[3-EPISODE REVIEW] Girly Air Force, Sekedar Menjiplak Blue Steel atau Justru Lebih Segar?

Kehidupan manusia kini terancam (lagi!) Kedatangan pasukan udara Zai (atau Xi) membuat kacau hingga warga Tiongkok harus mengungsi ke Jepang. Tapi diam-diam Jepang memiliki senjata rahasia: Pesawat canggih yang dipiloti oleh gadis-gadis imut, Girly Air Force!

Girly Air Force memulai ceritanya dengan serangan alien berbentuk pesawat bernama Zai yang menyerang negara Tiongkok. Pemerintah Tiongkok dengan sigap memerintahkan evakuasi warganya dengan bantuan negara Jepang.

Girly Air Force
Ah ya tentu saja, senjata konvensional tidak akan mempan. Cliche sekali.

Evakuasi hampir menjadi bencana ketika skadron Zai tiba-tiba menyerang kapal kargo yang membawa warga Tiongkok dan kapal perang Jepang yang mengawal. Semua upaya untuk melawan hampir gagal, hingga tiba-tiba muncul sebuah pesawat tempur berwarna merah yang dapat menghancurkan para Zai dengan mudah.

Kira-kira begitulah premis dari Girly Air Force (selanjutnya disingkat GAF) yang merupakan adaptasi novel ringan Kouji Natsumi yang dikerjakan oleh studio Satelight. Jika kalian merasa premis ini cukup mirip dengan serial Arpeggio of The Blue Steel, saya akan sangat setuju.

Peralatan perang yang dikendalikan oleh AI berbentuk gadis-gadis moe? Apakah ini jiplakan Arpeggio of The Blue Steel?

Mengapa pesawat tempur makan ramen? Karena Hokage ke tujuh mencintai ramen juga.

Cerita GAF boleh saja dianggap meniru Arpeggio, namun GAF memiliki beberapa kelemahan yang menurut saya justru menurunkan ekspektasi penggemar cerita militer taktis seperti Arpeggio.

Catatan penulis: Opini penulis tentunya akan penuh dengan bias karena penulis merupakan salah satu maniak cerita aksi taktis.

Rasanya seperti menonton Date A Live, tapi pesawat.

Berdasarkan cerita dari 3 episode pertama GAF, impresi pertama saya agak turun. Mungkin karena bumbu romansa yang lebih kuat daripada bumbu aksi taktisnya yang membuat saya kecewa.

Impresi saya yang awalnya menebak alurnya akan mirip Arpeggio justru jatuh setelah menonton 2 episode pertama. Fokus utama pada hubungan Kei sang protagonis dengan Anima dari pesawat JAS 39F “Gripen” justru membuat saya agak bosan.

Girly Air Force
Yap. Selain ramen, kekuatan cinta juga membuat kita kuat yakan?

Baiklah, saya akui ini pasti bias saya. Tapi walaupun bias, fokus hubungan antara Kei dan Gripen sendiri terasa terlalu dipentingkan hingga akhirnya tidak terasa se-spesial hubungan Gunzou dan Iona.

Perkembangan antar Kei dan Gripen terasa terlalu cepat, alasan kenapa dan mengapa hubungan mereka penting-pun terasa seperti eksposisi yang berlebihan. Semua misteri terjawab dalam 2 episode pertama.

Tiba-tiba saya ingat dengan anime Date-A-Live, yang menurut saya pribadi cukup buruk dalam menceritakan plotnya.

Tentu saja alasan mengapa saya merasa begitu karena ciri-ciri Kei sebagai karakter sentral yang dikelilingi oleh gadis yang tertarik padanya.

Kita memiliki Minghua, pacar Kei yang tidak diakui secara resmi oleh sang lelaki yang super clingy. Gripen yang membutuhkan Kei berada di dekatnya agar bisa mendapatkan peforma optimal.

Dan ini belum termasuk 2 gadis lainnya, Eagle dan Phantom yang pastinya akan ikut terjerumus dalam lingkaran hareem Kei.

Ya walaupun begitu, aksi dogfight yang dibuat dengan 3DCG masih cukup memuaskan karena animasinya tidak patah-patah seperti rata-rata anime 3DCG lainnya.

Singkat kata, jangan terlalu berharap jika kamu ingin mencari aksi super taktis ala Arpeggio atau se-serius Gun Slinger Girls.