Melankoli Dunia Fansub dan Fanshare Anime di Indonesia

Setelah sebelumnya membahas drama Meownime, kali ini kami ingin membahas sedikit masalah mengenai lika-liku Fansub dan Fanshare anime bajakan di Indonesia. Mari kita sejenak merenung dan melupakan masalah kemarin setelah dihebohkan dengan tutupnya salah satu fanshare anime cukup terkenal, yang sebenarnya bukanlah masalah besar jika kita teliti lebih dalam. Mengapa demikian?

Perlu diketahui bahwasanya sejak tahun 2010 sudah mulai bermunculan fansub-fansub menerjemahkan anime ke dalam bahasa indonesia. Fanshare juga sudah mulai bermunculan sekitaran tahun 2012 hingga sekarang jumlahnya sudah lebih banyak dibanding fansub indonesia itu sendiri. Dengan sepak terjangnya yang sudah begitu lama, maka jumlahnya sudah sangat banyak. Tutupnya satu fanshare tidak akan menghentikan kalian untuk mengkonsumsi anime bajakan, terlebih fanshare hanyalah sekedar situs yang hanya sekedar melakukan repost dan reupload anime bertakarir bahasa indonesia yang sebelumnya telah diterjemahkan oleh fansub tertentu. Jadi jika suatu fanshare mati, kita masih bisa ke sumber fansub dimana fanshare tersebut  “mencuri”nya. Kita juga masih bisa mencarinya fanshare lain. Jadi tidak ada alasan untuk marah-marah jika fanshare kesukaan kalian tutup.

Salah seorang dari tim Nawala Karsa berkesempatan mewawancara sebuah fanpage di facebook yang bernama “Anime Indonesia Desu“. Pada 28 Juni 2019, admin fanpage tersebut membuat sebuah postingan yang berisikan celotehan tentang betapa bodohnya orang-orang yang masih bergantung kepada fanshare dalam mendownload sebuah anime bajakan ketika ada puluhan fansub yang masih aktif berkontribusi membuat takarir berbahasa indonesia untuk anime. Dalam sebuah kesempatan, salah satu dari tim kami berhasil mewawancarai admin dari fanpage tersebut mengenai drama fansub dan fanshare ini.

Tanya Jawab dengan admin Anime Indonesia Desu Mengenai Fansub dan Fanshare di Indonesia

Q: Bagaimana pendapat kamu soal semakin banyaknya fansub dan fanshare seperti ini di Indonesia? Apakah ini sebuah hal baik atau buruk, atau tidak kedua duanya?

A: Jika soal fansub menurut saya tidak masalah mungkin seperti mereka membantu yang tidak bisa bahasa asing untuk membantu mereka bisa mengerti alur cerita dan untuk fanshare pun tidak masalah karena terkadang data itu perlu disimpan dimana mana biar tidak hangus di storage. Ada baiknya ada tidaknya juga, karena Warga wibu indonesia ini beragam kebutuhannya ada yang team batch, team ongoing, team hemat resolusi, team hemat storage, team resolusi dewa dan lain-lain. Terkadang mereka pasti mencari kebutuhannya. Jika di fansub tidak ada mereka mencari di fanshare yang meng-encode video ke kualitas rendah atau mencari yang kualiatas yang bagus untuk dilihat.

Q: Apakah perlu dibuat segmentasi soal fansub yg memiliki terjemahan bagus yang tidak menguangkan hasil kerjanya, dengan fansub yang tujuannya memang cari duit? Menurut kamu kenapa justru fansub yang biasanya terjemahannya kurang bagus atau fanshare yang tujuannya cari uang dengan website penuh iklan sana sini lebih laku dibandingkan fansub yang mengerjakan translasi anime tanpa dibayar dan tidak mencari uang dari hobinya itu?

A: Menurut saya sih tidak masalah ya, Terjemahan bagus? itu relatif, Tidak menguangkan? mungkin cuman ingin mengisi waktu luang. Cari duit? Jika memang pekerjaan yang cocok untuk dia saat ini ngesub ya tidak masalah. Fansub dan fanshare yang tujuannya mencari duit dari website biasanya lebih sering update dan tidak sering ngaret daripada yang fansub yang mengerjakan translasi anime tanpa dibayar.

Q: Apakah menurut kamu penggemar anime di Indonesia sudah siap mengkonsumsi konten legal seperti yg disediakan Ponimu dan Netflix?

A: Menurut saya itu tergantung, karena di orang yang suka anime di Indonesia itu sejak dini sepertinya sudah diajarkan jika tidak butuh-butuh banget ya tidak usah. Kebiasaan ini yang sulit untuk diubah di masyarakat Indonesia. Ya contohnya event AFA ID dan Hatsune Miku Expo yang padahal sangat berkualitas saja masih pada memikirkan dompet masing masing.

Sudah saatnya kah kita beralih ke yang legal?

Jadi, bagaimana pendapatmu mengenai dunia bajak-membajak anime di Indonesia ini yang sudah berjalan sekitar hampir 1 dekade ini? Tetap lebih suka fansub atau fanshare? Atau sudah waktunya kah kita beranjak ke konten yang legal dengan menonton di situs resmi seperti Ponimu dan Netflix?

Pilihan tetap ada di tangan kalian semua. Masa depan komunitas ini bergantung bagaimana kalian menyikapi hal ini. Sudah saatnya kita mulai berpikir lebih dewasa dan memikirkan akibat dari tindakan kita. Bahkan untuk masalah seperti ini pun memberi dampak. Bagaimana tidak? Jika semakin banyak yang mengkonsumsi anime bajakan, maka komunitas anime di Indonesia akan tetap seperti sekarang. Namun jika mulai beralih menonton anime secara legal, maka akan semakin membuka peluang untuk lebih mudahnya masuk merchandise dan barang-barang anime lainnya kesini secara resmi. Karena dengan semakin banyaknya penikmat konten legal maka pihak produsen disana jadi memiliki data yang valid bahwa ternyata penggemar anime di Indonesia itu ada sebanyak ini. Dengan begitu mereka tidak ragu untuk menjual produknya ke Indonesia dan penggemar anime di Indonesia pun semakin mendapat kepercayaan dari pihak produsen di Jepang.