TVRI Ungkap Alasan Pengacakan Siaran Premier League di Satelit

TVRI PREMIER LEAGUE — Juni 2019, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan kabar mengenai Premier League. Setelah kontrak siaran di MNC Group dan beIN Sports berakhir, isu penayang Premier League musim berikutnya menjadi hangat dibicarakan. Sempat diisukan akan mengudara di Transmedia dan NET. TV, siaran Premier League musim 2019-2020 akhirnya resmi mengudara di…

TVRI.

Seketika masyarakat geger karena jarang-jarang TVRI bisa mendapat hak siar liga sepak bola paling bergengsi, terlebih jika melihat anggaran TVRI yang memang jauh lebih tipis dibandingkan seluruh TV swasta berjaringan nasional. Apapun faktornya, jawaban yang pasti adalah: Mola TV yang menunjuk TVRI. Tak ayal, banyak harapan yang ditimpakan pecinta sepak bola kepada TVRI.

Musim sepak bola kembali dimulai. Premier League hadir lebih awal di antara liga-liga top Eropa lainnya. Anehnya, euforia yang terjadi sedikit berbalik arah. Banyak yang mengeluhkan pertandingan yang ditayangkan bukan pertandingan super big match – istilah untuk pertandingan yang mempertemukan 2 dari 6 tim papan atas Premier League, penonton yang berada di luar jangkauan siaran terestrial TVRI hingga siaran satelit yang menggunakan acakan XCrypt, berbeda dengan tayangan olahraga lainnya yang ditayangkan TVRI yang masih bisa diakses oleh sebagian pengguna parabola karena menggunakan acakan BISS.

Ada fakta menarik mengenai jangkauan terestrial TVRI. Berkaca pada data Potensi Desa yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik tahun 2018, walaupun TVRI acap kali menggembar-gemborkan lebih dari 300 pemancar yang dimiliki, sayangnya keseluruhan pemancar tersebut belum benar-benar mencakup seluruh wilayah Indonesia. Sementara wilayah pulau Jawa sudah mampu terlayani sebanyak 73,4% desa/kelurahan, ketika melihat jangkauan di pulau lain persentasenya merosot tajam, bahkan mencapai kurang dari 25% desa/kelurahan per pulau. Sisanya lebih banyak desa/kelurahan yang terlayani melalui satelit.

Helmy Yahya: Kami Comply Pada Aturan

Dalam wawancara yang ditayangkan pada program Indonesia Hari Ini TVRI, Sabtu (10/8), Direktur Utama TVRI Helmy Yahya menjawab beberapa hal terkait penayangan Premier League. Helmy membuka dengan dasar keterbatasan siaran TVRI terkhusus untuk penayangan Premier League, yaitu keterbatasan anggaran TVRI.

“…APBN kita itu sangat kecil, masih belum besar, masih di bawah TV swasta, itulah sebabnya kemampuan kita juga terbatas,” ucap Helmy.

Helmy mengaku ingin melayani masyarakat dengan sebanyak mungkin pertandingan Premier League. “Kalau kita ingin ngikutin menghibur masyarakat, kita mau sepuluh-sepuluh game tiap minggu kita tayangkan […] tapi kita kan nggak bisa begitu, kita terbatas, ya berdoa aja anggaran kita ditambah,” ucap Helmy.

Ketika ditanyakan oleh Imam Priyono mengenai ketersediaan siaran Premier League melalui parabola, secara cepat Helmy menjawab, “tidak bisa.”

Helmy menegaskan bahwa siaran Premier League di TVRI hanya dapat disaksikan secara terestrial sesuai perjanjian dengan Mola TV. “Kita itu berharap semua masyarakat Indonesia, 365 juta (268 juta menurut proyeksi resmi tahunan BPS 2019 – red) sampai bayi pun bila perlu silakan tonton. Persoalannya kita terikat perjanjian dengan Mola TV, pemilik rights, bahwa kita yang diperbolehkan (menyaksikan Premier League di TVRI) adalah pemirsa TVRI yang menonton melalui antena UHF baik yang analog maupun digital,” jelas Helmy.

Namun, Helmy tidak membantah bahwa jaringan terestrial yang dimiliki TVRI pun tidak seluruhnya dalam kondisi prima. “Ya memang ada daerah tertentu belum ter-cover karena dari 360 sekian pemancar TVRI itu ada yang udah mati, ada yang sudah lemah powernya,” aku Helmy.

Mengenai keluhan warganet mengenai pengacakan siaran Premier League menggunakan enkripsi XCrypt, Helmy menjawab bahwa hal tersebut merupakan permintaan pemilik hak siar.

“Kenapa sih kok beli acakan maut pakai uang APBN? Ini permintaan dari pemilik rights agar kami menggunakan XCrypt supaya tidak bisa dibongkar. Dulu memang ada pertandingan-pertandingan kita bisa dibuka, yang pake BISS key gitu ya bisa dibuka. Sebenarnya itu nggak boleh, itu ilegal. Sebenarnya sih, kita sih nggak apa-apa cuman kalau yang punya rights melarang, ini persoalan. Jadi mohon pengertian betul,” urai Helmy.

Untuk pengadaan perangkat enksripsi siaran XCrypt sendiri, TVRI telah mengadakan lelang cepat pada pertengahan tahun 2019. Lelang tersebut dimenangkan oleh Global Broadcast Supply dengan harga hasil negosiasi senilai Rp1,45 miliar.

Helmy menegaskan fungsi TVRI sebagai TV publik untuk melayani publik seluas-luasnya. “Dan karena kita comply pada aturan itulah, mana yang nggak boleh ya kita nggak boleh, mana yang boleh kita persilakan. Pokoknya kami TVRI ini adalah TV publik. Memberikan pelayanan publik seluas-luasnya, kecuali dibatasi,” ucap Helmy.