingga Jepang yang pertama kali mempelopori monorel sebagai moda transportasi massal secara serius melalui pembangunan Tokyo Monorail (model ALWEG) dan Shonan Monorail (model SAFEGE) di era 70-an dan hal tersebut berhasil menarik perhatian banyak negara.

Komparasi antara konstruksi monorel dan LRT. (Foto: Filbert Limbunang/FB)

Kemudian di tahun 2005, Cina akhirnya membangun Chongqing Rail Transit (Chongqing Metro) yang merupakan lintas monorel berbentuk Maglev terpanjang dan tersibuk di dunia. Hal ini memecah stigma bahwa monorel tidak bisa dipandang sebelah mata.

Lalu, apa kelebihan monorel? Dengan sistem lajur kereta yang elevated, moda transportasi publik ini dapat berjalan dengan baik tanpa mengganggu aktivitas maupun lalu lintas dibawahnya. Hal ini merupakan solusi bagi perkotaan dengan kawasan yang padat layaknya Jakarta ataupun Medan.

Monorel memiliki struktur footprint yang ramping sehingga tidak memerlukan lahan yang luas dan tidak merusak pemandangan dan “bikin semak” ketimbang struktur elevated railway pada umumnya.

Desain monorel selain sederhana juga tampak futuristik sehingga memberi nilai tambah bagi kualitas kehidupan masyarakat perkotaan. Bahkan konsep kereta levitasi magnetik pun terinspirasi dari monorel ini. Sistem monorel dapat menekan biaya konstruksi dan biaya perawatan karena struktur lintasannya yang simpel dan tahan lama, tentu lebih mudah merawat roda karet daripada roda baja.

Sistem monorel punya daya adhesi yang kuat berkat roda karet dan dapat mengakomodir kemiringan yang tajam (gradien > 6%), tikungan yang sangat tajam (< 70 meter), dan meminimalisir terjadinya kecelakaan seperti anjlok, slip (tergelincir) dsb.

Sistem monorel juga tidak berisik dan tidak mengganggu aktivitas sekitar. Bahkan terdapat sebuah stasiun monorel di Cina yang berada pada sebuah apartemen. Penduduk disana mengaku tidak merasa terganggu bahkan tidak sadar setiap ada kereta melintas.

Kecepatan monorel juga tidak kalah untuk sekelas transportasi massal. Monorel pada umumnya memiliki kecepatan maksimal 75-80 km/h dan kecepatan rata-rata 45-55 km/h, setara untuk lintas MRT (tergantung jarak lintasan).

Sistem monorel cocok untuk transportasi massal jarak menengah dan kapasitas sedang meskipun Chiba Monorail dan CRT telah mengoperasikan lintas monorel yang sangat panjang dan kapasitas sangat tinggi di dunia, lebih jauh dari ekspetasi kita.

Singkatnya, monorel adalah salah satu hasil pengembangan moda transportasi merupakan cikal bakal kereta futuristik yang cepat, aman dan nyaman, sebagai akar dari transportasi rel yang telah menjadi bagian hidup orang banyak.

Adakah Masa Depan Bagi Transportasi Tersebut di Indonesia?

Keberadaan monorel di Indonesia terutama di Jakarta tidak diapresiasi dengan baik. Mengutip dari Kompasiana.com, proyek Monorel Jakarta yang dimulai bertepatan dengan HUT ke-477 Jakarta pada 22 Juni 2004 silam itu terbengkalai setelah pihak Omnico Singapura tidak dapat menyetor modal guna pembangunan monorel tersebut.

Sempat dikabarkan bahwa monorel di Jakarta akan dibangkitkan lagi oleh investor asal Dubai, namun pada saat itu Menteri Keuangan RI Sri Mulyani (masa jabatan Kabinet SBY) menolak dengan alasan pemerintah pada saat itu tidak menjamin proyek-proyek yang tengah dibangun oleh pihak swasta.

Hasilnya? Tiang-tiang Monorel yang terbengkalai itu mengganggu pemandangan di kawasan Kuningan serta kawasan Senayan-Palmerah. Dan parahnya kondisi tersebut malah menjadi membelah jalanan pada kawasan tersebut dan terkadang menciptakan traffic jam yang cukup parah.

Tujuan pembangunan monorel di kawasan strategis di Jakarta saat itu adalah untuk mengurangi kemacetan yang ada di kawasan inti kota, sekaligus untuk mensosialisasikan kepada masyarakat mengenai transportasi publik yang ideal seperti monorel.

Proyek Monorail mungkin tidak dapat berkembang di Indonesia apabila pihak pengembang tidak memiliki pemikiran yang selaras dengan pemerintah pusat maupun daerah. Hal ini dapat dicontoh dari proyek Monorel Jakarta, dimana pihak pengembang tidak mengindahkan saran dari dinas-dinas terkait mengenai tata ruang monorel tersebut.

Selain itu, pemerintah juga harus menyiapkan peraturan-peraturan investasi yang fleksibel agar kedepannya banyak pihak swasta yang memiliki modal untuk menanamkan atau bahkan siap mengembangkan transportasi monorel ini di berbagai kota besar di Indonesia.

Jadi, apakah saat ini Indonesia sudah siap dengan hal tersebut?

 


Sejumlah foto dan materi yang digunakan diambil dari Filbert Limbunang. Anda dapat melihat pembahasannya mengenai monorel melalui pranala berikut.

Loading...