Beranda » Music » Kekerasan Terhadap Remaja, Haruskah Berulang?

Kekerasan Terhadap Remaja, Haruskah Berulang?

OPINI – Kasus kekerasan terhadap anak muda, khususnya pada remaja, bukanlah hal baru yang terjadi di tengah kehidupan masyarakat Indonesia. Seringkali kita mendengar atau membaca mengenai kasus tersebut di berbagai media, baik itu di media cetak maupun media daring. Sayangnya, kasus seperti itu biasanya hanya seperti angin lalu, datang sebentar dan berlalu begitu cepat. Hanya terdengar sebentar saja sebelum menghilang.

Namun, bukan itu yang ingin saya tekankan. Kekerasan terhadap remaja adalah hal yang sangat serius, dan itu tidak boleh luput dari perhatian masyarakat. Kita harus senantiasa diingatkan dan saling mengingatkan bahwa kebahagiaan kita tidak perlu harus sampai mengorbankan kebahagiaan orang lain pula.

Baru-baru ini, kasus kekerasan remaja kembali terulang di Pontianak, Kalimantan Barat. Seorang siswi SMP berumur 14 tahun bernama Audrey dianiaya oleh sejumlah siswi SMA sebanyak dua kali. Akibatnya, gadis belia itu kini harus dirawat di rumah sakit dan mengalami trauma, baik secara fisik maupun psikologis. Tentunya, tidak mudah baginya untuk dapat melewati ini semua. Dilansir dari VOA Indonesia, diduga hal ini terjadi karena Audrey secara tidak langsung terlibat masalah asmara yang sebenarnya dialami oleh pelaku dan juga kakak sepupu Audrey. Agar kakak sepupunya keluar, pelaku utama yang berjumlah tiga orang tersebut menggunakan Audrey sebagai pancingan.

Banyak warganet yang mengecam perilaku dari tiga orang pelaku penganiayaan terhadap Audrey tersebut. Pasalnya, para pelaku seakan tidak merasa malu, bahkan masih sempat mengirim Instastory ketika diinterogasi oleh polisi. Di sisi lain, ada juga berita yang mengatakan bahwa Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Pontianak berharap kalau peristiwa ini dapat diselesaikan dengan “damai.” Tak heran banyak warganet yang mengecam pernyataan KPPAD tersebut.

Peristiwa Audrey ini mengetuk hati banyak orang. Sejumlah figur publik, seperti Hotman Paris dan Karin Novilda atau Awkarin, menyebarkan berita ini di laman Instagram pribadi mereka dan bertekad untuk memperjuangkan keadilan bagi Audrey. Ada Reza Oktovian dan Atta Halilintar yang telah menunjukkan simpati mereka pada Audrey dengan cara video call bagi Reza dan pergi langsung ke Pontianak bagi Atta. Warganet juga telah membuat laman petisi melalui situs Change.org yang bertajuk “KPAI dan KPPAD, Segera Berikan Keadilan untuk Audrey #JusticeForAudrey!”

 

Kekerasan Itu Tidak Keren

Selama masa sekolah, saya pernah menjadi korban perundungan. Perundungan itu dilakukan karena para pelakunya menganggap saya lemah dan karena saya memiliki kekurangan, yaitu tidak bisa mengucapkan huruf “r” atau biasa disebut cadel. Baik perundungan secara fisik maupun verbal pernah saya rasakan dari mereka. Dampaknya, saya menjadi pribadi yang diam dan selalu memendam perasaan. Agak aneh melihat mereka diidolakan oleh teman-teman saya (karena mereka juga memang berbakat dalam beberapa hal), tapi mereka tidak tahu kalau luka yang mereka tinggalkan buat saya amatlah besar.

Saya rasa, bukan hanya saya saja yang pernah menjadi korban perundungan sewaktu anak-anak, atau mungkin, buat sebagian orang, pada waktu mereka remaja. Data dari UNICEF pada tahun 2016 membuktikan kalau kekerasan sesama remaja di Indonesia telah mencapai angka 50%. Hal ini menunjukkan kalau anak-anak muda di Indonesia masih rentan dengan yang namanya kekerasan. Entah itu secara verbal, psikologis, fisik, atau bahkan secara siber, tidak ada yang luput dari kemungkinan tersebut.

Motivasi anak muda memang bermacam-macam waktu melakukan kekerasan. Ada yang karena balas dendam, karena gengsi, atau bahkan, seperti para pelaku penganiayaan Audrey, karena masalah asmara. Biasanya, yang terakhir dilakukan oleh perempuan. Namun, hal itu seharusnya bukan menjadi alasan mengapa anak muda rentan dengan kekerasan di lingkungan tempat mereka tinggal.

Satu hal yang menjadi highlight dalam kasus ini adalah pelakunya yang merupakan sesama perempuan, yaitu tiga siswi SMA kelas 12. Tidak hanya kekerasan fisik dan verbal yang dilakukan, namun mereka juga melakukan kekerasan seksual terhadap adik kelas mereka sendiri, seorang remaja putri berusia 14 tahun.

Seharusnya, para pelaku tahu kalau apa yang mereka lakukan itu salah dan tidak membuat keadaan semakin baik. Setiap orang haruslah saling bergandeng tangan, menyatukan kekuatan, agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi. Tidak peduli siapapun pelakunya, ia harus diadili atas apa yang telah ia perbuat dan menanggung perbuatannya, sebagaimana korban menanggung penderitaannya.

Satu lagi, apapun motivasinya, perundungan tidak akan membuat para pelaku menjadi terlihat keren bagi anak muda lainnya. Percayalah, penganiayaan terhadap seseorang yang mungkin tidak kalian sukai tidak akan menghasilkan kebahagiaan bagi dia, maupun bagi kalian juga.

 

Anak Muda, Agen Perubahan

Melihat kasus ini, banyak anak muda juga berkomentar mengenai betapa pentingnya meningkatkan kesadaran akan isu tersebut. Dan, saya pikir, anak muda merupakan agen perubahan yang cocok untuk memulai gerakan ini.

Anak muda, sebagai generasi penerus bangsa, seharusnya dapat berpikir dengan jernih sebelum bertindak dan dapat menjadi contoh yang baik bagi masyarakat pula. Sejarah telah membuktikan bahwa kaum muda adalah kaum yang paling berpengaruh dalam menentukan arah sebuah bangsa.

Jika kita tahu kalau kasus ini adalah kasus yang serius, dan kita semua perlu diingatkan dan saling mengingatkan berulang-ulang kalau kasus ini adalah penting dan perlu dihentikan, maka hentikanlah. Mulailah dari diri sendiri. Jika di sekolah atau kampus (atau mungkin, tempat kerja) kalian ada kasus perundungan yang kalian ketahui, maka bantulah korban dan laporkan pelakunya kepada pihak berwenang. Semua itu dimulai dari diri kita sendiri. Menjadi bystander saja tidak akan menolong dan tidak akan berguna. Oleh karena itu, sebagai anak muda Indonesia, marilah kita bergerak bersama untuk menghentikan kekerasan dalam bentuk apa pun.

Karena, kalau bukan kita, siapa lagi?

 

Unpopular Opinion, dari Naufal Alfarizy

Sebagai pengurus Nawala Karsa, saya (Naufal Alfarizy) memang menyetujui opini dari rekan seperjuangan saya Nadia Theresa Johari. Jujur, ini merupakan kasus yang sering terjadi di publik, namun kita tidak punya inisiatif untuk menghilangkan atau setidaknya menghentikan kasus tersebut. Jangankan kasus, circle perundungan ini saja tetap diteruskan oleh sejumlah pihak.

Jangan jauh-jauh! Pasca kejadian Audrey, netizen yang simpati pada akhirnya mem-bully pelaku hingga melakukan Hacking pada salah satu akun Instagram milik pelaku. Selain pelaku, banyak sekali korban ‘salah tembak’ akibat witch-hunt yang dilakukan Netizen untuk menurunkan martabat pelaku utama sekaligus keluarga besarnya. Woi, itu salah! Kalau kalian melakukan hal tersebut, sikap kalian sama saja seperti Pelaku. HINA!

Unpopular Opinion about #JusticeForAudrey

Posted by Gerry Eka on Tuesday, 9 April 2019

Mas Gerry Eka, teman saya di Facebook, juga menuturkan hal yang sama. Ia mengunggah video unpopular opinion dia secara publik di Facebook, menjelaskan bahwa sebagai warganet, kita jangan mem-bully secara berlebihan walaupun dalam kondisi emosional saat menanggapi kasus tersebut.

“Hujat hina, gue ga bisa ngelarang. Emosi, iya gue juga kesel,” ujarnya, “tapi kalau kita bully dia, kata-katai dia, bahkan ada yang menggalakkan sex harrasment terhadap pelaku yang menjurus ke arah amoral, tidak (bisa) seperti itu.” Gerry sendiri menjelaskan bahwa apabila kita melakukan hal tersebut, itu artinya kita sama saja dengan pelaku kekerasan tersebut. “Apa bedanya kalian dengan pelaku kalau sampe timbul ucapan seperti itu?” tanyanya. “Marahlah dengan elegan. Berkata-katalah kasar yang bisa diterima, itu ada batasnya,” sarannya didalam video tersebut. “Tidak perlu mem-bully yang sampai mengesahkan sexual harrasment terhadap pelaku. Karena, itu ga ada bedanya dong?”

Benar, sebagai warganet yang bijak dan masih diawasi oleh orang dewasa lainnya, seharusnya kita bisa bersikap lebih baik dari pelaku itu sendiri. Emosi itu hak kalian, namun apabila kelewatan, mungkin kalian juga yang salah. Jadi, bijaklah dalam menanggapi kasus Audrey, jangan bersikap bodoh. Apa gunanya jutaan tandatangan di Change.org untuk Audrey apabila kita, yang berpihak pada Audrey, malah bersikap kasar juga pada pelaku?

Loading...